Oleh Dr. Agus Raikhani, M.MT
(Dosen Pasca sarjana Magister Ilmu Ekonomi Universitas Darul ‘ Ulum Jombang)
Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan keberkahan dan rahmat. Pada bulan ini, kita berpuasa sepanjang hari, kita diharuskan menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu selama beberapa jam dalam sehari sehingga kita harus memiliki ketahanan fisik dan mental yang kuat agar tetap bisa bekerja dengan baik.
Karena lapar dan haus maka pasti berpengaruh pada stamina kita, namun perlu dipahami bahwa lapar bukan alasan untuk menjadikan produktivitas kita menjadi menurun, melainkan mesti menjadi dorongan untuk meraih kebaikan, serta menjadikannya sarana transformasi fisik dan mental,karena esensi puasa tidak didesain sebagai penghambat produktivitas.
Justru puasa di saat bulan Ramadhan, seyogyanya menjadi sebuah motivasi, pijakan, dan batu loncatan untuk meningkatkan daya juang.
Bekerja mencari nafkah untuk bekal kehidupan merupakan kewajiban. Pentingnya bekerja serta larangan untuk bermalas-malasan diingatkan dalam Al-Qur’an dan hadits., yaitu ayat Al Qur’an Surat At-Taubah ayat 105, yang artinya:
“Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”
Pentingnya bekerja serta larangan untuk bermalas-malasan juga diriwayatkan juga dalam Hadits Riwayat Abu Dawud, Artinya:
“Seseorang cukup dikatakan berdosa jika ia melalaikan orang yang wajib ia beri nafkah”.
Sementara Syaikh Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili , dalam kitabnya Fiqhul Islam, menyinggung bahwasannya puasa justru akan memperkuat kehendak dalam melakukan sesuatu serta mempertajam intuisi dalam mengambil suatu tindakan yang dapat menunjang produktivitas pada saat berpuasa di bulan Ramadhan.
Yang artinya, “Berpuasa dapat memperkuat kemauan, mempertajam tekad, mengajarkan kesabaran, berperan terhadap kejernihan nalar, merangsang pikiran, mengasah argumentasi cemerlang disaat seseorang yang berpuasa telah melewati fase pelepasan.” (Wahbah Zuhaili, Al-Fiqhul Islam wa Adillatuhu, [Beirut, Darul Fikr: 1985], juz III, halaman 1618).
Saat puasa kita mesti memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dengan mengatur jadwal kerja dan kegiatan sehari-hari secara lebih baik, membagi waktu saat berpuasa untuk melakukan banyak kegiatan yang bernuansa ibadah lainnya, seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, shalat, atau berdoa.
Bagaimana meningkatkan etos kerja dan produktivitas kita saat berpuasa pada bulan Ramadhan?
Bersyukur atas pekerjaan yang kita miliki,
Saat berpuasa Ramadhan, dan bahkan dalam setiap tarikan nafas, kita diajarkan untuk bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah swt, termasuk pekerjaan yang dimiliki.





