Opini  

Musim Menabur Janji

Musim Menabur Janji
HS Makin Rahmat

Nah, budaya demokrasi lima tahunan ini mengubah pandangan masyarakat menjadi kultur: “Wani Piro!”. Jual-beli suara atau money politics bukan lagi sekedar informasi penyedap, namun menjadi syarat. Akhirnya, para pejabat yang menjadi presiden, gubernur, bupati, wali kota, anggota DPR, DPRD Provinsi Kabupaten Kota, hingga DPD berpikir dagang, mengambil keuntungan uang negara yang berasal dari rakyat.

Dari persoalan di atas, sepatutnya masyarakat harus berpikir sehat, jernih dan cerdas. Artinya, tiap pemegang hak konstitusi untuk memilih memiliki dedikasi keimanan. Apakah, patut kita hanya menerima kompensasi dana, sebut saja satu juta rupiah dalam masa lima tahun? Berarti tiap hari harga kita Rp 2.739 . Sejajar dengan tarif parkir motor, masuk toilet. Bahkan masih mahal, kalau parkir mobil.

Inilah penjajahan demokrasi model baru. Lantas bagaimana lebih mengkokohkan kita memilih pemimpin yang jujur, amanah dan memperjuangkan rakyat? Mari telaah firman Allah SWT di QS Al An’am ayat 48:
وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ ۖ فَمَنْ آمَنَ وَأَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Dan Kami tidak mengutus para Rasul kecuali sebagai pembawa kabar gembira dan peringatan. Maka barang siapa beriman dan berbuat kemaslahatan, maka bagi mereka tidak akan takut dan sedih.”

Pondasi keimanan adalah kunci utama memilih pemimpin. Kalau salah dalam menjatuhkan pilihan, seyogyanya ikut dalam barisan orang-orang alim yang telah berijtihad. Jangan sampai tergelincir dalam golongan orang-orang munafik yang hanya bisa menabur janji tanpa bukti, sebagaimana hadist Baginda Rasulullah SAW:
آيَة الْمُنَافِق ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اُؤْتُمِنَ خَانَ
“Tanda-tanda orang munafik ada tiga, yaitu (1) ketika berbicara ia dusta, (2) ketika berjanji ia mengingkari, dan (3) ketika ia diberi amanat ia berkhianat). (HR Imam Bukhari).

Mari kita berikhtiar untuk negeri dan memohon petunjuk kepada yang Maha Kuasa untuk mendapatkan Pemimpin yang punya tanggung jawab membawa bangsa Indonesia, baldatun thoyyibatun warobbul Ghofur. Wallahu a’lam bish-showab. (*)