Kamis, 22 Februari 2024
26 C
Surabaya
More
    OpiniAncaman Pemimpin Suka Tipu Muslihat

    Ancaman Pemimpin Suka Tipu Muslihat

    Oleh: HS Makin Rahmat SPd SH MH, Santri Pinggiran & Serikat Media Siber Indonesia Jatim

    Mengawali tulisan muhasabah ini, Al Faqir mohon maaf bila ada yang tersinggung. Semua itu bagian dari rujukan dan keterbatasan atas pertanyaan untuk memilih sosok pemimpin yang ideal.

    Tanpa mengurangi keterbukaan dalam berpendapat di era globalisasi dan digitalisasi, tentu figur pemimpin yang kompeten memiliki akhlakul karimah (prilaku yang baik), diiringi sifat sidiq (jujur), amanah, fathonah (cerdas) dan mempunyai kemampuan tablik yang memberikan rasa aman, nyaman, dan melindungi.

    Bukan sekedar diskenario, direkayasa dan dikondisikan seakan-akan memiliki kecerdasan, kepedulian dan melindungi rakyat. Padahal, di balik itu semua merupakan tipu muslihat belaka karena mengikuti pemilik modal yang memang bertujuan menanamkan investasi sebagai penjajah ekonomi.

    Baca juga :  Mari Kita Sambut Kemenangan Prabowo-Gibran

    Mereka tidak menyadari atau sengaja mengesampingkan bahwa tiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban. Di era sekarang, ahli informasi, buzzer dan siber pasti menelusuri dan mengacak-acak jejak digital pemimpin sesuai selera. Artinya, pemimpin yang belum siap tentu menjadi bulan-bulanan lawan politik dan tidak beda dengan pion hanya menjalankan arahan bos dan pemilik modal.

    Rasulullah SAW pernah bersabda tentang ancaman sosok pemimpin penipu:
    مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً، يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ، إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ
    “Tiada seorang yang diamanati Allah memimpin rakyat kemudian ketika ia mati, ia masih menipu rakyatnya, melainkan pasti Allah mengharamkan baginya surga,” (HR Bukhari)

    Baca juga :  Mari Kita Sambut Kemenangan Prabowo-Gibran

    Dari hadits di atas bukan sekedar peringatan namun menjadi ancaman serius. Sedang faktanya, menipu, membohongi dalam dunia politik disebut ‘sego jangan’ (hal lumrah).

    Bila kita lebih memilih kegiatan di akhirat nanti lebih kekal dan abadi, tentu para pemimpin lebih memperhatikan nasib rakyat. Marilah hidup yang hanya ‘mampir ngombe’ dijadikan sebagai bekal dan modal perjuangan, sesuai sabda beliau Baginda Rasulullah SAW:
    وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: كُنْ فِى الدُّنْيَا كَأنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْعَابِر سَبِيْلٍ وَعُدَّ نَفْسَكَ مِنْ أَهْلِ الْقُبُوْرِ
    “Jadilah di dunia seperti kamu mengembara/ berjuang di jalan Allah dan anggaplah dirimu (termasuk) dari ahli kubur,” (HR Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah).

    Baca juga :  Mari Kita Sambut Kemenangan Prabowo-Gibran

    Kalau tambah yakin bahwa hidup pasti mengalami kematian, tentu tidak akan grusa-grusu memilih sebagai seorang pemimpin. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish-showab. (*)

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan