Opini  

Loyalitas Di Hari Kemerdekaan RI Ke 75

Loyalitas Di Hari Kemerdekaan RI Ke 75
Khoirudin Anas, S.Sos, M.E.

Oleh : Khoirudin Anas S. Sos., M. E

Tujuh belas Agustus tahun empat lima

Itulah hari kemerdekaan kita

Hari merdeka nusa dan bangsa

Hari lahirnya bangsa Indonesia

Merdeka

Sekali merdeka tetap merdeka

Selama hayat masih di kandung badan

Kita tetap setia tetap setia

Mempertahankan Indonesia

Kita tetap setia tetap setia

Membela negara kita (H. Mutohar)

Apa yang pertama kali anda jawab dan ingat ketika di tanya tenang 17 Agustus ? “hari kemerdekaan”, mungkin itu jawaban teratas yang akan kita dengar. Apa yang anda jawab bila mendengar “hari kemerdekaan” ?. Mungkin jawaban cepat dan tepat yang kita dengar adalah ”pahlawan”. Pertanyaan selanjutnya… “siap pahlawan ?”.

Dalam Kamus Bahasa Indonesia, pahlawan terdiri dari tiga kata pah, la dan wan yang artinya orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran, dengan kata lain adalah orang yang loyalitasnya kepada kebenaran sudah tidak terukur. Banyak macam pahlawan; ada pahlawan kemerdekaan, pahlawan revolosi, pahlawan pendidikan, pahlawan pembangunan, pahlawan akhlaq, pahlawan cinta dan banyak lagi macam dan jenis pahlawan yang kita kenal yang sesuai dengan loyalitasnya terhadap lembaga, organisasi maupun pribadi.

Orang tua kita juga sebagai pahlawan kita…. guru kita juga pahlawan kita….., isteri dari anak-anak kita juga sebagai pahlawan kita. Dan kita di masa pandemi juga akan disebut pahlawan bila kita tidak/menghambat penyebaran virus corona-19 dengan diam di rumah, menaati protokol kesehatan, yang nantinya disebut PAHLAWAN CORONA.

Pahlawan identik dengan pengorbanan, pengorbanan identik dengan loyalitas dan loyalitas adalah pengikatan diri dengan sepenuhnya terhadap sesuatu, pengikatan terhadap sesuatu disebut juga penghambaan,penghambaan artinya tidak memerdekaan diri. Padahal yang diartikan merdeka adalah bebas… terus apa itu merdeka ?!.

Dalam Kamus Bahasa Indoensia, kata merdeka diartikan menjadi tiga, pertama, merdeka dapat diartikan sebagai bebas dari belenggu, penjajahan, dan sebagainya. Arti kedua adalah tidak terkena, atau lepas dari berbagai tuntutan. Sedangkan arti ketiga dari merdeka adalah tidak terikat, tidak bergantung pada pihak atau orang tertentu, dan leluasa.

Merdeka adalah sesuatu langkah awal terbebas dari pengikatan untuk menuju pengikatan yang lain dengan mempertahankan loyalitas. Mencapai kemerdekaan itu sulit, akan tetapi lebih sulit lagi adalah mempertahankannya. Mempertahnakan kemerdekaan adalah dengan menjaga kondusifitas, politik, ekonomi, budaya dan sosial kemayarakatan dan juga tak kalah pentingnya kondusitias pendidikan.

Pada bidang ekonomi kondusifitas dilakukan pemerintahan Jakowi  berupaya dengan berbagai kebijakan diantaranya adalah mulai dari pembebasan listrik untuk kalangan 450 VA, membebaskan PPh Impor, hingga menaikkan anggaran untuk sejumlah bantuan langsung.

Untuk melakukan itu semua, negara menyiapkan anggaran hingga Rp405,1 triliun dan kebiajakn baru ini adalah pemberian bansos tunai hingga memperpanjang subsidi listrik, bansos produktif yang akan diberikan kepada 13 juta UMKM. Bantuan modal kerja darurat itu masing-masing bernilai Rp 2,4 juta. Langkah tersebut melengkapi bantuan terhadap 13 juta pekerja di luar 10 juta kartu prakerja yang lebih ditujukan kepada  warga yang terkena PHK, di kemudian hari di tetapkan dengan UU No.2 Tahun 2020 tentang pemulihan ekonomi

Pada bidang pendidikan dalam piidatonya Presiden Jakowi mengatakan  bahwa sistem pendidikan nasional seharusnya mengedepankan nilai-nilai Ketuhanan, yang berkarakter kuat dan berakhlak mulia, serta unggul dalam inovasi dan teknologi. Platform teknologi harus mendukung transformasi kemajuan bangsa.

Peran media-digital yang saat ini sangat besar harus diarahkan untuk membangun nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan. Semestinya, perilaku media tidak dikendalikan untuk mendulang click dan menumpuk jumlah like, tapi seharusnya didorong untuk menumpuk kontribusi bagi kemanusiaan dan kepentingan bangsa. Ideologi dan nilai-nilai luhur bangsa tidak boleh dipertukarkan dengan kemajuan ekonomi.

Kemerdekaan pendidikan yang di gaung-gaungkan Mendiknas Mas Menteri Nadim Makarim, menuai banyak kritik, kebijakan-kebijakan yang pernah di keluarkan adalah: