Kamis, 18 April 2024
31 C
Surabaya
More
    OpiniMusim Menabur Janji

    Musim Menabur Janji

    Oleh HS Makin Rahmat, Santri Pinggiran dan Ketua SMSI Jatim

    HAMPIR semua yang terlibat dalam pelaksanaan Pilpres, Pileg DPR, DPRD Provinsi, Kabupaten/Kota, Pemilukada, dan DPD tergerak untuk melakukan pendekatan dengan konstituen.

    Bagi incumben, tinggal mengevaluasi terhadap kinerja dan potensi perolehan suara agar tetap aman melenggang pada periode atau masa jabatan berikutnya. Sebaliknya, publik figur yang baru berjuang menapak kursi perdana pasti akan melakukan penjajakan lebih ofensif sehingga peluang meraih kursi lebih terbuka.

    Dari kouta kursi dengan berjibun calon yang berambisi, tentu menyesuaikan dengan baget anggaran yang dimiliki. Selain menunjuk tim sukses dan mempersiapkan alat peraga kampanye, pastilah semua membutuhkan logistik dana tidak sedikit. Ada yang rela menggadaikan surat berharga, sertifikat, BPKB, barang berharga.

    Baca juga :  Resolusi Pasca Idulfitri

    Lebih heboh lagi, kalau calon yang terhormat melakukan berbagai cara pendekatan merayu pemilih dengan menabur janji-janji manis agar tergerak menjatuhkan pilihan. Mulai berubah pembangunan fisik, mengganti transportasi tiap penggalangan massa hingga mengorbankan dirinya untuk mengabdi demi rakyat.

    Nah, budaya demokrasi lima tahunan ini mengubah pandangan masyarakat menjadi kultur: “Wani Piro!”. Jual-beli suara atau money politics bukan lagi sekedar informasi penyedap, namun menjadi syarat. Akhirnya, para pejabat yang menjadi presiden, gubernur, bupati, wali kota, anggota DPR, DPRD Provinsi Kabupaten Kota, hingga DPD berpikir dagang, mengambil keuntungan uang negara yang berasal dari rakyat.

    Dari persoalan di atas, sepatutnya masyarakat harus berpikir sehat, jernih dan cerdas. Artinya, tiap pemegang hak konstitusi untuk memilih memiliki dedikasi keimanan. Apakah, patut kita hanya menerima kompensasi dana, sebut saja satu juta rupiah dalam masa lima tahun? Berarti tiap hari harga kita Rp 2.739 . Sejajar dengan tarif parkir motor, masuk toilet. Bahkan masih mahal, kalau parkir mobil.

    Baca juga :  Resolusi Pasca Idulfitri

    Inilah penjajahan demokrasi model baru. Lantas bagaimana lebih mengkokohkan kita memilih pemimpin yang jujur, amanah dan memperjuangkan rakyat? Mari telaah firman Allah SWT di QS Al An’am ayat 48:
    وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ ۖ فَمَنْ آمَنَ وَأَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
    “Dan Kami tidak mengutus para Rasul kecuali sebagai pembawa kabar gembira dan peringatan. Maka barang siapa beriman dan berbuat kemaslahatan, maka bagi mereka tidak akan takut dan sedih.”

    Pondasi keimanan adalah kunci utama memilih pemimpin. Kalau salah dalam menjatuhkan pilihan, seyogyanya ikut dalam barisan orang-orang alim yang telah berijtihad. Jangan sampai tergelincir dalam golongan orang-orang munafik yang hanya bisa menabur janji tanpa bukti, sebagaimana hadist Baginda Rasulullah SAW:
    آيَة الْمُنَافِق ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اُؤْتُمِنَ خَانَ
    “Tanda-tanda orang munafik ada tiga, yaitu (1) ketika berbicara ia dusta, (2) ketika berjanji ia mengingkari, dan (3) ketika ia diberi amanat ia berkhianat). (HR Imam Bukhari).

    Baca juga :  Resolusi Pasca Idulfitri

    Mari kita berikhtiar untuk negeri dan memohon petunjuk kepada yang Maha Kuasa untuk mendapatkan Pemimpin yang punya tanggung jawab membawa bangsa Indonesia, baldatun thoyyibatun warobbul Ghofur. Wallahu a’lam bish-showab. (*)

    Penulis : HS Makin Rahmat,

    Sumber : WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan