IPM Jatim Terendah di Pulau Jawa

IPM Jatim Terendah di Pulau Jawa

Surabaya – Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Jawa Timur berada di urutan ke-15 di Indonesia. Dibandingkan beberapa provinsi di Pulau Jawa, IPM Jawa Timur menjadi yang terendah. Karenanya, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menggelar rapat terbatas (ratas) untuk memetakan penyebab rendahnya IPM di Jatim.

Ratas dengan sejumlah Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, juga dengan Badan Pusat Statistik ini berlangsung di Gedung Negara Grahadi, Jumat (5/4/2019). Hasilnya, menurut Khofifah, banyak data-data penting yang bisa digunakan sebagai bahan intervensi peningkatan IPM Jawa Timur oleh Pemprov Jatim.

“Kami ingin mengurai, mencari titik pusatnya di mana. Ternyata ketemu, rata-rata lama sekolah. Hari ini BPS datang. Ternyata, rata-rata lama sekolah (masyarakat Jawa Timur) 7,39 tahun,” kata Khofifah kepada wartawan di sela-sela istirahat Ratas di Grahadi.

Khofifah menjelaskan, data BPS yang menyebutkan rata-rata lama sekolah hanya 7,39 tahun itu berarti sebagian besar masyarakat Jawa Timur menempuh pendidikan hanya sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP) kelas 2 (Kelas VIII) semester pertama. Padahal, program pendidikan yang dijalankan pemerintah minimal sampai sembilan tahun, atau sampai lulus SMA/SMK.

“Siapa Mereka? ternyata sebagian besar mereka adalah (masyarakat) di atas umur 25 tahun. Apa yang bisa kita lakukan? Kejar paket C. Kejar paket C ini, kan, tugas kabupaten/kota tetapi kami ingin membangun satu kesepahaman pentingnya kita mengintervensi mereka yang terutama berumur 25 tahun ke atas sampai 44 (usia produktif),” ujarnya.

Dari seluruh masyarakat Jawa Timur yang berpendidikan rata-rata 7,39 tahun itu, kata Khofifah, hampir 64 persen di antaranya sudah berada di dunia kerja. Atau bisa dikatakan, sebagian besar karyawan yang ada di perusahaan-perusahaan di Jawa Timur ini rata-rata masih berpendidikan di bawah SMA.

“Maka kami akan koordinasikan dengan para pemilik perusahaan (melalui Asosiasi Pengusaha Indonesia/Apindo) agar bisa memberikan layanan kejar paket C bagi tenaga kerjanya yang belum lulus SMA,” ujarnya.

Tidak hanya berdasarkan rata-rata lama sekolah, rendahnya IPM di Jawa Timur juga dilihat dari usia harapan hidup. Usia harapan hidup masyarakat Jawa Timur lebih rendah dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Penyebabnya, karena ada masyarakat di beberapa daerah yang gizinya kurang baik.

“Apakah mereka miskin, ternyata nggak juga? Tim BPS turun, bahkan katanya sampai tidur di rumah penduduk, faktornya karena mungkin tidak teredukasi tentang gizi. Mana makanan yang sehat, mana makanan bergizi itu rupanya harus disosialisasikan kembali,” ujarnya.

Sosialisasi itu, kata Khofifah, merupakan tugas semua pemangku kebijakan dan masyarakat. Pemprov Jawa Timur sendiri berharap adanya revitalisasi Posyandu dan PKK di masyarakat. Pemprov, kata Khofifah, juga akan membangun kerja sama dengan perguruan tinggi terdekat.