Eri juga menyadari bahwa berdasarkan undang-undang, fakir miskin dan orang terlantar itu adalah tanggungjawab negara. Namun, betapa hebatnya Surabaya apabila orang-orang yang memiliki rezeki lebih atau orang-orang yang mampu, bisa membantu orang yang kurang mampu, sehingga ada sinergi dan kolaborasi antara pemerintah dengan masyarakatnya.
“Ketika masyarakat yang mampu bisa membantu yang kurang mampu, maka pemerintah bisa menyentuh masyarakat lainnya. Insya Allah berkat Tuhan akan turun kalau sudah seperti ini. Surabaya akan mencapai kebahagiannya dan kesejahteraannya kalau sudah seperti ini, karena masyarakat yang kurang mampu tidak hanya disentuh oleh pemerintahannya, tapi juga masyarakatnya yang ikut peduli,” ujarnya.
Perwakilan dari Dapur Kita, Armita, mengaku siap apabila tempatnya dijadikan laboratorium penyelesaian masalah permakanan di Kota Surabaya. Sebab, dia bersama tim lainnya di Dapur Kita memang memiliki mimpi untuk bisa membantu sesama yang kurang mampu, termasuk membantu anak stunting.
“Awalnya kita punya mimpi untuk bisa membantu sesama, dan kebetulan karena dekat dengan kelurahan, kita bertemu lurah dan Pak Camat, ternyata di pemkot itu ada program permakanan baik kepada lansia dan juga anak stunting. Dari situlah kita akhirnya bisa berkolaborasi. Kami sangat terbantu. Karena yang awalnya bingung untuk menyalurkan bantuan, tapi ternyata mereka sudah punya data base siapa saja yang berhak menerima bantuan permakanan itu,” katanya.
Oleh karena itu, ia mengaku semakin semangat untuk terus berbagi. Bahkan, rencananya ke depan pihaknya akan membuat permakanan dua kali dalam seminggu untuk lansia dan anak stunting.
“Saya yakin kalau ini niatnya hanya untuk membantu bukan tujuan lain, pasti Tuhan akan menambah. Mungkin ada donatur lain yang ingin terlibat kami persilakan,” ujarnya. (*)





