“Hanya kemudian yang utama memang di sini (tengah, red), karena disesuaikan dengan kesejarahan baru kemudian samping-sampingnya,” ucap Retno.
Tampak Gedung Negara Grahadi bagian barat hancur. Atap roboh, hanya tersisa tembok dan pilar yang masih berdiri kokoh. Kusen pintu maupun kusen jendela hangus.
Kata Retno, akan ada studi lanjutan mengenai perubahan bangunan apabila diperlukan.
“Nanti harus ada studi atau kajian terkait kecagarbudayaan, terkait nilai penting bangunan,” jelasnya.
Apabila ditemukan nilai penting atau nilai bersejarah bangunan pada bagian atap misalnya, maka tim ahli sejarah dan arkeolog akan memutuskan perubahan maupun perbaikan.
“Kalau hari ini kita masuk pada perlindungan ya supaya tidak lebih rusak lagi, kalau saat kobong kemarin penyelamatan. Ada bagian yang kita bisa kategorikan serpihan yang mungkin bisa kita selamatkan,” ujar Retno yang masuk sebagai tim arsitek ini.
Perlindungan pun tidak sembarangan, tim ahli cagar budaya sudah mengantongi assessment untuk menentukan bagian paling rawan yang harus dilindungi. Terkait jangka waktu, Retno belum bisa memastikan.
“Karena kita harus koordinasi dulu karena nanti harus melaporkan ke BPK Trowulan Mojokerto, kita harap bisa dipercepat karena nanti kita juga berkejaran dengan cuaca maupun kerusakan yang lain,” katanya.
Tim ahli cagar budaya provinsi maupun kota juga melibatkan Disbudporapar Surabaya dan Disbudpar Jatim, serta Dinas PU Cipta Karya. (min)





