Minggu, 25 September 2022
32 C
Surabaya
More
    EkbisPenghasilan Padat Karya Paving di Surabaya dalam Setiap Bulan Rp6-7 Juta per...

    Penghasilan Padat Karya Paving di Surabaya dalam Setiap Bulan Rp6-7 Juta per Orang

    SURABAYA (WartaTransparansi.com) – Program padat karya di Kota Surabaya, mulai menunjukkan hasil signifikan. Terbaru, Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang tergabung dalam kelompok program padat karya pembuatan paving, berhasil meraup penghasilan Rp 6-7 juta per bulan untuk setiap orang.

    Kepala Bidang (Kabid) Jalan dan Jembatan Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Surabaya, Adi Gunita menjelaskan, di wilayah Kecamatan Tambaksari, terdapat dua kelompok usaha padat karya pembuatan paving yang telah terbentuk. Dua bulan lalu, keduanya mendapat pelatihan dari Pemkot Surabaya.

    “Dari MBR itu kita lakukan pelatihan terkait dengan produksi paving, dan sudah terbentuk dua kelompok usaha bersama di Kecamatan Tambaksari. Sudah kita lakukan bantuan legalitas juga terkait dengan Nomor Induk Berusahanya (NIB),” kata Adi Gunita, Rabu (21/9/2022).

    Selain legalitas, Adi menyebut, bahwa pemkot juga membantu memfasilitasi kelompok usaha padat karya paving agar mendapat bantuan permodalan dari BPR Surya Artha Utama. Setiap kelompok yang terdiri dari enam orang itu pun mendapatkan bantuan permodalan Rp15 juta untuk usaha produksi paving.

    Baca juga :  Kendalikan Inflasi, Puluhan Truk Angkut Kebutuhan Pangan Menuju 25 Titik

    “Dari setiap kelompok itu dapat bantuan modal Rp15 juta. Jadi masing-masing orang mendapat sekitar Rp2,5 juta. Sedangkan jumlahnya ada 12 orang dari dua kelompok yang ada di Kecamatan Tambaksari,” ujarnya.

    Dijelaskan pula, bahwa modal yang berasal dari BPR Surya Artha Utama ini digunakan oleh kelompok padat karya untuk membeli bahan pembuatan paving. Lalu, untuk alat disediakan oleh Pemkot Surabaya hasil Corporate Social Responsibility (CSR). Sementara untuk tempat produksinya, mereka menggunakan lahan aset milik Pemkot Surabaya.

    “Jadi untuk permodalan kita hubungan dengan teman-teman dari BPR Surya Artha Utama. Sedangkan terkait alatnya kita sinergi dengan stakeholder minta CSR dan sudah ada dua bantuan alat yang diberikan,” ujarnya.

    Sejak Juli 2022, produksi paving mereka telah menunjukkan hasil yang signifikan. Bahkan per bulan September 2022, penghasilan salah satu kelompok padat karya paving di Tambaksari, tembus Rp6-7 juta per orang.

    Baca juga :  Kendalikan Inflasi, Puluhan Truk Angkut Kebutuhan Pangan Menuju 25 Titik

    “Kelompok (padat karya paving) yang ada di Tambaksari Ketuanya Pak Anas ini per September dia setiap orang mendapatkan penghasilan Rp6-7 juta per bulan,” ungkap Adi.

    Saat pelatihan, lanjutnya, pihaknya telah menyampaikan kepada para peserta, bahwa omzet dari padat karya paving ini bisa melebihi besaran nilai UMK Surabaya. Tentunya hal ini juga tergantung dari kuantitas dan banyaknya produksi paving pada masing-masing kelompok.

    “Secara analisa ekonomi pendapatan dari padat karya paving itu bisa mencapai UMK. Tapi dalam kapasitas ini bisa ditingkatkan lagi tergantung dari kinerja masing-masing kelompok sebenarnya. Itu yang terus kita tekankan dan berikan semangat kepada kelompok teman-teman MBR,” katanya.

    Untuk saat ini atau dalam jangka pendek, Adi menyebutkan, bahwa hasil produksi paving kelompok padat karya dibeli oleh Pemkot Surabaya. Paving produksi MBR ini digunakan pemkot untuk membangun jalan-jalan di Surabaya yang lebarnya di bawah 2 meter.

    Baca juga :  Kendalikan Inflasi, Puluhan Truk Angkut Kebutuhan Pangan Menuju 25 Titik

    “Itu untuk rencana jangka pendek. Tapi nanti jangka menengahnya ini bisa sebagai barometer pilot project untuk dipakai dana kelurahan. Sehingga masing-masing kecamatan nanti bisa order (paving) di kecamatan itu sendiri,” paparnya.

    Pihaknya berharap, dengan pola itu, pergerakan ekonomi warga bisa tetap berputar di lingkup masing-masing kecamatan. Tentu saja hal itu juga akan menghidupkan perekonomian warga setempat.

    “Jadi uang itu masuk dan keluar hanya berputar di lingkup kecamatan itu tersendiri. Sehingga menghidupkan perekonomian warga,” kata Adi.

    Selain di Kecamatan Tambaksari, Adi juga menargetkan pada tahun 2022 ini kelompok usaha padat karya pembuatan paving dapat terbentuk di sejumlah wilayah lain. Yakni, wilayah Kecamatan Kenjeran, Sukolilo, Pakal dan Gunungsari.

    “Jadi itu target di tahun 2022. Tapi untuk target pada tahun 2023 sendiri, kita harapkan masing-masing kecamatan sudah terbentuk,” katanya. (*)

    Reporter : wetly

    Sumber : WartaTransparansi

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan