Walikota Ajak Warga Pilah Sampah dari Rumah Kunci Jaga Lingkungan Dengan Lahan Terbatas

Walikota  Ajak Warga Pilah Sampah dari Rumah  Kunci Jaga Lingkungan Dengan Lahan Terbatas
Foto: Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari  getol mengerahkan warga dan pejabat ASN kerja bhakti gotong royong massal di jalanan menuju TPA yang tercecer sampah, Senin (9/2/2026).

MOJOKERTO, WartaTransparansi.com –  Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari mengajak seluruh masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dengan memilah sampah sejak dari rumah tangga sebagai langkah fundamental menjaga kebersihan dan kualitas lingkungan kota.

Ning Ita  sapaan Walikota Mojokerto menyampaikan dengan luas wilayah Kota Mojokerto yang hanya sekitar 20 kilometer persegi, upaya menjaga kebersihan harus menjadi tanggung jawab bersama. Salah satu kuncinya adalah memaksimalkan peran rumah tangga dalam pemilahan sampah.

“Kota Mojokerto ini kecil, hanya sekitar 20 kilometer persegi. Maka ayo kita jaga bersama. Bagaimana kita memaksimalkan peran rumah tangga dalam memilah sampah sejak dari rumah,”tegas Ning Ita, dikonfirmasi  usai kunjungan pengelolaan sampah di negeri Sakura-Japan,  Senin, 9 Februari 2026.

Ning Ita mencontohkan praktik pengelolaan sampah di Jepang, di mana masyarakat telah terbiasa memilah sampah hingga belasan kategori. Namun demikian, Ning Ita menegaskan bahwa untuk Kota Mojokerto, masyarakat cukup memilah sampah ke dalam tiga hingga empat kategori saja.

“Sebenarnya ini mudah, asal kita punya niat dan membiasakan diri. Kalau sampah organik dan anorganik sudah terpilah sejak dari rumah, saya yakin tidak akan ada lagi bau sampah, dan lingkungan pun akan lebih berkualitas,” tegasnya.

Dijelaskan, sampah organik dapat dimanfaatkan menjadi kompos, sementara sampah anorganik dibawa ke TPS 3R untuk dipilah kembali. Sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi, lanjutnya, telah difasilitasi melalui kerja sama dengan pihak ketiga, yakni Rekosistem, yang memungkinkan sampah bernilai ekonomi untuk dikonversi menjadi manfaat finansial bagi masyarakat.

“Dengan begitu, yang masuk ke TPA hanyalah sampah anorganik yang benar-benar tidak bernilai ekonomi,” jelasnya.

Sementara secara infrastruktur, Ning Ita menegaskan bahwa pengelolaan sampah di Kota Mojokerto telah memadai. Saat ini tersedia 30 depo sampah, 10 Tempat Penampungan Sementara (TPS), 3 TPS 3R, serta 1 Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

“Dengan luas wilayah yang relatif kecil dan sempit,  fasilitas ini sebenarnya sangat mencukupi, asalkan warga mendukung dengan memilah sampah mulai dari rumahnya ” tambahnya.

Untuk itu Ning Ita mengajak seluruh warga untuk mulai dari diri sendiri dan lingkungan keluarga dalam membangun kebiasaan memilah sampah demi masa depan Kota Mojokerto.

Selain pemilahan sampah, ia juga mengimbau warga untuk menghidupkan kembali budaya gotong royong kerja bakti secara rutin di lingkungan masing-masing serta berani saling mengingatkan jika mendapati praktik pembuangan sampah sembarangan.

“Gotong royong itu penting, bukan hanya membersihkan lingkungan, tetapi juga menumbuhkan rasa memiliki. Jika melihat ada yang membuang sampah sembarangan, mari ditegur dengan cara yang baik,” pungkasnya. (*)

Penulis: Gatot Sugianto