Opini  

MENYEGARKAN JIWA KEPAHLAWANAN DALAM DIRI

MENYEGARKAN JIWA KEPAHLAWANAN DALAM DIRI
Dr. Muchamad Taufiq, SH, MH

Oleh Muchamad Taufiq

“Pahlawanku Teladanku” adalah tema peringatan Hari Pahlawan tahun ini. Tepat sekali menyandingkan dua kata indah penuh makna. Substansinya adalah menghadirkan Kembali jiwa dan semangat para pahlawan kedalam diri kita di era sekarang. Enam Puluh Tiga Tahun Hari Pahlawan telah kita peringati bersama.

Renungan untuk diri kita, sudahkah mental kepahlawanan menjadi kompas diri dalam pengabdian kita kepada bangsa dan negara?

“Jangan tanyakan apa yang telah Negara berikan padamu, tapi tanyakan apa yang telah kau berikan pada Bangsamu”, kutipan kalimat John F. Kennedy masih relefan diulang untuk saat ini.

Ketika kondisi kita didera dengan berbagai ujian berat yang menyesakkan dada dan memantik rasa kejujuran yang harus mengemuka. Kita perlu menyadarkan diri untuk selalu menengok kedalam diri kita, sudah benar niat kita dalam berproses disegala bidang serta dalam mengemban amanah dalam berbagai urusan.

Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya telah dtetapkan sebagai Hari Pahlawan berdasar Keppres Nomor 316 Tahun 1959 pada 16 Desember 1959.

Mengabadikan 10 November sebagai Hari Pahlawan merupakan upaya mengkristalkan nilai-nilai heroik untuk bangsa Indonesia. Jiwa kepahlawanan adalah semangat yang luar biasa, nilai-nilai luhur Pertempuran Surabaya merupakan perpaduan keihlasan, kejujuran, religious, keadilan, demokrasi dan kegotongroyongan yang terbingkai di Kota Surabaya.
Tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan terkait erat dengan Kota Surabaya. Persitiwa heroik ini rangkaian keberanian Sidik menewaskan Ploegman, kegagahan Koesno Wibowo dan Hariyono yang berhasil merobek bagian biru bendera Belanda sehingga menjadi Merah Putih di Hotel Yamato (27-10-1945).

Tewasnya Jenderal Mallaby di Surabaya adalah harga kepongahan atas ultimatum tentara Inggris kepada orang Indonesia untuk menyerah dan mengangkat tangan di atas kepala. Selanjutnya munculah tokoh-tokoh Sutomo, K.H. Hasyim Asyari dan Wahab Hasbullah yang memimpin pertempuran 10 November yang sangat fenomenal. Pertempuran Surabaya adalah pertempuran besar pertama pasca Proklamasi Kemerdekaan.
Surabaya adalah nama kota yang telah menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan bangsa.

Kita bangga memiliki Surabaya menjadi ibukota Provinsi Jawa Timur. Demikianlah sebuah ibukota memiliki nilai-nilai heroik yang mampu memancarkan semangat kehidupan di hati masyarakatnya, semangat ketangguhan dalam menapaki hari-hari yang penuh ujian. Ketangguhan, kejujuran adalah nilai-nilai yang mulai langka kita temui di era sekarang.

Jiwa kepahlawanan harus merasuk disemua lini kehidupan dalam berbangsa dan bernegara. Situasi ini persis sama ketika rakyat Surabaya dipaksa untuk menyerah oleh tentara Inggris dengan ultimatum sampai jam 06.00 tanggal 10 November 1945, bagi rakyat Surabaya pilihannya adalah melawan mempertahankan kemerdekaan atau mati secara terhormat demi sebuah keyakinan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Mengambil makna dari kisah perjuangan dibutuhkan kedalaman jiwa dan kesadaran berpikir yang sungguh-sungguh. Menjadi penting untuk menghadirkan nilai-nilai heroik dalam diri kita masing-masing ditengah berbagai fenomena yang saling berkaitan dan terus menerus.