Ilustrasi kapal perang Angkatan Laut Amerika Serikat. (Dok. Wikimedia/PH2 TIMOTHY SMITH)

JAKARTA (WartaTransparansi.com) – Armada Pasifik Angkatan Laut  Amerika Serikat pada Jumat (22/5) lalu mengklaim kapal perang mereka telah berhasil menguji senjata laser berenergi tinggi.

Dalam pernyataannya, senjata laser itu disebut mampu menghancurkan pesawat musuh.

Dari gambar dan video yang diperlihatkan AL AS menunjukkan, uji senjata itu dilakukan di kapal perang USS Portland. Senjata itu disebut bisa menonaktifkan pesawat nirawak (UAV/drone ), seperti dilansir CNN, Sabtu (23/5).

Dari gambar yang dibagikan terlihat cahaya senjata laser terlihat menyala dari dek kapal. Sebuah video pendek menunjukkan cahaya laser mengarah kepada sebuah benda seperti drone.

AL AS tidak menyebut lokasi uji senjata laser tersebut. Mereka hanya menyatakan tes itu dilakukan di samudra Pasifik pada 16 Mei lalu.

Kekuatan senjata itu pun tidak disebutkan. Namun, sebuah laporan pada 2018 dari Institut Internasional untuk Studi Strategis (CSIS) mengatakan kekuatan laser bisa mencapai 150 kilowatt.

“Dengan melakukan uji lanjutan di laut terhadap UAV dan kerajinan kecil, kami akan memperoleh informasi berharga tentang kemampuan Demonstrator Sistem Senjata Laser Solid terhadap potensi ancaman. Dengan kemampuan canggih baru ini, kami mendefinisikan kembali perang di laut untuk Angkatan Laut,” kata Komandan USS Portland, Kapten Karrey Sanders, dalam pernyataan itu.

AL AS mengatakan laser yang disebutnya sebagai senjata energi terarah (DEW) itu bisa menjadi pertahanan efektif terhadap drone atau kapal kecil bersenjata.

“Pengembangan DEW Angkatan Laut seperti LWSD memberikan manfaat terhadap perang terbuka dan memberikan ruang lebih bagi komandan untuk mengambil keputusan dan pilihan dalam merespon,” kata pernyataan itu.

Pada 2017, CNN menyaksikan latihan menembak langsung senjata laser 30 kilowatt di atas kapal pengangkut amfibi, USS Ponce, di Teluk Persia.

Pada saat itu, seorang perwira sistem senjata laser, Letnan Cale Hughes, menjelaskan cara kerjanya.

“(Senjata) itu melemparkan sejumlah besar foton ke objek yang masuk. Kami tidak khawatir tentang angin, kami tidak khawatir tentang jarak, kami tidak khawatir tentang hal lain. Kami dapat melibatkan target dengan kecepatan cahaya,” ujar Hughes. (cnn Indonesia/sam)