Selasa, 23 Juli 2024
22 C
Surabaya
More
    Dicurhati Petani Garam, Khofifah Langsung Telfon Menko Maritim

    Dicurhati Petani Garam, Khofifah Langsung Telfon Menko Maritim

    SURABAYA – Navigasi program calon gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa melanjutkan navigasi dengan ngobrol bersama petani garam di Pakal, Kecamatan Benowo, Senin (2/4/2018).

    Khofifah berdialog bersama petani tambak yang menceritakan tentang keluhannya terkait kondisi garam di Indonesia yang memberatkan petani. Terutama adanya kebijakan impor garam konsumsi dan juga masalah penurunn harga.

    Seperti langkah Khofifah di Blitar bersama peternak telur dan juga saat di Jombang bersama petani padi, dirinya menelepon menteri republik Indonesia agar bisa mengatasi masalah masyarakat di lapangan.

    Saat bersama petani garam Pakal, ini giliran Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman RI, Luhut Binsar Pandjaitan, yang ditelefon Khofifah dan diskusi menyelesaikan masalah yang ada di tataran petani garam.

    Abdul Kholid, Ketua Petani Garam Pakal, adalah orang yang berbincang langsung dengan Luhut. Dalam pembicaraan yang juga disampaiman di depat Khofifah tersebut dirinya mengeluhkan beberapa masalah yang dihadapi para petani garam.

    “Saat ini harga garam Rp 300 ribu per ton. Padahal totl biaya operasional pengangkutan dari tambak ke jalan raya, karung dan semuanya selalu di atas Rp 120 ribu per ton,” kata Kholid.

    Sementara Asrofi Kader Partai Golkar Surabaya berpose sejenak  dengan Calon Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.
    Sementara Asrofi Kader Partai Golkar Surabaya berpose sejenak
    dengan Calon Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

    Dirinya ingin agar ada kebijakan yang bisa meningkatkan kesejahteraan petani garam. Terutama saat panen raya. Yang sering terjadi adalah harga garam di pasar jauh anjlok. Padahal justru sedang panen raya.

    “Nyatanya saat ini saat panen raya, ada gelontoran garam impor. Banyak garam konsumsi juga diimpor. Izinnya berapa yang didatangkn berala sering kali lebih dari yang diizinkan,” tegasnya.

    Tidak hanya soal itu, Kholid juga meminta agar untuk garam ada harga eceran tertertinggi dan batas atas batas batas bawah. Agar bisa ada penyejahteraan masyarakat dari kalangan petani garam.

    Usai berbincang langsung dengan Menteri Luhut, dirinya mengaku senang dengan langkah Khofifah yang respinsif dan mengatasi masalah langsung.

    “Bagus, hebat. Kami ini se Pakal, petani tambak, dan se-Surabaya ingin agar Ibu Khofifah jadi gubernur. Kalau sudah jadi gubernur jangan sampai melupakan kami,” kata Kholid.

    Saat diwawancara Khofifah mengatakan, ada banyak hal yang bisa ia jadikan hasil navigasi program. Menurutnya ia sengaja menghubungi pejabat pengambil keputusan utama seerti menteri untuk mempercepat penyelesaian masalah di lapangan.

    “Saya memang beberapa kali begini saat melakukan kunjungan, saya mencoba komunikasi ke orang yang membuat kebijakan utama. Dan alhamdulillah bersambung ke Pak Menko Maritim,” kata Khofifah.

    Dari curhatan petani garam tersebut sudah tersampaikan terkait pengajuan harga eceran tertinggi. Dimana mereka ingin agar harga garam bisa di atas Rp 1000 per kilogramnya.

    “Mereka bisa dapat untung kalau harga garam diatas seribu. Sebernarnya presiden sudah menetapkan harga bisa Rp 1500 kilogram, namun nyatanya mereka mengalami harga Rp 300 per kilogramnya, kalau seperti ini mereka tidak laba,” kata Khofifah.

    Begitu juga dengan masalah impor garam. Menurutnya memang harus dilakukan telaah lebih lanjut dan detail.

    Terutama terkait data produksi garam Jawa Timur berapa dan juga kebutuhannya berapa. “Kebutuhan garam konsumsi berapa, kalau masih terpenuhi dengan ketersediaan produksi lokal, jangan sampai imlor apalagi kalau saat panen garam,” kata Khofifah.

    Tidak hanya itu, Khofifah menyampaikan bahwa ke depan komitmenny adalah menguatkan plasma. Sebab tidak semua petani garam adalah petanj besar, sehingga petani kecil juga masih bisa survive.

    “Presiden menekankan prioritas segera swasembada. Dan menghentikan impor garam industi di tahun 2020. Kalau sudah tidak impor, pola yang lebih sustain harus terus disinergikan,” kata Khofifah. (min)

    Reporter : Amin Istighfarin

    Editor : Nakula

    Redaktur : WartaTransparansi.com

    COPYRIGHT © 2018 WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan