Selasa, 7 Februari 2023
24 C
Surabaya
More
    Jawa TimurSurabayaPentahelix sebagai Strategi Peran Pesantren di Luar

    Pentahelix sebagai Strategi Peran Pesantren di Luar

    SURABAYA (WartaTransparansi.com) – “Pentahelix sebagai Strategi Penyampaian Peran Pesantren untuk Dunia Luar Pesantren,” kata K.H. Abdul Halim Mahfudz, Ketua Badan Wakaf Pesantren Tebuireng Jombang.

    Menyampaikan Meteri “Peran Pesantren dalam Literasi Keagamaan untuk Mencegah Perpecahan dan Memperkuat Kerjasama Antar Umat Beragama” saat Webinar Internasional yang digelar Institut Leimena, Selasa (22/11/2022), dijelaskan bahwa
    saat ini banyak ancaman intoleransi yang ada di Indonesia.

    Menurut kiai,
    Pertama sisi Agama yakni munculnya paham Wahabisme. Paham ini dibawa oleh Mahasiswa yang belajar di Timur Tengah.

    Kedua, lanjutnya, sisi pergaulan sosial yang berkembang dari kajian-kajian mahasiswa; pelajar; dan kelompok profesi.

    Dan, ketiga sisi media sosial yang berkembang dari berita-berita bohong (hoax); misinformasi; disinformasi; fitnah; dan insinuasi yang berkembang tanpa rem.

    Kiai Halim Mahfudz menegaskan bahwa
    pesantren, dengan kekhasannya masing-masing, yakni mengajarkan kitab-kitab klasik; mendidik santri dengan akhlak; dan ilmu pengetahuan lain terkait ibadah dan etika, bisa menangkal ancaman-ancaman diatas.

    Baca juga :  PKS Surabaya : Selamat 1 Abad NU

    Namun, kata dia, apalah artinya jika penangkalan itu hanya berhenti di dunia Pesantren, tidak menyentuh dunia di luar Pesantren.

    “Maka dari itu, dalam teori bernama Pentahelix.
    Pentahelix adalah strategi yang melibatkan berbagai unsur masyarakat dan lembaga-lembaga non profit dalam rangka mewujudkan sebuah inovasi. Melalui kolaborasi tersebut. Diharapkan terwujud suatu inovasi yang didukung oleh berbagai sumberdaya yang berinteraksi secara sinergis,” ujarnya.

    Oleh karena itu, menurutnya,
    unsur-unsur tersebut terdiri dari Pemerintah, Komunitas, Bisnis Usaha, Akademisi, dan Media Massa bersama-sama menjalankan.

    Badan Wakaf Pesantren Tebuireng sudah lebih dulu melakukan strategi ini. Pertama, bekerja sama dengan Pemerintah -dalam hal ini Kemenag dan Kemendikbud- untuk melatih santri memanfaatkan media sosial dalam rangka mencerdaskan dan membentengi santri dari isu-isu intoleransi.

    Baca juga :  Wali Kota Eri Targetkan Surabaya Sudah Zero Stunting Tahun 2023

    Kedua, bekerja sama dengan Komunitas -dalam hal ini Pesantren-pesantren tertua dan terbesar- untuk melatih santri dalam membentengi diri dari isu radikalisme dan intoleran.

    Ketiga, bekerja sama dengan dunia usaha yakni membangun komunikasi lintas agama, lintas kelompok, lintas ras, dan lintas keahlian untuk membangun kewirausahaan dan menciptakan lapangan kerja.

    Keempat, bekerja sama dengan Akademisi -salah satunya UIN Maulana Malik Ibrahim Malang- untuk mengembangkan skill diri (transfer of skill and knowledge). Kelima, bekerja sama dengan Media Massa, inilah peran yang terpenting agar informasi-informasi positif bisa tersampaikan dengan tepat dan cepat.

    Kiai Abdul Halim, berharap upaya dan strategi ini bisa ditiru dan dilaksanakan oleh Pesantren-pesantren lain di Indonesia, agar pesan-pesan positif dan pendidikan akhlak khas Pesantren bisa tersampaikan ke dunia luar Pesantren.

    Baca juga :  Penyerahan Karya Lomba Jurnalistik Piala Prapanca 2023 Diperpanjang

    “Dunia luar Pesantrenpun akan tertarik karena mereka-mereka “rindu” dengan pesan-pesan positif Pesantren. Tentu saja bentuk kerjasama yang bisa memberikan manfaat bagi Pesantren dan Luar Pesantren,” kata kiai yang menjabat sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Seblak di Jombang. Telah mengembangkan dan mengelola Pesantren Seblak menjadi tempat pendidikan dan pengajaran santri yang berorientasi pada ilmu pengetahuan dan akhlak Islami.

    Dengan cara tersebut, diharapkan ancaman-ancaman intoleran akan teratasi dengan baik dan tepat.

    Seperti diketahui
    K.H. Abdul Halim Mahfudz selain Ketua Badan Wakaf Pesantren Tebuireng (BWPT). Saat ini beliau juga pengasuh
    Pesantren Seblak yang mempunyai program menyekolahkan kembali remaja-remaja yang putus sekolah dengan membekali berbagai keahlian, seperti kepemimpinan; kewirausahaan; dan keahlian olahraga dan seni. (*)

    Reporter : Nuriyah Maslahah

    Sumber : WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan