Jumat, 26 Juli 2024
26 C
Surabaya
More
    Jawa TimurSurabayaEddy Rumpoko : Tugas Pj Kota Batu Adalah Menata Aparatnya Sendiri

    Eddy Rumpoko : Tugas Pj Kota Batu Adalah Menata Aparatnya Sendiri

    SURABAYA (WartaTransparansi.com) – Pasangan Walikota Batu Dewanti Rumpoko dan Wakil Walikota Panjul Santoso  akan mengakhiri masa jabatannya pada Selasa, tanggal 27 Desember 2022. Untuk selanjutnya, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menunjuk  penjabat (Pj) Walikota.

    Lalu bagaimana respon mantan walikota Batu periode 2007-2017 Eddy Rumpoko. Kepada media ini, Eddy menyatakan, untuk mengisi kekosongan Walikota, Gubernur Jawa Timur tentu saja sudah mengajukan nama nama ke Mendagri. Siapapun yang ditunjuk  tidak ada masalah.

    Namun ia menyarakan bahwa penjabat baru nanti harus memiliki kualifikasi bagus sesuai yang dibutuhkan masyarakat Batu.

    “Yang dibutuhkan masyarakat saat ini justru penjabat yang bisa menata  internalnya mulai eselon lV sampai eselon l dan ASN (Aparatur Sipil Negara),” ujar Edy.

    Seperti diketahui bahwa Dewanti Rumpoko dan Panjul Santoso dilantik sebagai Walikota Batu 27 Desember 2017 dan berakhir pada 27 Desember 2022.  Usia Pj Batu sampai terpilihnya walikota definitif hasil Pilkada serentak, November 2024 nanti.

    Dalam perbincangan santai di Semarang, Eddy menyatakan, perkembangan kota Batu sangat luar biasa. Pertumbuhan ekonomi yang sudah demikian pesat,  pemerintah pusat hendaknya tidak  asal tunjuk. Penjabat kota Batu harus memiliki beberapa kreteria yakni IKI (inisiatif, kolaborasi, inovatif), punya jam terbang serta memahami betul masyarakat Batu. Terpenting penjabat baru nanti mampu menata SDM (Sumber Daya Manusia) dilingkup Pemkot Batu.

    Baca juga :  SWL Akan Dibangun Dipesisir Timur Surabaya

    Ini mengingatkan bahwa kota Batu dari sisi ekonomi cukup maju dimana kekuatan APBDnya sudah mencapai Rp1,198 triliun dan penerimaan PAD nya mencapai Rp 205 miliar. Kekuatan PAD kota Batu bersumber dari sektor pariwisata.

    Pejabat dan ASN  dilingkungan Pemkot Batu perlu lebih ditingkatkan lagi. ASN Batu harus benar benar memiliki etos kerja yang baik. Mainset mereka harus dibentuk sebagai  pelayan masyarakat bukan sebaliknya.

    Untuk memberikan layanan sampai ditingkat paling bawah, juga tidak harus menambah pegawai melainkan memaksimalkan pegawai dengan bekerja lebih efektif dan efisien.

    “Menambah pegawai itu malah akan menjadi beban anggaran. Sementara kota Batu berdasarkan sensus penduduk tahun 2020 hanya berpenduduk 213.000. Jumlah penduduknya saja hanya segitu, lalu apa yang akan diurus,” tegas Eddy Rumpoko, pria jangkung berkacamata ini.

    Saat ini pegawai honorer sangat banyak, yang berarti beban anggaran juga makin berat. Kedepan tidak perlu lagi ada rekruitmen pegawai.

    Baca juga :  Kisruh di PWI Pusat, Puluhan Wartawan Jatim Tuntut KLB

    Ditegaskan, bahwa peningkatan  kualitas dan kinerja ASN ini menjadi penting sebab di era digitalisasi, masyarakat tidak harus datang ke kantor layanan. Semua layanan sudah melalui layanan elektronik. Birokrat juga harus mengikuti dan tau teknologi informasi.

    Dulu, kata Eddy Rumpoko, saya selalu menekankan agar pejabat Kota Batu tidak gebyar secara personal. Misalnya mobil dinas harus baru, mobil kepala dinas lebih dari satu. Ini adalah bentuk bentuk pemborosan. “Kalau bisa dijangkau dengan sepeda motor kenapa harus mobil,” tandasnya.

    Contoh lain adalah tidak efektifnya tugas SatpolPP. Masak mobil Satpol PP setiap hari hanya parkir di alun alun. Padahal di Batu ada Jatim Park, sentra sentra ekonomi yang sudah menyebar sampai pelosok desa juga perlu pengayoman dan perlinduangan. Kata Eddy mengenang ketika masih aktif menjabat.

    Dalam sebuah diskusi dengan Pakde Karwo (Gubernur Soekarwo,red), Pakde Karwo berkeinginan agar semua jalan didalam kota maupun menuju kota Batu dilebarkan. Dengan memotong pohon pohon dan memindahkan rumah penduduk. Tujuannya, untuk menunjang Batu sebagai kota wisata. Pemprov Jawa Timur saat itu, juga siap untuk membantu pendanaanya.

    Pikiran pakde itu tidak salah dan bagus setelah  melihat potensi wisata di Batu kedepan. Tapi saya tidak setuju. Mengapa, ya karena harus memotong pohon pohon pinggir jalan dan menggusur rumah penduduk. Saya kekeuh bahwa membuat Kota Batu menjadi tujuan wisata, cukup bagaimana jalan ditata dengan rapi dan bersih.

    Baca juga :  Pemkot Surabaya Bebaskan Pembayaran PBB dengan NJOP di Bawah Rp100 Juta

    Kemacetan arus lalulintas di Batu diyakini akan memberikan efek ekonomi local yang bagus. Harapannya, mereka bisa sejenak istirahat dan mampir minum di warung, bahkan bisa berlama lama istirahat di Batu dan sebagainya.

    Dampak yang bisa dirasakan saat ini adalah geliat ekonomi perdesaan dimana warga punya usaha. Rumah dipinggir jalan bisa buka kuliner. Ekonomi masyarakat meningkat, bisa menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi, punya kendaraan.

    Lalu dimana peran Pemerintah. Menurut Eddy Rumpoko, tugas pemerintah kota Batu yakni memberikan fasilitas, membantu modal, mempermudah kredit bank, memberikan inovasi, membantu promosi melalui e-digital, mempermudah regulasi berusaha. Ini saja sudah cukup.

    Pembangunan fisik relative tidak diperluakan karena investor akan datang sendiri dan berinvestasi sesuai potensi Kota Batu.

    “Saya dulu membangun gedung kantor berlantai 7, itu harapannya semua ormas bisa berkantor disitu. Paguyuban UMKM maupun Kartar (Karang Taruna) jadi satu. Semangatnya agar kantor pemerintah bisa lebih hidup. Tapi sekarang mereka sudah pindah semua. (*)

    Reporter : Amin

    Sumber : WarrtaTransparansi.com

    COPYRIGHT © 2022 WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan