Jika tidak mau, menurut Januar, Hidayat mengancam masih bisa melakukannya terhadap pemain Madura FC. Sebab, Dayat sendiri merupakan pemilik klub Madura FC yang sebelumnya bernama Persebo Bondowoso tersebut. Hanya saja, Hidayat dikonfirmasi terpisah tegas-tegas menolak tuduhan itu. “Masak saya mau menghancurkan klub saya sendiri,” ujar mantan Ketua Harian Asprov PSSI Surabaya tersebut.
Tetapi, dia terus terang jika memang ada upaya pengaturan skor antara PSS Sleman menghadapi Madura United di babak 8 besar. Dia mengakui dikontak orang Sleman yang ingin mengatur pertandingan yang berakhir untuk kemenangan Madura FC 2-1 di leg pertama. “Saya dikontak orang Sleman itu untuk mengatur pertandingan tersebut. Tetapi bukan manajemen tim PSS Sleman,” ujar Hidayat yang menolak menyebut nama orang Sleman yang mengontak dirinya.
Atas kasus ini, Sesmenpora Gatot S Dewa Broto mengimbau PSSI harus bisa proaktif dalam mengungkap kasus pengaturan skor yang terjadi di Liga Indonesia. Menurut Gatot, jika berhasil momen ini setidaknya bisa memperbaiki citra PSSI yang sudah terlajur negatif di mata publik terkait kegegalan Timnas di Piala AFF dan tanggapan Ketum PSSI, Edy Rahmayadi. “PSSI harus proaktif (mengungkap pengaturan skor) jangan menunggu,” kata Gatot.
Sesmenpora pun turut menyebutkan landasan hukumnya, dan berharap pihak kepolisian juga bisa membantu mengungkap kasus pengaturan skor yang terjadi di Liga Indonesia ini. “Perangkat hukumnya ada, UU No 11 tahun 80 itu masih berlaku tentang pidana suap, pasal 2,3,4 5 masih berlaku,” ujar Sesmenpora.
“Aparat kita minta melihat lebih broader, jangan bukti kurang jadinya dibiarkan. Kita masih ingat 2 tahun lalu di surabaya, ada yang diduga pengaturan, baru 10 hari sudah dibebaskan, polisi diharapkan membantu hal ini,” tutupnya. (nov)