Oleh : Djoko Tetuko (Pemimpin Redaksi Transparansi)

OTG Tembus 34%, “Bunuh Diri” Lagi

Perpanjangan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Surabaya Raya, ternyata belum membuahkan hasil secara signifikan, bahkan di luar dugaan dalam bebarap hari menunggu keajaiban, justru Surabaya jadi juara Corona dalam banyak catatan.

Situasi dan kondisi Surabaya Raya, Surabaya, Sidoarjo dan Gresik, sambil menunggu evaluasi satu dua hari ini, apakah setelah masa perpanjangan PSBB tanggal 25 Mei nanti, akan diperpanjang lagi lebih luas dan lebih ketat atau dibebaskan saja, dan masuk wilayah herd immunity, dalam istilah pers “bebas bertanggung jawab” tetapi bersifat mandiri.

Masyarakat bebas seperti biasa tidak ada apa-apa, tetapi ketika terinfeksi virus Corona ya harus tanggung jawab sendiri.

Jika Surabaya Raya PSBB tidak diperpanjang, kemudian pemerintah kota tidak melakukan kinerja apa-apa, maka hal ini sama dengan pembiaran terhadap warga kota Surabaya untuk dibiarkan wafat dengan serangan virus Corona. Sebab data Kamis (21/5/2020) menunjukkan bahwa dari 311 kasus positif terinfeksi virus Corona di Surabaya, ternyata 34 persen atau 100 lebih Orang Tanpq Gejala (OTG).

Ketika Surabaya menembus angka 311 kasus positif, maka kota pahlawan, tiba-tiba seperti “pamer kekuatan” (show of Force) untuk membiarkan warga mati atau wafat dengan sia-sia, karena sudah tidak mampu menangani Corona dengan nyata dan profesioanal.

Kota Surabaya menjadi juara penambahan kasus positif dalam satu hari secara nasional, dan satu-satunya kota yang masuk “5 besar” data kasus positif di jajaran pemerintah provinsi.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa ketika diskusi dengan pengurus PWI Jatim, Kamis malam (21/5/2020) menyebutkan, bahwa virus Corona atau Covid-19 di Jatim, khususnya Surabaya sebagai pintu keluar masuk kedatangan warga dari berbagai penjuru kota dan dunia,  ternyata hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis virus yang menyebar ada 4 (empat) model, yaitu virus Corona Wuhan, II bawaan virus pertama melalui perpindahan pendatang dari Wuhan, kemudian melalui proses mitasi lagi menyebar sampai Surabaya dan Jatim pada umumnya, juga kota dan kabupaten lain virus Corona dari Eropa, Amerika Serikat dan negara-negara Arab.

Mengenai penanganan Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19 Jatim, secara keseluruhan sudah berjalan  dengan baik. Bahkan PSBB di Malang Raya sangat baik dengan memberikan proses pemahaman kepada masyarakat maupun pedagang sistem “ganjil-genap” pedagang pasar dengan memberi nomer bedak atau toko. Dengan demikian maka roda ekonomi tidak sampai berhenti, tetapi berjalan dengan bergantian supaya menjaga jarak tetap diupayakan secara maksimal.

Surabaya tiba-tiba menjadi juara Corona, karena terus mengalami peningkatan kasus dan yang lebih mengkhawatirkan jika tidak dilakukan penanganan secara khusus oleh Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19 kota Surabaya dengan lebih fokus dan sungguh-sungguh.

Data pada Kamis (21/5/2020) menyebutkan, ada 502 kasus baru, dengan 451 terkonfirmasi asal daerahnya (kabupaten/kota). Sedangkan 51 masih ditelusuri. Dengan rincian; Surabaya 311, Sidoarjo 57, Gresik 27, kabupaten Probolinggo 31, Lamongan 2, Magetan, Pasuuan dan kabuoa Kediri 1 orang, Bojonegoro 2, Kota Malang 3, Bangkalan 2 dan kabupaten Nganjuk 4 positif Covid-19.

Jika kasus di Surabaya dengan berbagai model virus Corona menyerang, sepeeti peristiwa di Pabrik Rokok Sampoerna, kasus pedagang ayam wafat, perawat RDUD dr Seowandhi wafat, dan kasus positif kurang mendapat penanganan secara maksimal sesuai dengan SOP ( Standar Operasional Prosedur ), protokol kesehatan pandemi virus Corona, maka akan membuat kubangan baru bagi warga untuk “bunuh diri” lagi, wafat sia-sia karena membiarkan virus Corona terus menyerang dan menerjang tanpa penanganan secara maksimal dan sungguh-sungguh.

OTG tembus 34%, “Bunuh Diri” Lagi, bukan sekedar judul masyarakat pers dan wartawan Surabaya maupun wartawan Jatim, juga diliputi duka cita sangat mendalam ketika fotografer andal wafat negatif Corona, di tengah-tengah masa pandemi virus Corona,

Kamis malam (21/5/2020) pukul 19:50 an lebih dahulu meninggalkan kita semua, pulang ke rahmtullah meninggal dunia. Selamat jalan Japrak, InsyaAllah husnul khotimah

Jika hari ini masih terdengar bahwa Walikota Surabaya Tri   Rismaharini “Berseberangan” dengan Gubernur Khofifah Indar Parawansa, maka khusus Percepatan dan Penanganan Covid-19 di Surabaya yang sangat membahayakan, wajib duduk bersama dengan forum pimpinan daerah Kota Surabaya dan Provinsi Jatim, menyelamatkan warga Surabaya. Sekaligus halal bi halal. Mau Vertual atau rapat model physical distancing, yang penting Surabaya dan Jatim menjadi contoh tentang kebaikan. Bukan menjadi contoh juara l Corona. (jt)

Data terakhir sampai Jumat (22/5/2020) pukul 17.00 Wib :

*Pasien sembuh 426 (13,76 %)
*ODP 23.423
*PDP 5.499
*Meninggal 273 (8,82%)
*Pasien positif 3.099