Rabu, 22 September 2021
33 C
Surabaya
More
    LifeStylePak Yitno Ditangkap di Singapura Bawa M16

    Pak Yitno Ditangkap di Singapura Bawa M16

    Oleh:  Amang Mawardi 

    Dibanding sejumlah teman wartawan yang beberapa kali ke luar negeri, saya tergolong paling jarang. Itu pun bukan karena tugas jurnalistik, melainkan tergabung dalam misi kesenian ke Australia (Perth, Fremantle, Brisbane, Ipswick) tahun 1995,1996, 2004; Malaysia (Kuala Lumpur, Melaka) 2001, 2002; Singapura 2001, 2002; Thailand (6 provinsi) 1997, 2002.

    Sekitar tahun 1984 saya pernah usul kepada petinggi koran di mana saya bekerja saat beliau berkunjung ke kantor perwakilan di Surabaya.

    “Pak, ‘mbok’ teman-teman di Surabaya sekali-kali diberi penugasan ke luar negeri ?”

    Apa jawab beliau?

    “Oke, Anda berangkat seminggu lagi. Segera urus paspor! ”

    “Kemana, Pak? ”

    “Segi Tiga Emas! Kita bulan ini ada program ke sana !”

    Saya lantas anti-klimaks. Ekspektasi saya buyar.

    Pikiran saya, kalau ngasih penugasan anak buah yang belum pernah ke luar negeri ‘mbok yao’ yang turistik, misal ke Singapura atau Kuala Lumpur. Lha ini ke perbatasan Thailand, Burma, Laos — kawasan perkebunan opium yang dalam bayangan saya sungguh menakutkan dengan sekian ratus penjaganya bersenjata api. Bakal menembus kantong-kantong jaringan narkotika sarat bahaya. Apalagi jika mengingat English saya yang amburadul.

    Berbeda dengan situasi sekarang, kabarnya kawasan tersebut sudah jadi destinasi wisata.

    Pernah saya baca di Majalah ‘Kartini’, salah satu wartawatinya yang juga penulis sastra — Lastri Fardani Sukarton, untuk meliput kawasan ‘golden three angle’ tersebut menyewa helikopter dan dikawal beberapa pria berbadan tegap. Waktu itu suami Mbak Lastri yaitu Laksamana Muda Sukarton masih menjabat Jaksa Agung.

    Sejak saat itu hingga saya tidak lagi bergabung dengan institusi pers tadi pada tahun 1987 — dilanjut ganti berkarier di sejumlah media cetak lain– belum pernah satu kali pun saya ke luar negeri dalam rangka tugas jurnalistik.

    Kalau saya pergi ke sejumlah kawasan di 4 negara tersebut, karena tergabung dalam aktivitas kesenian.

    Atau manakala dikaitkan perkara kuantitatif yang bersinggungan dengan ibadah haji pada tahun 2014, berarti sudah 5 negara yang pernah saya kunjungi hingga saya berusia 68 tahun ini.

    Namun ‘output’ dalam rangkaian misi kesenian tersebut saya manifestasikan dalam karya-karya jurnalistik yang dimuat di sejumlah koran dan majalah yang lantas saya bukukan dengan judul ‘Dalam Lintasan Seni’ (penerbit Henk Publica, 55 judul – 255 halaman) yang diberi pengantar oleh tokoh pers Dahlan Iskan.

    Sebagian peserta Tim Muhibah Bengkel Surabaya tahun 2002, di Rumah Teater Universiti Putra Malaysia — Sam Abede Pareno, (alm) Bawong SN, Meimura, Amang Mawardi, Amir Kiah, Oki Lukito, Aribowo.

    Dalam sekian muhibah seni ke manca itu, yang menarik buat saya ketika mengikuti pentas teater tanpa kata “Adu Domba” yang disutradarai (alm) Bambang Sujiyono, diproduksi komunitas seni Bengkel Muda Surabaya pada tahun 2002.

    Selain melibatkan sejumlah seniman relatif banyak –32 orang– juga lamanya waktu muhibah yaitu 3 minggu, melintasi 3 negara (Malaysia,Thailand, Singapura) dengan jalan darat: Kereta api, bus ber-AC, bus bumel non-AC/bus yang berhenti saat dicegat penumpang di sembarang tempat, pick up dan mini bus. Kecuali pada titik keberangkatan dan kepulangan di bandara Juanda dan bandara Kuala Lumpur –tentu– menggunakan pesawat terbang.

    Selain mementaskan teater tanpa kata “Adu Domba” di Singapore Expo atas sponsor Persatuan Wartawan Melayu Singapura, juga berdiskusi tentang teater-puisi-budaya di kampus Universiti Putra Malaysia, Kuala Lumpur. Selebihnya mengunjungi situs-situs budaya di Melaka dan Bangkok.

    (Sebelumnya, pada tahun 1997 saya bergabung dengan Yayasan Seni Surabaya pimpinan Cak Kadar dan Teater Keliling yang diketuai Dery Sirna ‘tour show’ 6 provinsi di Thailand, menyuguhkan pementasan tari dan teater, dalam rangka peringatan ulang tahun penobatan Raja Bhumibol Adulyadew ke-50).

    Di 3 negara ASEAN tersebut, rangkaian perjalanan darat Teater Bengkel Muda Surabaya dengan rute:

    I. Kuala Lumpur-Melaka- Kuala Lumpur-Hat Yai- Songkhla-Hat Yai- Bangkok.

    II. Bangkok-Surathani- Alor Setar-Johor Baru- Singapura.

    III. Singapura-Kuala Lumpur.

    Lantas terbang ke Tanah Air. Pulang.

    Yang mengesankan, sehabis menyelesaikan rute I Kuala Lumpur-Hat Yai-Songkhla-Hat Yai-Bangkok selama 2 hari 2 malam dengan kereta api disambung mini bus dan bus malam, pagi hari setiba di sebuah hotel di Bangkok, di lobby — kami “disuguhi” ‘head line’ koran-koran berbahasa Inggris dan berhuruf Thai plus foto-foto mengerikan tragedi Bom Bali I. Miris. Prihatin.

    Kami tiba di hotel tersebut sehari setelah bom meledak di Sari Club dan Padi Cafe, Denpasar tanggal 12 Oktober 2002.

    Juga berita-berita tentang (dugaan) keterlibatan 2 orang Indonesia dalam jaringan terorisme international –salah satunya pernah tinggal di Malaysia– baik yang kami baca melalui sejumlah koran yang terbit di negara-negara tersebut maupun dari siaran televisi yang kami tonton di kamar hotel.

    Sejak itu muncul pasang surut rasa was-was pada sejumlah anggota rombongan campur aduk dengan kondisi tubuh capek karena perjalanan darat itu.

    Saat melalui rute II Bangkok-Surathani-Alor Setar-Johor Baru-Singapura, banyak kejadian unik yang kami alami. Dan yang terheboh pada ‘check point’ Singapura sesudah ‘check point’ Johor Baru, Malaysia.

    Di ‘check point’ tersebut, saat pemeriksaan paspor dan barang-barang bawaan, di situ terbagi (kalau tidak salah) dalam 4 lajur. Rombongan kami antre menempati dua lajur.

    Di salah satu lajur yang kami antre, saat pemeriksaan tiba pada giliran (alm) Khusnul Huda Soleh, petugas imigrasi di situ memerintahkan dengan suara keras agar sejumlah orang dari rombongan kami yang ada pada sisa antrean untuk keluar dari lajur. Dan ‘ndilalah kersaning Allah’ lha kok nama-nama di paspor kami kearab-araban, seperti Farid Syamlan, Achmad Zainuri, Zarir Sururi dan saya yang berada di antrean terakhir.

    Kami diperiksa khusus. Ada apa ini kok orang-orang Indonesia masuk ke Singapura jumlahnya banyak dalam satu rombongan, begitu intinya.

    Lantas sebagai pelaksana produksi muhibah ini, saya tunjukkan undangan dan surat-surat dalam bentuk ‘print out’ email dan faksimili dari Persatuan Wartawan Melayu Singapura serta dari seorang mantan wartawan di Bangkok salah satu jaringan (Prof. Dr.) Sam Abede Pareno selaku pemimpin rombongan. Juga katalog muhibah kami, berisi sipnosis pertunjukan dan biodata 32 orang pemain serta kru. Akhirnya beres. Kami dilepas.

    Baru saja bernafas lega setelah diperiksa khusus itu, tiba-tiba Ipung (Syaiful Arif) salah satu anggota rombongan kami yang telah lolos pemeriksaan yang ada di lajur satunya, berteriak “Yitno ditangkap! Yitno ditangkap! “, lantas jari telunjuknya mengarah ke satu ruangan tak jauh dari lajur-lajur pemeriksaan. “Di bawa ke situ! Ke situ! “.

    Saya tenang saja, karena sudah perkirakan hal Pak Suyitno staf sekretariat Dewan Kesenian Surabaya yang sering menangani bagian properti kala kami pentas, bakal menimbulkan “preseden”. Entah di titik mana nantinya.

    Salah satu properti drama tanpa kata “Adu Domba” adalah replika senapan M-16 dalam skala 1:1 yang terbuat dari gabus/sterofoam tebal. Saat dilewatkan sabuk berjalan dan melewati pemindai tentu tidak menimbulkan bunyi alarm. Replika M-16 yang dibikin penata artistik Amir Kiah ini bentuknya persis yang asli.

    Di layar monitor secara siluet terlihat mirip bedil M-16 meski mungkin tidak sejelas jika yang melalui pemindai itu M-16 asli yang terbuat dari logam.

    “Senapan” tersebut diletakkan dalam kardus yang lantas dibuntal kertas koran.

    Pemeriksaan ini sampai diulang 3 kali, tetap tidak membunyikan alarm. Pak Yitno pun sudah bilang ke aparat di situ bahwa salah satu barang bawaannya cuma bedil-bedilan untuk pentas drama. Tetap saja Pak Yitno dibawa oleh dua orang petugas ke ruangan tersebut, untuk diperiksa secara njelimet. (*)

    Reporter : Hidayati Firli
    Penulis :
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber : WartaTransparansi.com

    KOMENTAR

    Berita Menarik Lainya

    Jangan Lewatkan