“Semoga dengan adanya salah satu alternatif ini, bisa mengurangi sampah ke saluran dan mengurangi sampah yang kita buang ke TPA. Jadi bisa menjadi salah satu alternatif, solusi, yang bisa diimplementasikan di Kota Surabaya,” harapnya.
Sementara itu, Founder dan CEO Bumbi, Celia Siura menegaskan, bahwa Kecamatan Wonokromo dipilih menjadi lokasi pilot project untuk Bloomberg Philanthropies Mayors Challenge.
“Jika Wonokromo ini berhasil, akan direplikasi di seluruh Kecamatan Kota Surabaya. Yuk, sama-sama Surabaya bebas sampah popok dan pembalut,” imbuh Celia.
Ia juga menjelaskan, bahaya popok sekali pakai tidak hanya karena butuh 500 tahun untuk terurai, tetapi juga mengancam ekosistem sungai.
“Sungai itu kan juga sumber air buat kita yang dipakai PDAM,” tegasnya.
Selain berbahaya bagi kesehatan, penggunaan popok sekali pakai juga menambah beban ekonomi keluarga. Karena itu, Bumbi mendorong masyarakat beralih ke produk ramah lingkungan, termasuk popok dan pembalut yang bisa dipakai ulang.
“Ketika beralih ke popok bumbi atau popok pakai ulang, masyarakat itu tidak perlu membeli lagi popok sekali pakai. Satu penghematan, kedua mudah dicuci, ketiga bahannya dari katun itu bagus untuk kulit bayi, mengurangi ruam, infeksi kencing,” jelasnya.
Seperti pernah diberitakan, Kota Surabaya masuk dalam 50 finalis Bloomberg Philanthropies Mayors Challenge 2025. Di Asia Tenggara, hanya ada empat kota yang terpilih, yakni Pasig, Naga, dan Cauayan dari Filipina, serta Surabaya dari Indonesia.
Dalam kompetisi ini, Surabaya akan memperoleh pendanaan dan dukungan untuk memperkuat pengelolaan air bersih, limbah, sanitasi, pengembangan ekonomi, dan tenaga kerja. Salah satu fokusnya adalah mengatasi permasalahan limbah plastik berbahaya, khususnya popok sekali pakai yang mencemari sungai sekaligus membebani TPA. (*)





