Rabu, 14 April 2021
32 C
Surabaya
More
    Opini, Penyakit Pergi” Didi Kempot

    “Obat Datang, Penyakit Pergi” Didi Kempot

    PUJANGGA memang tidak selalu memberikan ular-ular (pesan suci) melalui majelis pengajian akbar. Show of force di lapangan sepakbola. Konser tunggal dengan tema Persatuan atau lebel dan simbol-simbol kebesaran berbau kekuasaan. Apalagi berparas kenegarawanan.

    Tetapi lewat goresan bait syair itulah maka syair seru telah teralirkan ke seluruh penjuru bumi, juga langit dalam sekejab mata memandang, dalam sedetik telinga seperti ditiup angin sepoi-poi merasakan dering negatif atau , dan dalam kisah lupa dalam mimpi indera lain seakan-akan larut dalam linangan air suci bersama cahaya pembawa wabah dan berkah.

    Pujangga memang tidak selalu memberikan fatwa dengan membawa setumpuk kitab suci dari agama apa saja, tetapi fatwa pujangga justru lebih dahsyat karena memang berkasiat, lebih menyentuh nurani ketika umat merasa terobati, menyentuh aura ketika penguasa merasa ada sinar (cahya) setelah kegelapan, menyentuh jiwa ketika para pendeta merasa menemukan telaga, menyentuh raga ketika jutaan tentara merasa tergugah (dari tidur dan mimpi nyata).

    Baca juga :  Ramadhan, Momentum Perdamaian Dunia

    Pujangga memang tidak selalu memberikan pesan apalagi menekan angan dengan pedang atau keris “kolo munyeng”, tetapi justru jauh lebih mempesona dan meninggalkan kesan seakan-akan membawa menikmati sebuah keagungan, walau hanya sekedar setetes banyu pengutipan (air kehidupan). Dalam kehidupan sesungguhnya.

    Reporter :
    Penulis : Djoko Tetuko
    Editor :
    Redaktur : WartaTransparansi.com
    Sumber :

    Komentar

    guest
    0 Komentar
    Inline Feedbacks
    View all comments

    Berita Menarik Lainya

    Terkini

    Jangan Lewatkan

    Ramadhan, Momentum Perdamaian Dunia

    Jurnalisme Rilis Dan Corong Penguasa

    Kongres HMI Ricuh itu Seksi