Minggu, 21 April 2024
28 C
Surabaya
More
    OpiniPojok TransparansiMarhaban ya Ramadan, Kesempatan Meraih Gelar Cumlaude

    Marhaban ya Ramadan, Kesempatan Meraih Gelar Cumlaude

    Oleh H. S. Makin Rahmat SPd SH MH (Ketua SMSI Jatim)

    TANPA Terasa 1 Ramadan 1445 Hijriyah telah tiba. Muhammadiyah hari ini Senin (11/3/2024) hari pertama berpuasa. Sedangkan Pemerintah akan memulai pada Selasa (12/3/2024. Bagi umat muslim yang beriman merupakan momen istimewa menyongsong bulan suci Ramadan nan mulia di mana bulan pertama diturunkan Al Qur’an dan Lailatul Qadar (malam lebih mulia dari 1000 bulan).

    Mengapa bulan Ramadan begitu istimewa dan khusus? Merujuk dari berbagai literasi dalil, baik firman Allah SWT dalam Alquran dan hadits qutsi serta panduan sabda Baginda Rasulullah SAW menjadi hamba yang selalu menghamba kepada Sang Khalik.

    Sebelum mengulik referensi menambah keyakinan, marilah kita menata hati, jasad dan ruh kita untuk memenuhi syarat dan seleksi awal guna mendapatkan seruan perintah Allah SWT. Selaras dengan firmanNya di Al-Qur’an surat Al Baqarah: 183:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

     “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

    Kontek seruan kepada manusia yang beriman tentu menjadi syarat mutlak dengan target akhir bertakwa. Begitu pula dengan sabda Rasulullah:

    مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إيْمَا نًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

    “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadan karena Iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu,” (HR Bukhari & Muslim).

    Sekali lagi, bila mengupas tentang keutamaan dan kemuliaan Ramadan tidak perlu terjadi perdebatan. Bukan lagi saatnya berpolemik soal taraweh 11 atau 23 rakaat, beruntunglah orang-orang yang mampu menjaga puasa Ramadan dengan segala amal kebaikan semata-mata mencari ridloNya. Apalagi berpikiran ‘cekak’ mempersoalkan amaliyah sebelum Ramadan, seperti megengan, ziarah kubur, silaturahmi dan kegiatan yang dianggap bid’ah.

    Padahal bila merujuk pada dalil-dalil yang berjimbun dan diperjelas lagi dengan Uswatun Hasanah (contoh yang baik) para waliyullah terdahulu, semestinya bangga bahwa untuk menjadi hamba-Nya lulus cumlaude (khusus wal khusus) dibutuhkan manajemen hati untuk meruntuhkan kesombongan, iri hati, dengki, sifat yang bisa memporak-porandakan nilai-nilai keimanan kita.

    Dalam hadits qutsi Allah SWT berfirman: “Bahwa amalan anak Adam itu untuk dirinya, kecuali puasa. Karena puasa itu untuk Aku dan Aku yang akan membalasNya.”

    Kalau sudah jelas dan gamblang, mari kita songsong bulan Ramadan dengan penuh gembira, kita singkirkan hal-hal yang menciderai dan mengurangi nilai kita meraih gelar cumlaude.

    Bahkan karena istimewanya Ramadan saja, sahabat sempat bertanya kepada Rasulullah SAW:

    أيُّ الصَّدَقَةِ أفْضَلُ؟ قَالَ صَدَقَةٌ فَيْ رَمَضَانَ

    “Rasulullah SAW pemah ditanya; Sedekah apakah yang paling mulia? Beliau menjawab: “Yaitu sedekah di bulan Ramadan,” (HR Tirmidzi)

    Dalam riwayatkan Imam Nasa’i, Rasulullah bersabda:

     أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

     “Telah datang kepadamu bulan Ramadan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu. Dalam bulan itu dibukalah pintu-pintu langit, dan ditutuplah pintu-pintu neraka, dan syaitan-syaitan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.”

    Mari kita sambut dengan doa yang diabadikan Imam Makhul al-Syami (w.112 H) bahwa ia membaca doa saat memasuki bulan Ramadan:

    أللهمَّ سَلِّمْنِي لِرَمَضَانَ، وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِي، وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلًا

    ”(Ya Allah, sampaikan aku kepada [bulan] Ramadan. Sampaikanlah Ramadan kepadaku (juga) dan terimalah [amal-amal] di Ramadan).” (Imam Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad ath-Thabrani, Kitâb al-Du’â’, 2007, hlm. 312).

    Marhaban ya Ramadan. Wallahu a’lam bish-showab. (*)

    Penulis : H. S. Makin Rahmat, SPd SH MH

    Sumber : WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan