Kamis, 29 Februari 2024
26 C
Surabaya
More
    OpiniMenghitung Martabat Umat ketika Tahun Baru

    Menghitung Martabat Umat ketika Tahun Baru

    Pergantian tahun dari 2023 ke 2024, sungguh adalah sesuatu keniscayaan, karena memang sunnatullah bahwa semakin lama dunia semakin tua, demikian juga usia manusia semakin bertambah. Derajat dan martabat manusia apakah termasuk level baik atau kurang baik (jelek). Padahal, semua manusia dengan penambahan usia, semua berkeinginan tetap menjadi manusia baik dan terbaik. Menjadi manusia dengan derajat tertinggi juga martabat terhormat dengan hiasan berbagai pangkat.

    Rasulullah Shollallahu Alaihi Wassalam memberikan garis garis besar dalam kehidupan manusia bahwa, “Manusia yang baik, apabila diberi tambahan usia, amalan kebaikannya semakin meningkat. Dan manusia yang jelek (kurang baik), apabila diberi tambahan usia, perbuatan jeleknya semakin meningkat”.

    Amal sholeh atau berbuat kebaikan adalah kunci dari derajat dan martabat manusia, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tersurat pada surat Al-Ashar, “Demi masa; sesunguhnya semua manusia dalam keadaan merugi; kecuali orang orang yang beriman dan beramal sholeh, serta mampu menyampaikan kebenaran juga tentang kesabaran”.

    Apalagi, penciptaan manusia semata-mata hanya untuk mengabdi atau beribadah. Sebagaimana firman Allah SWT pada surat Az Zariyat ayat 56, “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali beribadah (pengabdi) kepada-Ku”. Sehingga dalam berbagai kehidupan manusia harus semata mata untuk beribadah. Demikian juga ketika tahun baru tiba. Derajat dan martabat manusia akan menjadi baik atau kurang baik, kembali kepada perbuatannya. Beribadah kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Atau membiarkan mengikuti kendali nafsu untuk membiarkan melakukan perbuatan kejelekan atau sengaja membuat rugi diri sendiri serta orang orang di sekitarnya.

    Oleh karena itu, setiap pergantian tahun Rasulullah SWT mensunnahkan membaca doa, sebagai doa awal tahun, “Ya Tuhanku, Engkau yang Abadi, Qadim, dan Awal. Atas karuniaMu yang besar dan kemurahan-Mu yang mulia, Engkau menjadi pintu harapan. Tahun baru ini sudah tiba. Aku berlindung kepada-Mu dari bujukan iblis dan para walinya di tahun ini. Aku pun mengharap pertolongan-Mu dalam mengatasi nafsu yang kerap mendorongku berlaku jahat. Kepada-Mu, aku memohon bimbingan agar aktivitas keseharian mendekatkanku pada rahmat-Mu. Wahai Tuhan Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan.”

    Bahkan disarankan pada saat menjelang akhir tahun juga berdoa, doa akhir tahun tahun, “Ya Tuhanku, aku meminta ampun atas perbuatanku di tahun ini termasuk yang Engkau larang sementara aku belum sempat bertobat, perbuatanku yang Engkau maklumi karena kemurahan-Mu sementara Engkau mampu menyiksaku, dan perbuatan (dosa) yang Engkau perintahkan untuk tobat sementara aku menerjangnya yang berarti mendurhakai-Mu. Karenanya aku memohon ampun kepada-Mu, ampunilah aku. Ya Tuhanku, aku berharap Engkau menerima perbuatanku yang Engkau ridhai di tahun ini dan perbuatanku yang terjanjikan pahala-Mu. Janganlah pupuskan harapanku, wahai Tuhan Yang Maha Pemurah.”

    Tahun Politik

    Tahun 2024, di Negara Kesatuan Republik Indonesia, bertepatan dengan tahun politik. Karena digelar perhelatan politik terbesar yaitu, pemilihan umum memilih presiden dan wakil presiden. Juga wakil rakyat di Dewan Perwakilan Daerah RI (DPD RI), juga Dewan Perwakilan Rakyat RI (DPR RI), serta Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD, Provinsi dan Kabupaten/Kota).

