Rabu, 22 September 2021
33 C
Surabaya
More
    OpiniTajukMembuka (kembali) Ibadah Haji Perlu Strategi dan Tim Khusus

    Membuka (kembali) Ibadah Haji Perlu Strategi dan Tim Khusus

    Oleh Djoko Tetuko – Pemimpin Redaksi Wartatransparansi

    Setelah Corona Virus Disease 2021 (Covid-19) mewabah di seluruh dunia, termasuk Saudi Arabia lebih khusus Madinah dan Makkah.

    Masjidil Haram Makkah menjadi pusat pelaksanaan ibadah haji dan umroh (kecuali miqat dan wukuf). Sedang Madinah rumah dan makam Rasulullah SAW, juga tempat miqat “Sumur Ali”.

    Sebagaimana diketahui bahwa tata cara umroh dan haji diawali dengan mandi besar untuk
    membersihkan diri,
    menggunakan pakaian ihram dan niat dari miqat.
    Selanjutnya, membaca Talbiyah selama perjalanan menuju Makkah,
    masuk Masjidil Haram, tawaf
    sebanyak 7 kali,

    Kemudian sholat 2 rakaat di depan maqom Nabi Ibrahim. Beristirahat dan minum air zam-zam dilanjutkan Sa’i sebanyak 7 Kali. (Bagi yang berhaji) dilanjutkan wukuf.

    Miqat adalah batas bagi dimulainya ibadah haji (batas-batas yang telah ditetapkan). Apabila seseorang yang ingin mengerjakan haji perlu mengenakan kain ihram dan memulai memasang niat. Miqat digunakan dalam melaksanakan ibadah haji dan umrah.

    Miqat terdiri dari dua jenis: Miqat Zamani
    batas yang ditentukan berdasarkan waktu:
    Bagi haji, miqat bermula pada bulan Syawal sampai terbit fajar tanggal 10 Zulhijah yaitu ketika ibadah haji dilaksanakan.
    Bagi umrah, miqat zamani bermula pada sepanjang tahun pada waktu umrah dapat dilakukan.

    Miqat Makani, batas yang ditentukan berdasarkan tempat:
    Bagi mereka yang tinggal di Makkah, tempat untuk ihram haji adalah Makkah itu sendiri (rumah sendiri). Untuk umrah ialah keluar dari tanah haram Makkah yaitu sebaiknya di Ji’ranah, Tan’eim atau Hudaibiyah.

    Bagi mereka yang datang dari sebelah timur seperti Indonesia, Malaysia, Singapura dan kebanyakan negara Asia lain, tempatnya adalah di Yalamlam.

    Jamaah dari Mesir, miqatnya di Juhfah. Jamaah dari selatan dan timur seperti Yaman, Najd dan ,Riyadh, tempat untuk berihram adalah Qarnul Manazil. Bagi jamaah dari Madinah, tempatnya di Dzulhulaifah Bir Ali.
    Bagi yang datang dari bahagian Iraq pula adalah di Dzatu ‘Irq.

    Sedangkan wukuf ialah beribadah di padang Arafah merupakan salah satu rukun haji, untuk mengingat Nabi Adam dan Hawa diturunkan ke Bumi dari surga karena mengingkari perintah Allah dan terbawa oleh tipu daya Iblis. Mereka dipisahkan di dunia ini selama 40 tahun untuk bertemu kembali.

    Catatan sejarah sepanjang pelaksanaan ibadah haji, menurut data Jejak Imani Umrah & Islamic Tours, epidemi atau pandemi dan kerusuhan membuat gagal.

    Berikut beberapa tahun bersejarah dimana ibadah haji pernah ditutup seperti dikutip dari instagram @jejakimani:
    Ibnu Qayyim menyatakan, berdasarkan bukti-bukti yang kuat dan dapat dipercaya, haji diwajibkan pada tahun ke-10 Hijriah. Inilah yang sesuai dengan ajaran Rasulullah agar manusia tidak menunda-nunda suatu kewajiban.

