Opini  

Ada Cinta Hajar di Balik Ibadah Kurban (2-Tamat)

Ada Cinta Hajar di Balik Ibadah Kurban (2-Tamat)
Anwar Hudijono

Oleh Anwar Hudijono

Waktu mengurbankan Ismail sudah ditetapkan yaitu tanggal 10 Dzulhijah. Tempatnya di Mina. Sebuah samudera padang pasir yang diombaki bukit-bukit karang.

Setan tidak rela terhadap orang yang bergerak mendekat kepada Allah. Rajanya setan langsung turun memimpin penghadangan, sabotase, perang terhadap Ibrahim-Hajar-Ismail.

Rajanya setan itu satu tubuh berkepala (cabang) tiga. Setiap cabang saling berhubungan. Saling melengkapi. Saling menunjang. Saling melindungi.

“Pergilah kamu mendapatkan naungan (asap api neraka) yang mempunyai tiba cabang.” (Quran: Al Mursalat 30).

Hajar – Ibrahim – Ismail sudah dalam barisan cinta mutlak kepada Allah.

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Quran: As-Shaf 4).

“Dan berperanglah kamu di jalan Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Mendengar Maha Mengetahui”. (Quran: Al Baqarah 244).

Walhasil, setan sama sekali tidak berdaya melawan mereka. Akhirnya setan tahu mereka tidak akan pernah bisa dikalahkan sampai Hari Kiamat. Karena ketiganya adalah orang-orang yang terpilih/ikhlas.

“Dia (Iblis) berkata, “Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka (manusia) di bumi, dan aku akan menyesatkan semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih (mukhlisin) di antara mereka”. (Quran: Al Hijr 39-40).

Di masyarakat

Perang itu sangat dahsyat. Tidak bisa divisualisasikan. Hanya sekadar untuk menapak tilas, setiap musim haji diwajibkan melempar tiga jumrah. Jumrah Ula, Jumrah Tsani dan Jumrah Aqabah.

Para jamaah haji mengikuti strategi Ibrahim-Hajar-Ismail membentuk barisan yang sangat panjang. Sepanjang mamandang hanya orang berbaris menyerupai bangunan yang super kokoh. Mereka adalah umat yang satu. Ummatan wahidah. Tidak ada perbedaan warna kulit, status sosial, jabatan, aliran politik, mazhab dsb. Setiap menembakkan satu peluru, mereka pun memekik “bismillahi Allahu akbar”.

Wahai kaum muslimin, Mina itu hanya simulasi. Tempat latihan. Medan perangmu sesungguhnya di masyarakat. Di kehidupan nyata sehari-hari. Maka galanglah barisan sesama muslim. Ukhuwah Islamiyah. Seperti di Mina, tidak memandang ras, suku, mazhab, status sosial, organisasi, aliran politik dan sebagainya.

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” (Quran: Al Hujurat 10).

Di jaman now, ukhuwah Islamiyah benar-benar terancam. Seperti tembok yang setiap saat berusaha dipecah-pecah dan dirobohkan. Di samping dengan perang senjata yang nyata seperti di Afghanistan, Yaman, Suriah, juga dengan perang maya. Cyber-terror.