Sosiolog UIN Madura: MTs Kyai Mudrikah Bukan Sekadar Institusi, tapi Agen Korektif Ketimpangan Struktural

Sosiolog UIN Madura: MTs Kyai Mudrikah Bukan Sekadar Institusi, tapi Agen Korektif Ketimpangan Struktural

Ia juga menyoroti inisiatif penyediaan fasilitas teknologi melalui konsep one student one laptop. Menurutnya, langkah tersebut tidak sekadar modernisasi sarana, melainkan strategi psikopedagogis untuk membangun kepercayaan diri dan kesiapan mental peserta didik menghadapi dunia digital.

“Bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, akses teknologi bukan hanya alat belajar, tetapi simbol pengakuan bahwa mereka setara secara potensial dengan anak-anak dari kelas sosial mana pun. Ini berkontribusi pada pembentukan self-efficacy dan motivasi intrinsik,” paparnya.

Dalam pandangan Muhlis, MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning merepresentasikan upaya mengintegrasikan nilai keislaman, keadilan sosial, dan literasi teknologi dalam satu ekosistem pendidikan. Tradisi pesantren dan teknologi tidak diposisikan sebagai dua kutub yang bertentangan, melainkan sebagai sumber pengetahuan yang saling melengkapi.

“Pendidikan agama tidak ditempatkan sebagai warisan masa lalu, tetapi sebagai fondasi etis untuk menghadapi tantangan masa depan,” ujarnya.

Model pendidikan semacam ini, lanjut Muhlis, sejalan dengan gagasan pedagogi transformatif, di mana pendidikan dipahami sebagai proses pembebasan, bukan sekadar reproduksi pengetahuan.

Dengan biaya yang terjangkau dan fasilitas yang disiapkan secara serius, madrasah ini berpotensi menjadi ruang belajar yang memanusiakan manusia.
Lebih jauh, keterlibatan aktif Kementerian Agama Kabupaten Pamekasan dalam proses monitoring dan verifikasi menunjukkan bahwa negara masih memiliki peran strategis dalam menjaga mutu dan arah pendidikan keagamaan. Namun demikian, ia menekankan bahwa kualitas pendidikan tidak semata diukur dari kelengkapan dokumen dan kepatuhan administratif, melainkan dari visi sosial dan nilai keberpihakan yang diusung lembaga pendidikan.

“Dalam konteks masyarakat Madura yang kuat dengan tradisi pesantren dan solidaritas komunal, MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning berpotensi menjadi simpul sosial baru—menghubungkan pendidikan, pengasuhan, dan pengabdian sosial dalam satu napas,” tegasnya.

Menurut Muhlis, madrasah semacam ini bukan hanya mencetak lulusan, tetapi membentuk generasi yang memahami bahwa ilmu pengetahuan harus berpihak dan teknologi harus beretika.
Akhirnya, pendirian dan pengajuan izin operasional MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning patut dibaca sebagai ikhtiar kolektif untuk mengembalikan pendidikan pada hakikatnya, yakni sebagai jalan pemanusiaan manusia.

“Di tengah krisis keadilan pendidikan, madrasah ini mengajukan tesis sederhana namun radikal: anak-anak miskin tidak membutuhkan belas kasihan, melainkan kesempatan. Pendidikan yang dikelola dengan visi sosial, psikologis, dan pedagogis yang utuh adalah bentuk kesempatan paling bermartabat,” pungkasnya. (rls/jt)