    Terkait dengan kewajiban haji ini, Allah berfirman, “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, (yaitu) bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.”

    Padahal ayat ini turun pada Tahun Perutusan atau akhir tahun ke-9 Hijriah.

    Haji Pertama dan Terakhir
    Di dalam catatan sejarah disebutkan bahwa Rasulullah sendiri tidak pernah melakukan haji dari Madinah, kecuali yang beliau lakukan pada tahun ke-10 Hijriah. Haji ini kemudian dikenal dengan nama haji balâgh (haji penyampaian dakwah Allah), haji Islam (haji penyerahan diri), dan haji wadak (haji perpisahan).

    Pasalnya, haji ini adalah haji terakhir Rasulullah bersama kaum muslimin. Sesudah itu, beliau tidak pernah berhaji lagi. Disebut sebagai haji balâgh karena pada saat itu Rasulullah menyampaikan ajaran Allah berupa diwajibkannya haji kepada seluruh umat manusia, baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan.

    Baca juga :  Waspadalah! Kekuatan Kontingen PON Buram dan Performance Atlet Turun

    Bahkan, tidak ada satu pun unsur dan nilai ajaran Islam, kecuali beliau telah menjelaskannya secara terperinci. Ketika beliau tengah menerangkan masalah haji kepada seluruh muslimin yang hadir di padang Arafah, Allah menurunkan ayat, “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai islam itu jadi agama bagimu.”

    Ketika Rasulullah mengumumkan keinginan kuat beliau untuk melaksanakan haji, tepatnya pada tahun ke-10 Hijriah, banyak sekali orang yang datang ke Madinah. Mereka semua ingin menyempurnakan keislaman mereka dengan melaksanakan rukun Islam yang kelima dan melakukan apapun yang dilakukan oleh Rasulullah.

    Rasulullah keluar dari Madinah pada tanggal 5 Zulkaidah, di perjalanan pergi maupun pulang dari haji, terjadi berbagai peristiwa.

    Perjalanan beliau ini telah memberi inspirasi kepada para ulama fikih sehingga tercipta bab-bab fikih ibadah dimana para ulama, baik ulama terdahulu maupun kontemporer, mengajinya secara khusus. Mereka membuat bab haji secara tersendiri di dalam kitab-kitab yang mereka tulis.

    Khotbah Perpisahan

    Salah satu khotbah haji paling masyhur yang disampaikan oleh Rasulullah adalah khotbah beliau di tengah lautan manusia yang tengah berhaji ketika mereka melalui hari-hari Tasyrik. Salah satu ucapan beliau adalah; “Sesungguhnya darah dan harta kalian adalah suci, sama seperti sucinya hari yang kalian jalani ini, pada bulan ini, di negeri kalian ini. Ingatlah bahwa segala sesuatu yang terjadi pada masa Jahiliah dan disaksikan oleh kedua mata kakiku ini telah dihapuskan”

    Bahwa darah yang tertumpah pada masa Jahiliah, semuanya telah dihapuskan. Darah pertama dari sekian banyak darah kita yang telah kuhapuskan adalah darah Ibnu Rabi’ah ibn Harits. Pada saat itu, Ibnu Rabi’ah disusui di tempat Bani Sa’ad, kemudian dibunuh oleh Hudzail.

    Bahwa riba yang dijalankan pada masa Jahiliah telah dihapuskan. Dan praktik riba yang pertama kali dihapuskan adalah riba yang terjadi di antara kita, riba yang dilakukan oleh Abbas ibn Abdil Muththalib. Maka, sesungguhnya seluruh riba yang telah dilakukan olehnya telah dihapuskan.

    Takutlah kalian kepada Allah dalam soal perempuan. Sesungguhnya kalian telah mengambil mereka sebagai amanah dari Allah dan menghalalkan kehormatan mereka dengan mengatasnamakan Allah. Hak kalian atas mereka adalah bahwa mereka tidak mengizinkan seseorang yang tidak kalian sukai menginjakkan kakinya di lantai kalian.

    Jika mereka tetap melakukannya (melanggar perintah suami dengan memasukkan orang lain ke tempat tidur), pukullah mereka dengan pukulan yang tidak membahayakan. Dan hak mereka atas kalian adalah memberikan nafkah dan pakaian dengan cara yang baik.

    Dan sesungguhnya telah kutinggalkan untuk kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh kepadanya, niscaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya. Sesuatu itu adalah Kitab Allah.

    Apabila pada hari kemudian aku mempertanyakan semua itu kepada kalian, apa jawaban kalian?

    Mereka (kaum muslimin yang mengikuti haji pada tahun itu) berkata, “Kami bersaksi bahwa sesungguhnya Anda benar-benar telah menyampaikan ajaran-ajaran Tuhan Anda, melaksanakannya, dan menasihatkannya kepada umat Anda. Anda telah menjalankan segala sesuatu yang ada pada Anda.”

    Rasulullah berkata, “Ya Allah, saksikanlah.”

    Beliau mengucapkan kata-kata tersebut sebanyak tiga kali.

    Kemudian, di sela-sela khotbahnya Rasulullah berkata, “… celakalah kalian, perhatikanlah oleh kalian, janganlah kalian kembali kepada kekufuran sepeninggalku, di mana kalian menghancurkan dan memerangi satu sama lain.”

    Beliau berkata pula, “Sesungguhnya setan sudah kehilangan harapan untuk dapat disembah di bumi kalian ini. Akan tetapi, ia punya kesempatan untuk dipertuan manusia dalam berbagai hal selain itu, dan semuanya bersumber dari perbuatan kalian. Oleh karena itu, berhati-hatilah, saudara-saudara.

    Baca juga :  Soekano, Megawati, Puan dalam Keajaiban dan Kalkulasi Politik

    Sesungguhnya aku telah meninggalkan sesuatu. Seandainya kalian berpegang teguh padanya, niscaya kalian tidak akan tersesat selamanya. Sesuatu itu adalah Kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya.

    Sesungguhnya setiap muslim adalah saudara bagi setiap muslim lainnya. Seluruh muslimin adalah bersaudara. Oleh sebab itu, tidak diperbolehkan bagi siapapun untuk mengambil harta saudaranya, kecuali sesuatu yang diberikan atas kebaikan hatinya…

    Dalam khotbah tersebut, beliau juga menyampaikan pesan pesan sebagai berikut:

    ”Hai sekalian manusia dengarkan perkataanku ini. Sebab saya tidak tahu, barang kali kita tidak berjumpa lagi pada tahun depan seperti ini”.
    Sesama muslim diharamkan saling menumpahkan darah, mengambil harta, dan melaksanakan segala macam riba.
    Tuhan hanya satu.
    Asal kejadian manusia juga satu yaitu Adam.
    Tidak ada kelebihan antara bangsa Arab dengan yang lainnya, yang membedakan hanyalah takwa di hadapan Allah Swt.

    Perjalanan menunaikan ibadah haji sering disebut sebagai rihlah mubarakah, perjalanan penuh berkah. Atau disebut rihlah Makkiyah, karena salah satu tujuannya datang Masjidil Haram, di Mekkah.

    Perjalanan ke Mekkah, khususnya untuk menunaikan ibadah haji (pilgrimage), bukan melancong atau piknik menghilangkan penat, tapi perjalanan untuk memenuhi rukun Islam kelima.

    Haji Pertama

    Umat Islam Indonesia menurut
    sumber-sumber yang ada, dapat diidentifikasi bahwa mereka yang pertama kali melaksanakan haji bukanlah jemaah yang dari awal ingin pergi haji, melainkan para pedagang, utusan sultan, dan para musafir penuntut ilmu.

    Tercatat sejak abad XVI hingga abad XVII mereka telah berkunjung ke Hijaz untuk melaksanakan pekerjaan masing-masing sambil melaksanakan ibadah haji.

    Menurut P.M. Holt (1970), sejak permulaan abad XVI dan ketika arus pelayaran perdagangan dari Timur Tengah ke Nusantara mulai surut akibat serangan armada perdagangan Portugis di Samudera Hindia, justru arus perdagangan dari Nusantara melalui Samudera Hindia baru dimulai.

    Dengan demikian, peranan pedagang Arab yang sebelumnya mendominasi jalur pedagangan Samudera Hindia, beralih ke tangan pedagang Nusantara. Boleh jadi, lada yang diperdagangkan di Antwerp pada pertengahan pertama abad XVI adalah komoditas yang telah diperdagangkan oleh para saudagar Nusantara sebelumnya.

    Sementara itu, pusat pelayaran perdagangan ke Barat, yang semula berkedudukan di Malaka, sejak kota ini ditaklukkan oleh Portugis pada 1511, beralih ke Aceh.

    Posisi Aceh bertambah kuat karena hubungannya dengan Turki Utsmani yang pada 1516 penguasanya menggunakan gelar khalifah-sultan. Dalam kedudukan sebagai khalifah, penguasa Turki Utsmani dianggap sebagai pemimpin spiritual, sesuai tradisi politik klasik Islam, bagi pemerintahan Islam sejagat. Sedangkan sebagai sultan, ia menjadi penguasa bagi rakyatnya.

    Melalui hubungan itu, Aceh memanfaatkannya untuk meningkatkan hubungan politik dan perdagangan dengan Turki. Hubungan perdagangan yang lancar antara Aceh dan Turki ditandai dengan adanya armada perdagangan di Jeddah.

    Sebuah sumber dari Venesia melaporkan bahwa pada 1556 dan 1566, terdapat lima buah kapal dari Aceh yang berlabuh di Jeddah (Azra: 1994).

    Sesungguhnya, pada permulaan abad XVI, telah dijumpai pribumi Nusantara di Mekkah yang kemungkinan besar mereka adalah pedagang yang datang dengan kapalnya sendiri.

    Menurut M. Shaleh Putuhena (2007), jemaah haji yang dijumpai oleh Louis Barthema di Mekkah pada 1503, barangkali adalah orang-orang Nusantara yang pertama kali melaksanakan haji.

    Mereka bukanlah jemaah haji yang sengaja berangkat dari Nusantara untuk melaksanakan haji. Mereka adalah pedagang dan pelayar yang berlabuh di Jeddah dan berkesempatan untuk berkunjung ke Mekkah. Tak musykil pelayar dan saudagar dari lima buah kapal yang berlabuh di Jeddah pada 1565 dan 1566 itu, telah melaksanakan haji.

    Baca juga :  BTPKLW Kecerdasan Pemerintah Memotivasi Kebangkitan Ekonomi

    Armada perdagangan Nusantara yang lolos dari adangan Portugis itu menuju ke Jeddah yang pada masa itu lebih berfungsi sebagai pelabuhan niaga, bukan sebagai pelabuhan haji. Dan, mereka berkesempatan untuk melaksanakan haji.

    Menurut sumber-sumber tradisional Jawa, Nurullah yang kemudian mahsyur dengan julukan Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati, berangkat ke Mekkah, setelah Pasai (kota kelahirannya), ditaklukkan oleh Portugis pada 1521.

    Dia berada di Kota Suci itu selama tiga tahun dan telah melaksanakan rukun Islam yang kelima, haji. Sekembali dari Mekkah, dia berangkat ke Demak untuk bersama penguasa setempat menyerang kerajaan Hindu-Buddha, Pajajaran, di Banten dan merebut pelabuhan utamanya, Sunda Kelapa.

    Memerhatikan kondisi saat itu, keberangkatan Nurullah ke Mekkah adalah sebagai diplomat untuk meminta bantuan Turki Utsmani agar mengusir Portugis dari Pasai. Kala itu, Mekkah telah berada dalam kekuasaan Turki Utsmani.

