Surabaya Pemenang The Bloomberg Philanthropies Mayors Challenge

Surabaya Pemenang The Bloomberg Philanthropies Mayors Challenge
Bloomberg Philanthropies menetapkan Surabaya sebagai salah satu dari 24 kota pemenang ajang The Bloomberg Philanthropies Mayors Challenge.

Adapun 24 kota pemenang itu berasal dari berbagai kawasan dunia, yakni As-Salt (Yordania), Barcelona (Spanyol), Beira (Mozambik), Belfast (Inggris), Benin City (Nigeria), Boise (Amerika Serikat), Budapest (Hungaria), Cape Town (Afrika Selatan), Cartagena (Kolombia), Fez (Maroko), Fukuoka (Jepang), Ghaziabad (India), Ghent (Belgia), Kanifing (Gambia), Lafayette (Amerika Serikat), Medellín (Kolombia), Netanya (Israel), Pasig (Filipina), Rio de Janeiro (Brasil), South Bend (Amerika Serikat), Surabaya (Indonesia), Toronto (Kanada), Turku (Finlandia), dan Visakhapatnam (India).

Sebelumnya, pada tahap lanjutan, Juli 2025, sebanyak 200 pejabat kota dari 50 kota finalis termasuk perwakilan Surabaya mengikuti Ideas Camp yang diselenggarakan Bloomberg Philanthropies di Bogotá. Forum tersebut menjadi ruang kolaborasi bagi para finalis untuk menyempurnakan konsep bersama para ahli sebelum diimplementasikan lebih luas.

Sebagai finalis, Surabaya menerima hibah awal sebesar USD 50.000 disertai pendampingan teknis guna menguji dan mematangkan gagasan di tingkat lokal.

Program ini melanjutkan lebih dari satu dekade komitmen Bloomberg Philanthropies dalam menemukan, mengembangkan, dan memperluas inovasi di berbagai kota dunia. Dalam lima putaran sebelumnya, sebanyak 38 kota pemenang telah memperoleh pendanaan dan dukungan teknis untuk merealisasikan solusi atas beragam isu perkotaan.

Dengan mendukung replikasi ide-ide terbaik tersebut, Bloomberg Philanthropies telah memperluas dampak Mayors Challenge ke 337 kota di seluruh dunia, menjangkau lebih dari 100 juta penduduk.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, Dedik Irianto, menambahkan bahwa dukungan tersebut akan mempercepat perluasan implementasi program ke berbagai kampung yang terintegrasi dengan Program Kampung Pancasila. Melalui perluasan tersebut, edukasi masyarakat akan terus diperkuat guna meningkatkan pemahaman mengenai manfaat kesehatan, lingkungan, dan ekonomi dari penggunaan produk pakai ulang.

Menurutnya, pelaksanaan program dilakukan secara kolaboratif bersama tenaga kesehatan, rumah sakit, ritel, organisasi nirlaba, serta mitra sektor swasta untuk mendampingi keluarga beralih ke produk pakai ulang produksi lokal. Selain mendorong perubahan perilaku yang lebih ramah lingkungan, program ini juga mencakup pelatihan bagi produsen berbasis komunitas agar mampu menciptakan lapangan kerja layak, memperkuat ekonomi sirkular Surabaya, serta menjaga kelestarian Sungai Brantas dan kesehatan generasi mendatang.

“Inisiatif ini membantu Surabaya mengurangi limbah berbahaya, melindungi Sungai Brantas, dan menekan beban TPA sekaligus menciptakan pekerjaan hijau bagi masyarakat. Program ini membuktikan bahwa perlindungan lingkungan dan pemberdayaan komunitas dapat berjalan seiring,” ujar Dedik.

Ia menjelaskan, hasil uji coba di Surabaya menunjukkan dampak yang terukur dan signifikan. Penggunaan popok sekali pakai pada keluarga peserta menurun hingga 80 persen, disertai penurunan tajam kasus ruam popok serta tidak ditemukannya laporan infeksi saluran kemih. Selain itu, pembuangan popok ke sungai berhasil dihentikan dengan tingkat adopsi mencapai 99 persen dari 300 keluarga peserta. Dalam satu bulan, uji coba tersebut mampu mencegah lebih dari tujuh ton sampah popok, meskipun cakupannya masih sekitar 0,2 persen bayi di Surabaya.

“Capaian ini menjadi bukti bahwa perubahan perilaku masyarakat dapat dibangun melalui pendekatan edukatif dan kolaboratif. Ke depan, praktik inovasi ini akan terus kami perluas agar manfaatnya semakin dirasakan masyarakat sekaligus memperkuat perlindungan lingkungan,” ujarnya. (*)

Editor: Wetly