Dan Allah sudah mengingatkan faktor-faktor yang bisa merobohkan ukhuwah itu. Hal itu tertulis di Quran Al Hujurat ayat 11-12. (Monggo ngaji).
Tidak ada Islam tanpa jamaah. Binalah jamaah. Partikel jamaah paling kecil adalah keluarga. Aktulisasikan pasukan Ibrahim-Hajar-Ismail di dalam keluarga kita. Bukankah setiap tasahut akhir kita sampaikan salam untuk Ibrahim dan keluarganya?
“Wahai orang-orang beriman. Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (Quran: At Tahrim 6).
Hajar-Hajar Baru
Fenomena aktual di jaman now ini adalah tumbuhnya Hajar-Hajar baru. Dimulai dengan perlawanan terhadap revolusi feminisme. Revolusi feminisme adalah gerakan massif dan global yang diklaim untuk mengangkat harkat dan martabat wanita.
Tapi yang sejatinya terjadi justru sebeliknya. Sangat mengarah kepada terkoyak-koyaknya harkat dan martabat wanita.
Pendukung revolusi feminisme kini sudah terkena efek baliknya. Mulai dari merebaknya LGBT, mandul, tersingkirnya pernikahan secara agama, menurunya fertilitas penduduk, tercabik-cabiknya nilai keluarga.
Tiba-tiba para wanita muslimah melakukan revolusi pakaian dengan mengenakan pakaian yang menutup aurat. Ini antitesis terhadap revolusi feminisme yang menghendaki wanita “telanjang” di ranah publik.
Tiba-tiba gegap gempita membentuk majelis taklim. Melakukan pelbagai gerakan sosial dan sedekah. Seperti Hajar, mereka harus bergerak. Dinamis. Tapi pergerakannya tetap pada porosnya yaitu kodrat sebagai wanita. Mencari ridha Allah.
Wanita muslimah tiba-tiba melakukan kontra revolusi feminisme dengan memberdayakan fungsi seorang ibu sebagai pendidik anak-anaknya. Menjaga kehormatan rumahnya. Mengundang rahmat Allah di rumahnya. Semua dibingkai dalam benang merah cintanya kepada Allah.
Ada gelombang dahsyat kesadaran emak-emak muslimah untuk menyiapkan generasi penerus yang mencintai Allah dan dicintai Allah. Generasi saleh yang akan menjadi pewaris sah bumi.
“Wahai orang-orang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum. Dia (Allah) mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya. Dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan tidak takut terhadap celaan (persekusi, bully) orang-orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.” (Quran: Al Maidah 54).
“Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis) di dalam Az-Zikr (Lauh Mahfudz) bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.” (Quran: Al Anbiya 105).
Astaghfirullah. Rabbi a’lam (Tuhan lebih dan paling mengetahui)
Catatan penting: Jangan langsung like and share tulisan ini. Telitilah. Harus kita biasakan meneliti setiap informasi. Ini jaman disinformasi. Tidak jelas mana hoax mana info benar. Mana asli mana palsu. Monggo ngaji Quran surah Al Hujurat ayat 6. Peringatan Allah di situ sudah sangat jelas. (*)
Penulis tinggal di Sidoarjo. Dari berbagai sumber





