“Inisiatif baru atau kebijakan antisipatif diperlukan agar ekses perang dagang itu tidak menimbulkan kerusakan serius di dalam negeri. Karena itu, Pemerintah dan DPR tidak boleh pasif,” ujar Bamsoet, sapaan akrabnya, dalam press release yang diterima wartatransparansi.com di Jakarta, Senin (10/6/2019).
Sebab, tutur Bamsoet, bisa dipastikan kinerja ekspor akan melemah. Sehingga, defisit neraca perdagangan bisa berkepanjangan.
Politisi Partai Golkar ini menyatakan, laju ekspor sejumlah komoditas unggulan Indonesia, seperti minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil(CPO) dan karet tidak akan mulus lagi. Pada saat yang sama, ada potensi pasar Indonesia yang besar akan dibanjiri produk impor.
“Salah satunya adalah produk baja dari China. Dampak lainnya adalah meningkatnya permintaan valuta asing akibat tingginya volume impor. Tingginya permintaan valuta asing berpotensi mendepresiasi rupiah,” ungkapnya.
Legislator dapil Jawa Tengah VII ini menegaskan, berbagai kemungkinan buruk itu harus diantisipasi. Pemerintah dan DPR RI harus bersiasat, agar ketidakpastian global itu tidak menimbulkan kerusakan serius. Untuk itu, negara harus dalam situasi kondusif.





