Dr. Surokim : Masyarakat Tak Terpengaruh Manuver Elit Politik

Dr. Surokim : Masyarakat Tak Terpengaruh Manuver Elit Politik
Dekan Fakultas Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB)  Universitas Trunojoyo, Madura Dr. Surokim Abdussalam

SURABAYA (Wartatransparansi.com) – Di tengah manuver yang kian gencar dan terus menerus yang dilakukan elit politik di tanah air menjelang pelaksanaan Pilpres pada  Pemilu Februari 2024, ternyata rakyat menyikapi dengan adem ayem. Tidak ada suasana pesta demokrasi seperti ditunjukkan di berbagai negara belahan bumi lainnya.

 

Menanggapi kondisi itu, Dekan Fakultas Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB)  Universitas Trunojoyo, Madura Dr. Surokim Abdussalam punya pemikiran kearah positif. Menurutnya, saat ini dosen yang juga seorang peneliti senior di Surabaya Survei Center itu menganggap saat kondisi masyarakat Indonesia sudah memiliki kedewasaan dalam berpolitik, khususnya warga grassroot atau akar rumput.

 

“Sebenarnya masyarakat kita bukan apatis. Tetapi, memang ekspresi politik masyarakat sudah berubah dibandingkan pada Pemilu-Pemilu sebelumnya. Ini dikarenakan adanya perubahan atau transformasi dari kegiatan yang sebelumnya dalam bentuk offline, namun kini sudah menjadi kegiatan online,” kata Surokim kepada media ini di Surabaya, Rabu (27/12/2023)

 

“Karena itu, jika sebelumnya ada kegiatan pemilu, selalu terjadi ‘kegaduan’ sebagai dampak kampanye offline yang kadang timbul gesekan antar-pendukung partai,” lanjutnya.

Menurutnya, jika melihat kegiatan kampanye yang sudah berjalan dua bulan ini, dampak dari banyaknya kegiatan yang diterima masyarakat secara cepat secara online, hingar binger-nya cenderung ada di ruang politik virtual. Masyarakat pun juga kian dewasa tidak mudah terbawa manuver yang dilakukan para elit dan lebih banyak wait and see melihat dinamika yang ada.

 

Di situ, lanjut Surokim, dirinya lebih yakin jika perubahan perilaku masyarakat di tanah air saat ini kian kompleks termasuk kecenderungan untuk bisa menahan diri dan tidak ikut arus pusaran konflik yang diciptakan sendiri oleh para elit politik.

 

Selain itu, menurutnya, secara demografis pada Pemilu 2024 kali ini akan didominasi oleh generasi milenial yang memang tidak terlalu ekspresif menyenangi konfliktual. Mereka lebih menyukai hal-hal yang sifatnya damai dan penuh persahabatan.

 

“Intinya mereka (generasi z atau milenial) memang cenderung individualistik. Tetapi,  sesungguhnya punya kepedulian tinggi terhadap kepentingan bersama. Bagi mereka, elit itu terlalu serius dan omong doang. Mereka menyukai hal-hal yang simple dalam politik, politik empatik dan santai bukan politik gaduh yg serba berat,” tambah Surokim.

 

Ekspresi generasi milenial khususnya gen Z, dinilai Surokim lebih mencintai kedamaian dan kolaborasi bersama. Politik dipersepsi sebagai kerjasama bukan kompetisi yang sehat dan bukan bukan saling membuka front pro kontra yang penuh intrik. Mereka menyenangi hal hal yang alami dan jujur.

 

Perubahan-perubahan itu, menurutnya sudah mulai dirasakan dan lihat trendnya dalam pemilu kali ini. “Tetapi percayalah mereka tetap mengambil tanggungjawab untu ikut menyukseskan pemilu dengan caranya mereka sendiri yang bisa jadi berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya,” tegasnya.

 

Surokim menganggap, dalam pandangan para milenial Pemilu lebih dipahami sebagai kontes kejujuran dan bukan sarana meraih kekuasaan dengan segala cara. Mereka menginginkan politik bersih dan sehat dan membenci hal hal yang sifatnya culas dan penuh intrik negatif. (*)