Minggu, 21 Juli 2024
24 C
Surabaya
More
    Jawa TengahSemarangMelindungi Semua Pelaku Usaha

    Melindungi Semua Pelaku Usaha

    MALAM itu saya kedatangan tamu di rumah dinas sekaligus ruang kerja, di pendopo. Ketika itu belum ada Balaikota Among Tani sebagaimana yang sekarang berdiri megah dengan lima lantai, di Jl. Sudirman, Kota Wisata Batu.

    Tamu saya itu mungkin bisa disebut Kera Ngalam asli, yang cukup dikenal luas sebagai pengusaha toko kacamata. Dia datang bersama seorang arsitek bangunan kondang, yang sekarang tinggal di Kota Surabaya.

    Meskipun sesama Kera Ngalam, terus terang saya tidak terlalu akrab, kecuali sekadar saling mengetahui, saling tahu sama tahu, walaupun mereka berdua lebih senior dibanding saya sebagai pengusaha asal Bumi Arema. Ibaratnya, sesama arek-arek lawas hanya saling kenal.

    Sebagai tuan rumah, saya menerima keduanya karena ingin mengetahui apa maksud mereka. Ternyata mereka ingin membangun hotel berbintang, setelah melihat perkembangan pesat di sektor pariwisata yang terjadi di Kota Wisata Batu.

    Menurut keduanya, peluang investasi hotel cukup bagus. Apalagi setelah dijelaskan bahwa salah satu dari mereka telah memiliki lahan seluas dua hektar. Lahan itu dimilikinya sejak tahun 80an, dan lokasinya persis berada di belakang Jatim Park 2.

    Sebagai tuan rumah yang berharap sekali masuknya investasi di sektor pariwisata, khususnya berupa hotel berbintang. Saya sangat menyambut baik maksud kedatangan dua orang tamu saya itu, agar Kota Wisata Batu semakin lengkap sehingga dapat berkembang dengan segera. Saya jadi ingin sekali melihat lokasi lahan milik salah satu tamu saya tersebut, dan ingin pula segera tahu detail rencananya.

    Seminggu kemudian kami bersama-sama melihat lokasi yang dimaksud. Saya datang didampingi beberapa staff Pemkot, dan kami semua melihat lokasinya benar-benar bagus dan menjanjikan. Viewnya membelakangi Gunung Panderman, sedang di depan nampak Gunung Arjuno. Hongsiu!

    Pertemuan berikutnya dilakukan, setelah melihat peruntukannya memang sudah sesuai dengan tata ruang. Calon investor itu kemudian mengutarakan keinginan untuk membangun hotel bintang tiga. Tidak, jawab saya. Hotel bintang tiga sudah ada, tidak jauh dari lokasi itu.

    Pada pertemuan berikutnya, calon investor datang dengan membawa data dan analisis dari pihak konsultan yang menyimpulkan kalau membangun hotel bintang 5 di Kota Wisata Batu tidak menguntungkan karena secara market belum layak.

    Dengan tegas keinginan calon investor itu saya tolak. Karena saya tidak ingin beberapa orang yang sudah berinvestasi dengan membangun hotel melati atau yang bintang 3 akan saling bersaing secara tidak sehat, dengan saling memperebutkan market yang sama. Hal ini saya sampaikan karena menyangkut pula performance Kota Wisata Batu secara keseluruhan.

    Menata kota itu tidak hanya berurusan dengan peraturan dan prosedur administrasi. Tapi juga harus memikirkan upaya untuk melindungi semua pelaku usaha, termasuk para pelaku usaha yang telah lebih dahulu menanamkan investasi. Karena antar mereka itu sejatinya akan saling kait mengkait, dari pelaku usaha yang besar sampai pelaku usaha kecil yang sekarang lebih sering disebut dengan UMKM. Semuanya saling bersinggungan, dan semuanya harus diberi kesempatan untuk memperoleh keuntungan.

    Home stay, villa, losmen , hotel melati, hotel berbintang berapapun, resort, restoran, warung, kaki lima sampai warkop, semuanya itu harus ditata dengan baik dan saling menguntungkan. Pemkot tidak semata-mata mengejar pajak pendapatan, namun yang utama juga dapat memfasilitasi wisatawan yang datang untuk memperoleh kenyamanan dan keamanan. Karena itu semuanya, termasuk para wisatawan yang datang, harus sama-sama mendapatkan keuntungan, bukan kerugian.

    Deal! Akhirnya hotel bintang 5 jadi dibangun, dengan fasilitas yang lengkap, apalagi salah satu ownernya adalah seorang arsitek handal yang memiliki segudang pengalaman, dengan karya-karya tersebar baik di Surabaya maupun Jakarta.

    Hotel bintang 5 itu bernama Hotel Golden Tulip, masuk jaringan managemen internasional, berada di kota kecil yang sebagian besar penduduknya adalah petani, dan terletak di Desa Oro-oro Ombo. Meskipun pada mulanya ada masalah berbelit dengan pihak lain tentang pintu masuk ke lokasi hotel, tapi akhirnya masalah itu bisa dicarikan solusinya.

    Hari ini, hotel bintang 5 itu sudah enam tahun beroperasi, dan sudah dipergunakan untuk berbagai pertemuan penting, baik bertaraf nasional maupun international. Hotel ini juga sering jadi pilihan tamu-tamu VVIP untuk menginap ketika mereka berada di Kota Wisata Batu. Bersama gedung Balaikota Among Tani yang tak kalah megah, hotel itu sekarang menjadi salah satu ikon Kota Wisata Batu. Sangat membanggakan.

    Sesuatu hal yang sebelumnya tidak terbayangkan, akhirnya bisa menjadi kenyataan. Berawal dari obrolan dengan dua orang tamu yang saya kenal tetapi tidak begitu akrab. Sambil minum kopi.

    Pertemuan di pendopo itu tidak begitu lama. Dilanjut dengan perencaan yang tidak bertele-tele. Diteruskan dengan prosedur yang tidak berbelit tetapi tetap sesuai dengan peraturan yang diperlukan. Hanya dalam waktu sekitar satu tahun sejak saya menerima keduanya, hotel bintang 5 Golden Tulip telah berdiri di kota yang hanya berpenduduk sekitar 150 ribu jiwa. Membanggakan. (*)

    Sahabat ER, Semarang 25 Maret 2023.

    COPYRIGHT © 2023 WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan