Guyonan Bahlil ke Emil, Demokrat: Sinyal Koalisi, Bukan Pindah Partai

Guyonan Bahlil ke Emil, Demokrat: Sinyal Koalisi, Bukan Pindah Partai

SURABAYA, WartaTransparansi.com – Candaan Ketua Umum Bahlil Lahadalia yang mengajak Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak bergabung ke Partai Golkar memantik spekulasi politik jelang Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim. Namun, Partai Demokrat menilai pernyataan itu sebatas dinamika komunikasi elite, bukan sinyal perpindahan partai.

Muhammad Arbayanto, politisi Demokrat yang juga Kepala Bakomstra Demokrat Jatim, menegaskan hubungan hangat antar-elite justru mencerminkan terbukanya peluang koalisi pada Pilgub mendatang.

“Relasi personal yang baik menjadi indikator ruang komunikasi politik tetap cair. Ini lebih pada sinyal koalisi, bukan perpindahan kader,” ujar Arbayanto, Rabu (18/2/2026).

Candaan itu dilontarkan Bahlil saat memberikan arahan pada pelantikan 3.000 pengurus DPD Partai Golkar kabupaten/kota se-Jatim di Jatim Expo, Minggu (15/2/2026). Di hadapan ribuan kader, ia berkelakar menyebut Emil mulai “goyang” dan membuka pintu jika merasa nyaman bersama partai berlambang beringin.

Menurut Arbayanto, hingga kini peta kandidat Pilgub Jatim masih sangat terbuka. Belum adanya figur resmi yang diusung Golkar membuat nama Emil tetap masuk radar kuat, baik sebagai calon gubernur maupun wakil gubernur. Tingkat popularitas dan pengalaman Emil dinilai menjadi alasan banyak partai membangun komunikasi lebih awal.

“Fenomena ini menunjukkan Mas Emil figur strategis. Bukan hanya Golkar, partai lain juga tentu menjajaki komunikasi karena melihat peluang kepemimpinan ke depan di Jawa Timur,” ujarnya.

Meski demikian, Arbayanto menegaskan tak ada tanda Emil akan meninggalkan Demokrat. Ia mengingatkan, Emil kerap menyebut Demokrat sebagai partai pertama dalam perjalanan politiknya, bahkan berpotensi menjadi yang terakhir.

Dalam perspektif lebih luas, ia menilai kontestasi Pilgub Jatim akan ditentukan kesamaan visi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat, bukan sekadar perpindahan kader. Koalisi lintas partai dinilai lebih realistis ketimbang spekulasi hijrah politik individu.

“Yang utama adalah kepemimpinan berkelanjutan bagi Jawa Timur. Soal partai, itu strategi yang akan menemukan momentumnya menjelang pendaftaran,” tegasnya.

Arbayanto menambahkan, dinamika yang muncul saat ini menunjukkan kompetisi masih tahap awal. Ruang komunikasi antar-elite tetap terbuka, sementara peta politik menuju Pilgub Jatim masih dinamis. (amin istighfarin)