Dalam pelaksanaan pekerjaan, LT diduga tidak memenuhi spesifikasi teknis sebagaimana kontrak dan melakukan keterlambatan pengiriman barang. Namun bersama dengan PPK/KPA, pembayaran tetap dilakukan seolah-olah pekerjaan telah rampung 100 persen tanpa pengenaan denda. Tindakan tersebut dinilai bertentangan dengan ketentuan hukum dan menjadi salah satu dasar penetapan tersangka.
Sempat Mangkir, Tersangka Ditemukan di Jakarta
John Franky mengungkapkan bahwa sebelum ditetapkan sebagai tersangka, LT telah dipanggil sebanyak tiga kali sebagai saksi namun tidak memenuhi panggilan penyidik. Upaya pencarian kemudian dilakukan hingga akhirnya LT ditemukan di kawasan Menteng Park Apartemen, Jakarta.
“Saudari LT akhirnya ditemukan di Menteng Park Apartemen, Jakarta, dan dibawa ke Kejaksaan Tinggi Jawa Timur untuk dilakukan pemeriksaan sebagai saksi,” ujarnya.
Dari hasil pemeriksaan tersebut, penyidik memperoleh bukti yang cukup untuk meningkatkan status LT menjadi tersangka. Untuk kepentingan penyidikan, LT ditahan selama 20 hari terhitung sejak 3 Februari 2026 hingga 22 Februari 2026 di Cabang Rutan Kelas I Surabaya cabang Kejati Jawa Timur.
“Kami langsung menahan tersangka di Rutan Kelas 1 Surabaya cabang Kejati Jatim,” tegas John Franky.
Kerugian Negara Tembus Rp157 Miliar, Penyidikan Terus Bergulir
Dalam perkara ini, Kejati Jawa Timur sebelumnya telah menetapkan beberapa tersangka lain, yakni JT, H, SR, HB, dan S. Secara keseluruhan, perbuatan para tersangka diduga mengakibatkan kerugian keuangan negara sebesar Rp157.603.093.098 dari belanja modal dan belanja barang serta jasa hibah.
Kejaksaan Tinggi Jawa Timur memastikan penyidikan belum berhenti dan akan terus dikembangkan untuk mengungkap kemungkinan keterlibatan pihak lain sekaligus mengupayakan pemulihan kerugian negara.
“Kami berkomitmen untuk menuntaskan perkara ini secara transparan dan akuntabel demi tegaknya hukum serta perlindungan anggaran pendidikan,” kata John Franky. (uud/min)