    Bahkan jika salah satu calon presiden dan wakil presiden belum memenuhi sesuai ketentuan, memperoleh suara 50 persen plus, pada putaran pertama, maka Pemilu Presiden akan dilakukan pada putaran kedua 26 Juni 2024. Kemudian rakyat kembali memilih gubernur juga bupati /wali kota, pada November 2024.

    Lantas, bagaimana menghadapi tahun politik, dengan persaudaraan, persahabatan, pertemanan ada di mana-mana. Juga di antara mereka ada para calon legislatif, bahkan calon kepala daerah. Tentu saja semua tidak mudah, tetapi setidak-tidaknya berpegang teguh pada kalam Ilahi, InsyaAllah akan lebih nyaman dan aman. Apalagi semua aktivitas kita diserahkan dan dipasrahkan semata mata karena Ilahi Robbi.

    Sebagaimana garis haris besar kehidupan manusia yang termaktub pada sura An Nisa’ ayat 36,
    “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,”

    Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram, menafsirkan, ayat di atas sebagai berikut;

    Sembahlah Allah saja dengan cara tunduk kepada-Nya, dan jangan menyembah selain Dia. Berbuat baiklah kepada kedua orangtua dengan memuliakan dan berbakti kepada keduanya. Berbuat baiklah kepada karib kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Berbuat baiklah kepada tetangga yang memiliki hubungan kekerabatan dan tetangga yang tidak memiliki hubungan kekerabatan. Berbuat baiklah kepada sahabat yang menemani kalian. Berbuat baiklah kepada musafir yang kehabisan bekal di perjalanan. Dan berbuat baiklah kepada hamba-hamba sahaya kalian. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang suka membanggakan dirinya sendiri, sombong kepada sesama, dan gemar menyanjung dirinya sendiri secara angkuh di hadapan manusia”.

    Keperkasaan manusia menurut sudut pandang nafsu, memang seakan akan tiada batas. Karena nafsu dengan kendali diri hati suci (dapat mengikuti kehendak hati suci itu selalu mengabdi dan beribadah). Tetapi nafsu juga dengan kendali diri hati terkontaminasi atau tercampur keinginan jelek, (dapat berbuat semena mena, berbuat apa saja sesuai dengan kehendak hati yang terkontaminasi kesombongan, tercampur ambisi keangkuhan, dan perasaan merasa lebih hebat, lebih kuat, lebih sehat, dan lebih bermartabat).

    Padahal, kesombongan, membangga banggakan diri sendiri, menyanjung diri sendiri, adalah penyakit hati karena godaan nafsu keangkaramurkahan. Penyakit itu bisa merasuki siapa saja, termasuk calon presiden dan wakil presiden, calon wakil rakyat dari partai mana saja. Juga manusia dengan atau tanpa pangkat apa-apa. Mari melawan nafsu ini karena sebagaimana firman Allah, bahwa,
    “…..Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang suka membanggakan dirinya sendiri, sombong kepada sesama, dan gemar menyanjung dirinya sendiri secara angkuh di hadapan manusia”.

    Mari mengisi tahun baru 2024 ke depan, supaya tidak merugi dan tetap menjadi bagian memancarkan hati suci dengan amalan kebaikan, diberi kemampuan atas rahmat juga ridloNya menyampaikan kebenaran serta kesabaran. Karena sesungguhnya itulah yang menyelamatkan manusia tidak mengalami kerugian di dunia dan di akhirat. Menjadi bagian dari orang orang beriman dan beramal sholeh, serta mampu menyampaikan kebenaran juga tentang kesabaran.

    Bahkan ketika dunia semakin tua dan problematika sudah membumbung tinggi, Allah SWT mengajarkan doa sebagimana Nabi Ibrahim memanjatkan doa ini tersurat pada surat Asy-Syu’ara’ ayat 83-84, “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku ilmu dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang orang yang sholeh; dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian”. (*)

    Penulis : Djoko Tetuko

    Sumber : WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan