SURABAYA (WartaTransparansi.com) – Seringkali musik metal atau musik cadas diidentikkan dengan citra negatif, gaya hidup keras, atau kerusuhan. Namun, siapa sangka stereotip ini ditepis keras oleh seorang penikmat setia dari Surabaya, Keniru (Nia), seorang wanita berusia 54 tahun yang tampil santun dalam balutan hijab. Ibu rumah tangga ini berbagi pandangan mendalam mengenai idealisme dan etika komunitas musik ekstrem.
Nia, yang akrab disapa Keniru di media sosial, mengungkapkan kecintaannya pada genre ini sejak kelas 3 SMP, sekitar tahun 1988 atau 1989. Hingga saat ini, di usia 54 tahun, ia tetap menjadi penggemar aktif.
Keniru sering menghadiri festival musik ekstrem bersama rekan-rekannya sesama wanita, salah satunya 51 Fest di Surabaya dengan bintang tamu Stillbirth, Band Metal Jerman. Menurutnya, band-band yang tampil di acara tersebut menyajikan genre yang “perfect” atau sempurna untuknya.
“Saya lebih senang musiknya mereka. Musik mereka itu nyaman buat saya,” ujar Nia, menegaskan bahwa kecintaannya pada musik metal bukan karena ingin terlihat berjiwa muda”, di sebuah Caffe dan restoran yang berlokasi di Jalan Sumatra no 40, Gubeng, Surabaya, Jum’at malam, 28 November 2025.
Ia secara spesifik menyukai beberapa sub-genre seperti Old School Death Metal, Brutal Death Metal, Slamming, dan Hardcore. Beberapa band Old School Death Metal favoritnya termasuk Dying Fetus, Suffocation, Cannibal Corpse, dan The Pelling Flesh.
Keniru menyoroti perubahan positif dalam komunitas metalhead saat ini. Ia menekankan pentingnya sikap (attitude) sebagai kunci menepis stigma negatif.
Ia juga membandingkan kondisi saat ini dengan masa lalu.
“Anak metal itu tidak kayak dulu. Sekarang tidak ada [tawuran], justru mereka moshing [gerakan menikmati musik metal] tapi tidak ada keributan,” jelasnya.





