“Jadi bagaimana mahasiswa dapat memberikan solusi nyata untuk permasalahan bagi koperasi SMB ini,” ujar Vido.
Ketua Koperasi SMB, Ucik Fatimatuzzahro, menyambut antusias kehadiran para akademisi di koperasinya. Dalam empat tahun berjalan, koperasi yang memiliki 111 anggota penjahit ini telah berkembang dari sekadar memproduksi seragam sekolah menjadi berbagai jenis pakaian seperti baju kerja, kaos, hingga busana muslim.
Oleh karena itu, kata Ucik pengembangan dalam hal digitalisasi khususnya untuk mempermudah manajemen sangat diperlukan dalam upaya memperluas jangkauan usaha.
“Kami sangat terbatas dalam hal digitalisasi marketing dan manajemen. Kami berharap ada sistem seperti ‘rekam medis’ untuk setiap Sumber Daya Manusia (SDM) atau yang bekerja di sini, sehingga performa penjahit dan biaya tenaga kerja tercatat dengan jelas. Dengan database digital, kami bisa menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP) lebih efisien dan siap menyasar pasar di luar Pulau Jawa,” kata Ucik.
Menanggapi hal tersebut, salah satu Mahasiswa UK Petra, Sebastian Yohan Setiadji mengatakan bahwa mahasiswa yang terlibat dari program ini, akan merancang sistem manajerial yang mencakup manajemen stok dan basis harga dari supplier.
“Tantangannya adalah memahami kebutuhan mendalam mereka. Kami berharap pihak koperasi terbuka memberikan data detail agar implementasi sistem ini benar-benar akurat dan bisa membantu mengelola stok serta proyek yang masuk secara otomatis,” kata mahasiswa semester 5 jurusan Data Science and Analytics UK Petra itu.
Ia berharap setelah prototipe situs web berhasil dirancang, akan ada pelatihan lanjutan bagi para penjahit. Hal ini penting agar digitalisasi benar-benar terimplementasi dan mempermudah operasional mereka. Tanpa sosialisasi yang memadai, dikhawatirkan para anggota akan kembali menggunakan pencatatan manual. (*)





