Sabtu, 13 Agustus 2022
24 C
Surabaya
More
    PendidikanProf. Zainudin Maliki: Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar Terkendalan Sarana Penunjang

    Prof. Zainudin Maliki: Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar Terkendalan Sarana Penunjang

    JAKARTA (WartaTransparansi.com) – Anggota Komisi X DPR RI Zainuddin Maliki mengatakan, implementasi Kurikulum Merdeka Belajar masih terkendala sarana penunjang, terutama Information Technology (IT).

    Hal itu disebabkan Kurikulum Merdeka Belajar itu punya konsentrasi pengembangan pembelajaran yang memang fleksibel, tetapi kemudian ketergantungannya terhadap IT akses internet itu menjadi lebih kuat.

    “Nah (akses internet) menjadi kebutuhan utama bag penyelenggara atau guru sekolah-sekolah,” kata Prof. Zaindin Maliki ketika melakukan kunjungan ke Palembang, Sumatra Selatan dalam rilisnya yang diterima media ini.

    Dikatakan implementasi Kurikulum Merdeka Belajar ini menjadi terdepan. Namun diwilayah  terpencil dan tertinggal (3T) yang belum memiliki akses internet. Dari segi konsep memang kurikulum ini menempatkan sumber belajar itu tidak hanya terbatas pada guru bahkan tidak hanya terbatas pada buku, tapi yang ingin dipelajari itu adalah kehidupan itu sendiri yang luas,” kata Zainuddin.

    Baca juga :  Pemprov Jatim Seleksi 59 Calon Peserta Beasiswa LPPD Tahap ll

    Menurut politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini, misalnya dalam kurikulum tersebut jika belajar tentang ekonomi dengan pendekatan utility memanfaatkan pasar, jadi para siswa-siswi langsung terjun ke pasar atau kalau tidak bisa disimulasikan saja. Nah, kalau mensimulasikan itu kan butuh teknologi, disinilah kelemahan dari implementasi dari Kurikulum Merdeka Belajar ini yang dijalankan oleh sekolah penggerak.

    Kalau sekolah penggerak kita tahu telah dijalankan di sekolah-sekolah yang bagus, kalau evaluasinya yang disampaikan oleh Kemendikbud dengan menjalankan program  Kurikulum Merdeka Belajar terjadi peningkatan prestasi belajar.

    Capaian literasi angkanya menjadi 570, sedangkan saat menerapkan kurikulum 2013 hanya mencapai angka 532, setelah terkena pandemi turun lagi menjadi 482.

    Baca juga :  Pemprov Jatim Seleksi 59 Calon Peserta Beasiswa LPPD Tahap ll

    “Dengan menerapakan kurikulum ini memang ada peningkatan capaian literasi, akan tetapi hanya di sekolah-sekolah yang SDMnya sudah baik,” terang legislator daerah pemilihan (dapil) Jawa Timur X ini.

    Zanuddin menerangkan, untuk para guru yang menjalankan kurikulum merdeka belajar ini di Palembang sudah mendapatkan bimbingan, pendampingan atau pelatihan tetapi yang mereka keluhkan adalah sarana penunjangya terutama adalah IT.

    “Yang harus kita antisipasi adalah daerah-daerah yang masih belum bisa mencukupi guru yang kompeten dan sarpras dukungan sumber belajar itu yang perlu kita pelajari,” ujarnya. (din/sr)

    Reporter :

    Penulis :

    Editor:

    Redaktur :

    Sumber : WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan