“Teknologi, hanyalah alat. Ia bisa mempercepat kerja, tetapi tidak memiliki nurani. Jurnalisme adalah profesi berbasis nurani dan kebenaran,” kata Usmar Almarwan.
Menurut dia, tantangan terbesar insan pers bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, melainkan memastikan setiap informasi yang diproduksi tetap menjunjung tinggi etika dan kebenaran. Ia mengingatkan pemanfaatan AI tanpa koridor yang jelas berpotensi membuat jurnalisme menjadi “dingin”, kehilangan empati dan keberpihakan terhadap kelompok rentan.
IJTI memandang integritas dan empati sebagai ciri khas jurnalisme manusia yang tidak dimiliki mesin. Karena itu, forum refleksi seperti Ngaji Jurnalistik dinilai penting untuk memperkuat kesadaran etik di kalangan jurnalis televisi.
Selain diskusi, IJTI juga menggelar santunan bagi 20 anak yatim dari As Suhaimiyah, Kebon Sirih, Jakarta. Ketua Umum IJTI Herik Kurniawan mengatakan kegiatan tersebut menjadi wujud kepedulian sosial organisasi.
“Selain berbagai pengetahuan untuk jurnalis televisi, kita juga berbagi kebahagian dengan warga sekitar,” kata dia.
Menurut Herik, Ramadan menjadi momentum tepat untuk mempererat silaturahmi dan berbagi.
“Ramadan adalah momen istimewa untuk mempererat silaturahmi melalui tradisi berkumpul seperti buka puasa bersama,” katanya.(*)





