Kamis, 22 Februari 2024
26 C
Surabaya
More
    OlahragaCatatan Tinju Sabuk Emas Pangdam V Brawijaya : Partai TKO Mendominasi, Petinju...

    Catatan Tinju Sabuk Emas Pangdam V Brawijaya : Partai TKO Mendominasi, Petinju Terbaik Belum Teruji

    SURABAYA (WartaTransparansi.com) – Pergelaran tinju profesional Sabuk Emas Pangdam V Brawijaya, dari 6 partai pertandingan didominasi pertarungan berakhir technical knockout (TKO). Hanya satu partai saja berakhir dengan kemenangan angka mutlak setelah menyelesaikan selama 6 ronde.

    “Terimakasih kepada pak Wefan (PW Afandy) yang mempelopori tinju memperingati HUT TNI pada tahun 2023. Terimaksih kepada yang menang selamat atas prestasi yang diraih, yang belum menang terus berlatih supaya berjaya di kemudian hari,” kata Pangdam V Brawijaya, Mayjen Farid Makruf MA, usai menyematkan sabuk emas dan menutup pergelaran, Selasa malam (17/10/2023).

    PW Afandy, Ketua KTI Jatim menyatakan sangat senang dapat menggelar kembali tinju profesional. Pemilik Sasana Inra Surabaya bersama Stafenus serta George Handiwijayanto, merangkul Asosiasi Petinju Indonesia (API) selaku promotor, Ketua API Nouke Norimarna, diberi kepercayaan menggelar pertandingan bergengsi ini.

    Catatan Tinju Sabuk Emas Pangdam V Brawijaya : Partai TKO Mendominasi, Petinju Terbaik Belum Teruji
    Petinju Oky Akbar De Lahoya usai bertarung

    Sebagai catatan bahwa setelah tinju pro Jatim “tidur” cukup lama, pergelaran tinju pro memang terkesan seperti baru muncul ke permukaan. Bahkan hanya menampilkan 3 partai empat ronde an dan 3 partai 6 ronde an. Menjadi tontonan menggairahkan.

    Padahal, jaman Jawa Timur pada era 80 an hingga 2010 an, ketika menjadi barometer tinju pro dan masih ada Sasana Pirrih BC, Sawunggaling BC, Indonesia Raya (Inra) BC, Javanoe BC Malang, Akas BC Probolinggo, Rajawali BC, partai 6 ronde dan 4 ronde, tidak lebih sebagai pertarungan pembinaan.

    Bahkan, petinju berbakat dan punya potensi juara nasional, sebelum merebut sabuk juara nasional, diuji lebih dahulu melalui perebutan gelar 10 ronde, sesuai dengan sabuk juara yang diperebutkan dalam rangka bermitra dengan lembaga atau instansi tertentu. Seperti Sabuk Emas Pengd V Brawijaya 2023.

    Tetapi pergelaran Sabuk Emas Pangdam V Brawijaya, patut mendapat dukungan secara positif. Sekaligus didorong untuk menggelar pertandingan lebih baik dan lebih baik. Apalagi dari 12 petinju yang bertanding, tidak satu pun berbendera Sasana asal kota pahlawan Surabaya.

    Pertandingan

    Berlangsung di GOR Hayam Wuruk, Selasa (17/19/2023),
    pada partai perdana kelas Bantam Jr, petinju JIMB Fighter Kediri, Abdul Malik dinyatakan kalah TKO karena cedera dari petinju Eky Arif Saputra (Garuda BC Jember), setelah tepat ronde ke-1 berakhir tangan kanan Abdul Malik terkilir.

    Dokter pertandingan Hendry Prasetyo Wibowo dari RSAD DKT Sidoarjo, menyatakan petinju Abdul Malik tidak dapat melanjutkan pertandingan.

    Pertandingan Pra Pembukaan ini, sama sama berlangsung cepat karena kedua petinju sejak ronde pertama saling jual beli pukul.