    Meskipun Nurullah adalah utusan pemerintah, selama di Mekkah dia mendapatkan kesempatan untuk belajar agama Islam (Ricklefs 2001)

    Jadi, haji Nusantara telah dimulai pada awal abad XVI dan selama abad itu, ia dilaksanakan oleh para pedagang dan diplomat. Mereka pergi ke Hijaz dengan maksud untuk berdagang atau melaksanakan tugas dari pemerintahnya, dan mereka memiliki kesempatan untuk melaksanakan ibadah haji.

    Dan sejak abad XVII, penduduk pribumi Nusantara mulai banyak berkelana menuntut ilmu ke Haramain sambil melaksanakan ibadah haji, meskipun pada awalnya tujuan mereka adalah untuk berdagang atau menuntut ilmu.
    Mereka inilah yang kemudian dianggap sebagai angkatan perintis haji Indonesia.

    Pandemi Corona dan Ka’bah Ditutup

    Wabah virus corona yang merebak membuat hampir

    Corona dan Kerusuhan

    Catatan terakhir, Masjidil Haram dan ka’bah sempat ditutup pada masa pandemi Covid-19.
    Ketika virus Corona sempat melandai sempat dibuka terbatas dan bersyarat. Kini kembali tidak jelas.

    Pelaksanaan ibadah ditutup, karena beberapa peristiwa, yang paling sering pandemi dan kerusuhan. Di antaranya ;

    Pertama, Qaramithah mencuri Hajar Aswad. Yaitu;
    pimpinan Qaramithah salah satu sekte syi’ah Islamiyah membunuh jemaah haji yang sedang beribadah dan mengambil bongkahan hajar aswad. Batu mulia ini dikembalikan 22 tahun kemudian di daerah Hajr.

    Kedua, Perselisihan Bani Abad dan Bani Abid tahun 983 serta tahun 1257 penduduk Hijaz dilarang berhaji

    Selama 8 tahun, muslimin dari Irak dilarang berhaji, dan tahun 1257 penduduk Hijaz juga diberlakukan larangan yang sama.

    Ketiga, Wabah Tha’un. Dimana di wilayah Hijah tahun 1814 sekitar 8.000 korban meninggal dunia akibat wabah Tha’un yang membuat ka’bah ditutup sementara.

    Keempat, Wabah epidemi tahun 1837 dan kolera tahun 1844. Dimana
    Ka’bah pernah ditutup karena sebuah epidemi, dan wabah kolera yang membuat tidak ada ibadah haji. Hal ini juga terjadi pada tahun 1850, 1865, dan 1883.

    Kelima, Epidemi kembali terjadi pada 1858 yang menyebabkan penduduk Hijaz mengungsi ke Mesir. Di tahun 1864, 1.000 peziarah meninggal perhari karena wabah yang sangat berbahaya. Saat itu karantina diberlakukan dengan bantuan dokter yang dikirim dari Mesir.

    Keenam, kematian karena kolera tahun 1892. Jumlah kematian akibat kolera meningkat pada tahun 1892, dan makin buruk tiap harinya. Mayat bertumpuk. Tahun 1895 juga terjadi wabah typus yakni pandemi yang mirip demam tifoid atau disentri terindikasi dari konvoi dari Madinah.

    Ketujuh, Wabah Meningitis tahun 1987. Dimana tahun 1987, wabah meningitis yang menyerang Arab Saudi membuat kegiatan berhaji ditutup. Saat itu, sebanyak 10.000 jemaah haji terinfeksi.

    Siaran pers Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattaliti, dengan belum ada kepastian hukum soal haji, mendukung upaya pemerintah melakukan berbagai strategi.

    Vaksinasi Covid-19 Sinovac dan program Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berbasis mikro, menjadi salah satu upaya meyakinkan Kerajaan Saudi Arabia.

    Selain itu, membentuk tim khusus terdiri atas ulama dan Umaro, membawa misi khusus bahwa komitmen umat Islam Indonesia turut menjaga Haramain (Makkah dan Madinah) dalam berbagai sektor sangat strategis. (*)

    Reporter :
    Penulis : Djoko Tetuko
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber : WartaTransparansi.com

    KOMENTAR

    Berita Menarik Lainya

    Jangan Lewatkan