Rabu, 17 April 2024
27 C
Surabaya
More
    Kasus Pengaturan Skor Guncang Sepak Bola Indonesia

    Kasus Pengaturan Skor Guncang Sepak Bola Indonesia

    Sepak bola Tanah Air kembali diguncang pengaturan skor pertandingan atau match mixing. Tidak tanggung-tanggung anggota ekskutif komite (exco) PSSI dituduh menjadi dalang salah satu dalangnya. Hal itu terkait pengaturan skor PSS Sleman lawan Madura FC di babak 8 besar Liga 2.

    Bukan hanya di Liga 2 saja yang dicurigai ada match mixing yang selama ini diperangi oleh badan sepak bola internasional (FIFA) yang selalu menyuarakan slogan fair play. Tetapi kecurigaan terjadi pada pertandingan Persib Bandung menghadapi PSIS Semarang yang dimenangkan PSIS 3-0 dengan mudah. Padahal, Persib tim tangguh dan saat itu sangat membutuhkan poin untuk bersaing meraih juara Liga 1 musim 2018. Apalagi sebelumnya, Persib kalah 0-1 dari tim papan bawah PSMS Medan.

    Hanya saja, kasus match mixing di Liga 1 masih belum jelas. Mengingat kubu Persib Bandung membantaha dengan keras jika pemainnya ada yang terkena suap. Demikian melalui manajer timnya Umuh Muchtar, kubu Persib merasa tidak mengalah. Padahal, kecurigaan itu dilontarkan sendiri oleh pelatih Persib Roberto Carlos Mario Gomes yang saat ini benar-benar kecewa dengan permainan anak asuhnya. Bahkan, beberapa pihak ada kecurigaan suap ditujukan kepada beberapa pemain, salah satunya Supardi. .

    Sementara beberapa pihak juga menilai Persija yang nota bene milik dari Joko Driyono, Wakil Ketua Umum PSSI, memang ditargetkan merebut juara. Hanya saja, untuk membuktikannya masih harus menunggu sisa dua pertandingan di Liga 1 musim ini. Yang menarik, Persija sudah dimudahkan untuk bisa mengalahkan Bali United di partai krusial, dengan mundurnya pelatih Bali United Widodo C Putra secara mendadak, hanya dua hari menjelang pertandingan. Kecurigaan yang sama terhadap PSMS Medan yang selama ini menjadi tim asal Ketua Umum PSSI Edy Rahymadi yang juga Gubernur Sumut.

    Tidak seperti di Liga 1 di mana pelaku match mixing yang masih belum jelas, justru di Liga 2 di mana pelaku dan korban sudah jelas terlihat di permukaan. Adalah manajer Madura FC, Januar Herwanto, yang melaporkan kasus ini ke Komisi Disiplin PSSI. Ia mengaku dihubungi anggota exco PSSI Hidayat lewat telepon seluler, memintanya agar Madura FC sengaja mengalah saat menghadapi PSSS Sleman di babak 8 besar Liga 2. Imbalannya dibayar Rp 100 juta.

    Jika tidak mau, menurut Januar, Hidayat mengancam masih bisa melakukannya terhadap pemain Madura FC. Sebab, Dayat sendiri merupakan pemilik klub Madura FC yang sebelumnya bernama Persebo Bondowoso tersebut. Hanya saja, Hidayat dikonfirmasi terpisah tegas-tegas menolak tuduhan itu. “Masak saya mau menghancurkan klub saya sendiri,” ujar mantan Ketua Harian Asprov PSSI Surabaya tersebut.

    Tetapi, dia terus terang jika memang ada upaya pengaturan skor antara PSS Sleman menghadapi Madura United di babak 8 besar. Dia mengakui dikontak orang Sleman yang ingin mengatur pertandingan yang berakhir untuk kemenangan Madura FC 2-1 di leg pertama. “Saya dikontak orang Sleman itu untuk mengatur pertandingan tersebut. Tetapi bukan manajemen tim PSS Sleman,” ujar Hidayat yang menolak menyebut nama orang Sleman yang mengontak dirinya.

    Atas kasus ini, Sesmenpora Gatot S Dewa Broto mengimbau PSSI harus bisa proaktif dalam mengungkap kasus pengaturan skor yang terjadi di Liga Indonesia. Menurut Gatot, jika berhasil momen ini setidaknya bisa memperbaiki citra PSSI yang sudah terlajur negatif di mata publik terkait kegegalan Timnas di Piala AFF dan tanggapan Ketum PSSI, Edy Rahmayadi. “PSSI harus proaktif (mengungkap pengaturan skor) jangan menunggu,” kata Gatot.

    Sesmenpora pun turut menyebutkan landasan hukumnya, dan berharap pihak kepolisian juga bisa membantu mengungkap kasus pengaturan skor yang terjadi di Liga Indonesia ini. “Perangkat hukumnya ada, UU No 11 tahun 80 itu masih berlaku tentang pidana suap, pasal 2,3,4 5 masih berlaku,” ujar Sesmenpora.

    “Aparat kita minta melihat lebih broader, jangan bukti kurang jadinya dibiarkan. Kita masih ingat 2 tahun lalu di surabaya, ada yang diduga pengaturan, baru 10 hari sudah dibebaskan, polisi diharapkan membantu hal ini,” tutupnya. (nov)

    Editor : Nakula

    Redaktur : WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan