Sholat Tarawih Berawal dari Konsensus Para Sahabat

Ramadhan hari ke 4

Sholat Tarawih Berawal dari Konsensus Para Sahabat
Djoko Tetuko Abdul Latief

Oleh Djoko Tetuko

Sholat Tarawih bukan sekadar ibadah sunnah yang dilaksanakan secara kolosal dengan pancaran semangat ketaatan yang kuat. Lebih dari itu, Tarawih memiliki landasan historis yang kokoh karena berawal dari konsensus (ijma’) para sahabat Rasulullah SAW.

Selain menjadi amalan sunnah yang sangat dianjurkan, Sholat Tarawih merupakan ibadah malam di bulan Ramadhan yang memiliki keutamaan tinggi. Dalam ajaran Islam, Tarawih diyakini membawa ketenangan batin bagi siapa pun yang mengerjakannya dengan penuh kekhusyukan dan keikhlasan.

Sebagaimana diketahui, pelaksanaan Sholat Tarawih 20 rakaat secara berjamaah mulai ditetapkan pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab (13–23 H/634–644 M). Saat itu, Umar bin Khattab mengumpulkan kaum Muslimin untuk melaksanakan Tarawih berjamaah dengan Ubay bin Ka’ab sebagai imam. Kebijakan tersebut bertujuan menjaga persatuan umat dan mendapat persetujuan mayoritas sahabat.

Pada masa Nabi Muhammad SAW, sholat malam Ramadhan pernah dilakukan secara berjamaah, namun tidak berlangsung terus-menerus karena kekhawatiran akan diwajibkan. Setelah Rasulullah SAW wafat, kaum Muslimin melaksanakannya secara terpisah-pisah hingga kemudian disatukan kembali oleh Umar bin Khattab.

Praktik 20 rakaat ini didukung dan disepakati para sahabat tanpa ada penentangan yang berarti, sehingga dipandang sebagai ijma’ sahabat. Tradisi tersebut berlanjut pada masa kekhalifahan berikutnya, termasuk pada masa Ali bin Abi Thalib, dan menjadi pegangan jumhur ulama dari empat mazhab.

Dalam perkembangannya, pada masa Umar bin Abdul Aziz, jumlah rakaat Tarawih di Madinah pernah ditambah menjadi 36 rakaat. Namun demikian, praktik 20 rakaat tetap menjadi yang paling populer dan diamalkan secara luas hingga sekarang.

Sebagai pengingat, dalam kitab Durratun Nasihin disebutkan bahwa Sholat Tarawih pada malam ketujuh Ramadhan memiliki keutamaan besar, diibaratkan seperti berjumpa dengan Nabi Musa AS dan membantunya melawan Fir’aun serta Haman. Meski demikian, yang terpenting adalah menjadikan ibadah Tarawih sebagai wujud penghambaan yang tulus kepada Allah SWT.

Semoga setiap ibadah yang kita lakukan bukan semata-mata karena mengejar pahala, melainkan karena rahmat, taufik, hidayah, dan ridha Allah SWT. (*)