    Penata pertandingan M. Rois, mengatakan bahwa jam terbang petinju menentukan kualitas pertandingan. “Ya memungkin karena kurang pertandingan , petinju masih belum bisa mengukur lawan dan menjajaki dengan baik,” katanya.

    Bertindak sebagai pengawasan dan inspektur pertandingan Djoko Tetuko, dengan promotor Nouke dan penyandang dana PW Afandy dan Goerge Handiwiyanto Wiyanto, serta Stefanus.

    Partai kedua, kelas Welter Jr, Eko Aryo Adi (JIMB Fighter Kediri) membukukan kemenangan TKO pada ronde pertama menit 1 detik 6, atas Setiyo Tiomar (RBC Sukoharjo, Jateng) pada Tinju Pro Sabuk Emas Pangdam V Brawijaya, setelah menjatuhkan lawan dua kali dengan pukulan menyasar ke perut.

    Wasit Widodo (Malang) dua kali memberikan hitungan kepada Setiyo Tiomar setelah mendapat pukulan kombinasi dan upper cut ke arah perut, dan stright di dagu.

    Pada saat terjatuh duduk kedua, setelah menerima hitungan ke-8 Setiyo menyatakan tidak dapat melanjutkan pertandingan, sehingga Eko Aryo Adi dinyatakan meneng TKO.

    Partai ketiga, kelas Bulu Jr, Budiman (Alap Alap Jaya BC, Cilacap Jateng) menang TKO pada ronde ke-2 menit 1;56 lawan Muhammad Ali (JIMB Fighter Kediri)

    Partai keempat, kelas Bantam Jr, SF Gianto (Alap Alap Jaya BC, Cilacap Jateng) menang angka mutlak atas Abdul Rochim (JIMB Fighter Kediri). Pertandingan yang dipimpin wasit Eddy Wiyono (Malang) hakim Hengky Gun, Sulistiyono, dan Bagus Dwi Widjajanto sama-sama memberikan nilai 56-58 untuk kemenangan SF Gianto.

    Partai kelima, Abdul Rohman (JIMB Fighter Kediri) menang TKO atas Febri “The Destroyer” (Sukowati BC, Sragen Jateng), setelah kedua petinju saling mengungguli sampai ronde ke-4, sebelum Febri menyatakan tidak mampu melanjutkan pertandingan setelah gong ronde ke-4 dipukul usai.

    Partai pamungkas,
    Oky Akbar De Lahoya (Santana BC, Kapanjen Malang) bertarung lebih strategis dalam mepontarkan pukulan kombinasi dan mampu melesatkan pukulan dengan pukulan jab straight serta footwork sangat rapi.

    Pertandingan di kelas Bulu Jr ini, akhirnya Paskalis RP Nehe (Alap Alap Jaya BC, Cilacap Jateng) menyerahkan pada ronde ke-6 ketika baru berlangsung selama 45 detik. Karena gempuran Oky begitu menyulitkan Paskalis menghindar dan akhirnya terjatuh duduk.

    Oky dipilih sebagai petinju pada malam pergelaran Sabuk Tinju Emas Pangdam V Brawijaya, tetapi belum teruji. Karena belum bertanding minimal 10 ronde untuk melihat kemampuan dan konsistensinya, di atas ring baik saat menguasai pertarungan maupun memberikan kesempatan lawan melontarkan pukulan.

    Dari pergelaran tinju pro di GOR Hayam Wuruk, patut menjadi renungan bersama bahwa jika membangkitkan kembali tinju pro di bumi paling ujung timur pulau Jawa, maka harus ada promotor menggelar pertandingan secara rutin, bukan setahun sekali atau setahun 2-3 kali. Juga Sasana tinju dengan proses pelatihan sangat profesional. Tentu saja jenjang pertandingan secara bertahap adalah kunci mematangkan petinju menuju prestasi dunia. Tetapi jika pergelaran tinju hanya “hit and run” (pukul lari, menggelar kemudian menghilang), maka guna meriah prestasi dunia seperti pada masa kejayaan dulu, masih jauh api dari panggang. (*)

    Penulis : Djoko Tetuko

    Sumber : WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan