Sabtu, 13 Agustus 2022
24 C
Surabaya
More
    Pojok TransparansiKetika Eri Cahyadi Ingin Hidupkan Kembali TRS Menjadi Ikon Surabaya

    Ketika Eri Cahyadi Ingin Hidupkan Kembali TRS Menjadi Ikon Surabaya

    TAMAN Remaja Surabaya (TRS) berlokasi di Jalan Kusuma Bangsa, pernah menjadi ikon destinasi wisata di Kota Pahlawan. Puluhan wahana permainan untuk anak-anak dan remaja, tersedia di TRS. Tak jarang, TRS juga menjadi tempat kegiatan berkesenian bagi pelajar SD-SMP-SMA di Surabaya dalam mengekspresikan kegiatan mereka dalam berkesenian. Sayang, nasib berkata lain. TRS terpuruk. Di tahun 2018, Pemkot Surabaya pun resmi menyegel TRS. Dan kini, Wali Kota Eri Cahyadi ingin menghidupkan kembali TRS sebagai destinasi wisata sekaligus menjadi ikon Surabaya.

    Sejatinya, kontrak PT Star sebagai pengelola TRS berlaku hingga tahun 2026. Namun, Wali Kota Surabaya saat itu, Tri Rismaharini, ngotot menutup TRS. Alasannya, Pemkot Surabaya merugi. Akhirnya, tahun 2015, digelar rapat umum pemegang saham (RUPS). Hasilnya, TRS ditutup.

    Meski telah ada hasil RUPS, namun TRS tetap beroperasi. Bersamaan dengan itu, PT Star juga  tidak diam dengan keputusan RUPS. Menilai ada keanehan dengan ngototnya Risma untuk menutup TRS. Sebab, sejauh itu, sebagai pengelola, PT Star telah memenuhi semua kewajiban baik dividen maupun pajak kepada Pemkot Surabaya. Namun, Pemkot tetap saja mengusulkan agar pengelola TRS dibubarkan.

    Sebelum RUPS tahun 2015, sejak tahun 2013, Pemkot Surabaya sudah melayangkan surat berisi usulan pembubaran PT Star. Menjawab surat tersebut, PT Star melayangkan surat balasan untuk membicarakan hal itu. Di tahun 2014, PT Star kembali mengirim surat untuk audiensi, hingga beberapa kali. Tapi, hasilnya sama saja. Tidak ada respon Pemkot Surabaya.

    Masalah itu juga sempat dibawa ke DPRD Surabaya. Lagi-lagi, tidak ada solusi. Padahal, PT Star berani menjamin,  karena selama itu pihaknya tidak pernah merugi. PT Star melakukan semua kewajiban dividen terhadap pemkot Surabaya. Membayar pajak dan retribusi parkir dan lainnya. PT Star selalu memberikan audit report setiap tahunnya.

    Setelah RUPS dinyatakan sah, pada tahun 2018, akhirnya Pemkot Surabaya buka suara bahwa persoalan sebenarnya menyangkut proporsi kepemilikan saham yang dinilai tidak berimbang dengan nilai tanah aset Pemkot Surabaya yang ditempati TRS.

    TRS dan PT Star sebagai pengelola TRS dibentuk atas dasar perjanjian kerja sama antara Pemkot Surabaya dengan Far East Organization (FEO), sebuah perusahaan properti swasta asal Singapura bertahun-tahun silam.

    Perjanjian kerja sama antara Pemkot Surabaya dengan FEO ini bermula sejak 1970-an. Komposisi saham Pemkot hanya 30 persen menurut perjanjian awal tahun 1970-an itu.

    Saham dimiliki Pemkot Surabaya atas TRS sebesar 37,5 persen. Sedangkan sisanya dimiliki FEO. Tahun 1997, perjanjian itu diperpanjang oleh wali kota terdahulu (Bambang DH), berlaku mulai 2006 hingga 2026.

    Pada 2006, PT Star mengajukan perpanjangan Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) di atas Hak Pengelolaan (HPL) ke Pemkot Surabaya.  Namun, saat pemkot membandingkan nilai saham atas TRS dengan nilai tanah aset, ternyata tidak imbang. Itulah alasan pemkot tidak melanjutkan perjanjian dan tidak memperpanjang HGB di atas HPL.

    Inilah yang kemudian menjadi jalan buntu koordinasi. Karena upaya PT Star untuk audiensi, tidak digubris oleh Pemkot Surabaya, hingga akhirnya di tahun 2018, Pemkot Surabaya resmi menyegel TRS. Penyegelan itu pun diklaim pemkot karena izin usaha pariwisata TRS juga sudah mati. Yakni, Tanda Daftar Usaha Pariwisata (TDUP) TRS yang diklaim pemkot sudah habis  sejak 27 Agustus 2018. Itu telah melanggar Perda kota Surabaya nomor 23 tahun 2012, tentang Kepariwisataan.

    Kini, Wali Kota Eri Cahyadi punya keinginan untuk menghidupkan kembali gelanggang TRS yang memiliki lahan seluas 16,9 hektar itu.

    Keinginan tersebut muncul setelah adanya rencana untuk mengkoneksikan gedung Hitech Mall dan kompleks kesenian Taman Hiduran Rakyat (THR).

    “Ke depan memang kita kembalikan lagi. Hitech Mall ini juga ada gedung kesenian, Taman Remaja Surabaya. Maka ketika membangun konsep ini bisa jadi satu, itu tidak bisa terpisah-pisah,” kata Eri, Senin (11/4/2022).

    Eri mengaku heran, Surabaya sebagai Kota besar, tapi tidak ada keseniannya. Padahal, Surabaya punya ludruk, tarian dan berbagai kesenian lainnya. Karena itu, ia mengatakan, bahwa Surabaya harus punya gedung kesenian yang dikoneksikan dengan gedung Hitech Mall.

    Untuk itu, Eri pun berencana membangun kembali TRS sebagai tempat ruang terbuka untuk aktivitas kesenian. Bagaimana TRS menjadi pusatnya anak pelajar SD – SMP menampilkan bakat berkesenian.

    “Kita akan membangun TRS tetap menjadi tempat terbuka untuk pentas anak-anak SD-SMP yang seperti dulu. Karena ini sejarah, jangan sampai dilupakan. Jadi untuk tempat berkesenian memang kita fokuskan ke sana, selain di Balai Pemuda,” tandasnya.

    Untuk mendukung pembangunan TRS itu, Eri mengaku bakal mengundang investor. Sebab, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Surabaya tidak akan cukup jika digunakan untuk membangun semuanya.

    “Intinya bagaimana semua itu bisa bergerak, untuk kesenian, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) IT dan masyarakat Surabaya, termasuk Hitech Mall. Kejayaan seni budaya harus kita kembalikan lagi,” harapnya.

    Sejak resmi disegel tahun 2018, TRS yang sempat menjadi primadona, telah menjadi sebuah kenangan. Sudah terlupakan.  Upaya pemkot untuk mencari investor baru, tak juga berhasil. Bahkan hingga saat ini, belum juga ada investor yang tertarik.

    Namun, keinginan kuat Eri untuk menghidupkan kembali TRS, menjadi sebuah harapan baru untuk warga Kota Surabaya khususnya, masyarakat Jatim pada umumnya. Menjadi harapan anak-anak kita untuk kembali bisa mengekspresikan kemampuan mereka dalam berkesenian, dan bahkan kegiatan sekolah lainnya. Semoga terwujud. **

    Reporter :

    Penulis : wetly

    Editor:

    Redaktur :

    Sumber : WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan