Saya baru nenulis tentang rembulan jika diperlambat atau dipercepat, maka semua itu kuasa Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tulisan sederhana itu hanya ingin berbagi cerita ilmu yang sederhana bahwa kehebatan manusia hanya menjalankan petunjuk dari Allah SWT semata, bukan karena kehebatan sejati, apalagi kecerdasan dan kemampuan intelektual dinyatakan bersifat mutlak.
Tentu hanya sebentar saja. Karena yang bisa mempercepat dan memperlambat rembulan hanyalah Allah SWT. Demikian juga ketika menentukan awal puasa, gara-gara rembulan atau hilal (rembukan penanggalan perdana) kadang bisa dilihat dengan kasat mata dan teknologi, kadang karena belum sempurna tidak mampu dilihat. Maka semua kembali kepada Allah SWT.
Belum selesai menulis dalam perjalan dari Surabaya menuju Semarang, mendampingi Ketua Plt PSSI Jawa Tengah Ahmad Riyadh UB PhD dengan Ketua Plt PSSI Jawa Timur Khairul Anwar, tiba-tiba pengumuman kereta api Agro Anggrek tidak bisa melanjutkan perjalanan ke Semarang. Sehingga harus maju mundur mencari jalan menuju Semarang tanpa melewati jalan yang banjir, akibat hujan lebat di daerah Gubuk Semarang. Maka kereta memutar dan maju mundur, kami dari gerbong eksekutif 1 jadi gerbong paling belakang, dan tentu saja dengan sabar menerima kedatangan ke Semarang, terlambat.
Padahal sudah hampir sampai sekitar 30 km, dan jika ditempuh dengan kereta api cepat Agro Anggrek sekitar 30 menit sudah sampai. Maka kereta api (seperti mainan di Mall) harus berputar putar maju mundur mencari jalan alternatif.
“Ya kalau lancar tadi kira-kira kurang 30 menit sudah sampai,” kata Khairul Anwar, Senin (16/2/2026) di atas kereta api.
Saya mau mengatakan bahwa kehebatan dan kecanggihan, memuja dan memuji Agro Anggrek dengan kecepatan dan ketepatan waktu diingatkan oleh Allah SWT. Bahwa jika alam berkehendak lain, maka semua akan berubah dalam waktu sekejap. Dan inikah perjalanan “ajaib” itu. Nyata tetapi ajaib karena alam telah menerima keajaiban dalam waktu sekejap pula.
Sebagaimana Surat An Naml 65; *Qul la ya’lamu man fis-samawati wal-arḍil-gaiba illallah*…
Artinya: “*Katakanlah (Muhammad), ‘Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib, kecuali Allah…’”.*
Sekaligus mengutip ayat terakhir Surat Al Kahfi 109-110;
qul lau kânal-baḫru midâdal likalimâti rabbî lanafidal-baḫru qabla an tanfada kalimâtu rabbî walau ji’nâ bimitslihî madadâ





