Selasa, 23 Juli 2024
22 C
Surabaya
More
    OpiniTajukHari Batik “Sebuah” Introspeksi

    Hari Batik “Sebuah” Introspeksi

    Oleh : Djoko Tetuko – Pemimpin Redaksi Transparansi

    Hari ini, tanggal 2 Oktober 2020, hari batik nasional. Penghargaan untuk Indonesia dari UNESCO karena goresan karya penuh filosofi.

    Batik berasal dari bahasa Jawa hamba dan titik. Yang berarti menulis atau melukis dari titik para selembar hamba (kain putih)

    Inilah filosofi bahwa batik ialah kekayaan dan karya besar bangsa Indonesia, karena sesungguhnya mengandung makna sebagai introspeksi, sebagai cermin diri, sebagai lukisan jati diri sejati.

    Jika manusia ketika lahir dalam keadaan telanjang dan suci, itulah hamba, kemudian dalam melanjutkan perjalanan hidup mulai “dibatik”, mulai diberi pakaian dan berbagai pernik menempel di tubuh sang jabang bayi, hingga menempelkan kain sendiri dalam warna warni berbagai corak.

    Batik mengambarkam kain putih dengan kualitas berbeda-beda, dilukis mengikuti titik sebagai panduan bergambar. Itulah sejatinya manusia, setiap bangun tidur dan mengisi kehidupan seperti membatik dirinya.

    Meletakkan titik-titik panduan perjalanan menuju ke arah positif dengan simbol gambar atau sebaliknya meneruskan titik dengan melukiskan simbol perilaku jahat atau angkarakurma. Inilah filosofi ketika manusia memaki batik, maka cermin diri dan warna kehidupan akan terwakili.

    Menengok kembali sejarah batik di tanah Jawa, dulunya batik hanya dibuat oleh keluarga kerajaan. Kegiatan membatik oleh putra putri keraton dipandang sebagai kegiatan penuh nilai kerokhanian yang memerlukan pemusatan pikiran, kesabaran, dan kebersihan jiwa. Oleh karenanya, coraknya penuh dengan simbol dan corak-corak tertentu.

    Corak batik yang dimiliki masing-masing daerah pun berbeda-beda. Misalnya, batik Semarangan yang memiliki corak flora dan fauna dengan warna-warna terang.

    Meskipun terlihat sederhana, namun dalam setiap gores motif batik, terkandung makna filosofis yang mendalam. Diakui oleh UNESCO sebagai salah satu warisan dunia pada tahun 2009, menegaskan kembali eksistensi batik di mata dunia.

    Tahun 2014, Indonesia kembali mendapatkan sorotan membanggakan dari dunia atas prestasinya mengenai batik. Yakni dengan ditetapkannya Yogyakarta sebagai kota batik dunia. Untuk memperkaya pengetahuan Anda tentang batik Indonesia, berikut kami rangkum setiap makna dan filosofi batik Indonesia. Jadi, jangan sampai asal salah pilih batik.

    Pada zaman dahulu, motif batik berbentuk mirip dengan pedang ini memiliki biasanya dipakai oleh bangsawan atau raja. Jenis batik parang ini juga dikenal sebagai batik tertua di Jawa. Batik parang pun memiliki beragam jenis motif, di antaranya yakni parang barong, parang rusak, parang kusumo, parang kecil, parang slobog dan parang klitik.

    Parang barong itu hanya khusus untuk raja. Tidak dipakai untuk sehari-hari. Biasanya dipakai untuk acara kenegaraan.

    Selain parang barong, terdapat juga motif parang rusak yang artinya berjuang untuk memperbaiki diri sendiri. Parang
    artinya memerangi sifat – sifat yang rusak. Kalau ada sifat yang rusak atau keliru, tidak baik, itu bisa diubah untuk menjadi lebih baik.

    Kawung, Motiv batik mirip biji pinang ini menyimpan banyak makna filosofi. Kawung ini juga menyimbolkan harapan untuk mendapatkan rezeki.
    Kawung menjadi simbol arah mata angin, serta simbol keseimbangan. Kadang mirip seperti mata uang. Simbol mendapatkan rejeki atau kebaikan.

    Ada motiv Sidoluhur, scara harfiah, sido dalam bahasa Jawa memiliki arti jadi, atau menjadi. Sedangkan luhur artinya terhormat dan bermartabat. Sehingga, menurut filosofinya, batik Sidoluhur ini menjadi salah satu bentuk doa sang pemakai agar selalu sehat jasmani rohani, serta menjadi orang yang terhormat dan bermartabat.

    Hari Batik Nasional adalah hari untuk memperingati ditetapkannya batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) pada 2 Oktober 2009 oleh UNESCO.

    Batik pertama kali diperkenalkan kepada dunia internasional oleh Presiden Soeharto saat mengikuti konferensi PBB. Batik Indonesia didaftarkan untuk mendapat status intangible cultural heritage (ICH) melalui kantor UNESCO di Jakarta oleh kantor Menko Kesejahteraan Rakyat mewakili pemerintah dan komunitas batik Indonesia, pada 4 September 2008.

    Pengajuan itu pun membuahkan hasil bagi pemerintahan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono. Pada 9 Januari 2009, pengajuan batik untuk Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi UNESCO, diterima secara resmi. Batik dikukuhkan pada sidang keempat Komite Antar-Pemerintah tentang Warisan Budaya Nonbendawi yang diselenggarakan UNESCO di Abu Dhabi pada 2 Oktober 2009. Pada sidang tersebut batik resmi terdaftar sebagai Warisan Kemanusiaan Karya Agung Budaya Lisan dan Nonbendawi di UNESCO.

    Sebelumnya selain batik, UNESCO juga sudah mengakui keris dan wayang sebagai Warisan Kemanusiaan Karya Agung Budaya Lisan dan Nonbendawi .

    Badan PBB untuk kebudayaan atau United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization, (UNESCO) kemudian menetapkan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity).

    Pemerintah Indonesia menerbitkan Kepres No 33 Tahun 2009 yang menetapan hari Batik Nasional juga dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap upaya perlindungan dan pengembangan batik Indonesia.

    Sejarah batik Indonesia terkait erat dengan perkembangan Kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Pulau Jawa. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada zaman Kesultanan Mataram, lalu berlanjut pada zaman Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

    Hingga awal abad ke-20, batik yang dihasilkan merupakan batik tulis. Batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I berakhir atau sekitar tahun 1920.

    Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga kerajaan di Indonesia zaman dahulu.

    Batik ialah sebuah introspeksi. Dalam Kamus Bahasa Indonesia, introspeksi mempunyai arti peninjauan atau koreksi terhadap (perbuatan, sikap, kelemahan, kesalahan, dan sebagainya) diri sendiri; mawas diri.

    Hari Batik Naisonal, ialah hari introspeksi secara totalitas. Jika batik sudah dalam bentuk masker, maka introspeksi bagi pemakai masker supaya mengoreksi diri menuju kebaikan dan kesehatan, sesuai protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19.

    Hari Batik ialah sebuah pesan suci melakukan koreski, terhadap diri sendiri, lingkungan rumah sendiri, keluarga sendiri, lingkungan kampung sendiri, hingga koreski dalam mengabdi kepada negeri?

    Hari Batik sebuah introspeksi? Masih suci dan bersihkah seperti kain putih, atau sudah bergambar simbol berjuang untuk anak negeri di bumi pertiwi, atau justru menjadi bagian dari pelaku korupsi. (@)

    Penulis : Djoko Tetuko

    Sumber : WartaTransparansi.com

    COPYRIGHT © 2020 WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan