Jumat, 14 Juni 2024
29 C
Surabaya
More
    Jawa TimurSurabayaEri Bilang, Ada 8 Langkah Pemkot Menurunkan Angka Stunting di Surabaya, Apa...

    Eri Bilang, Ada 8 Langkah Pemkot Menurunkan Angka Stunting di Surabaya, Apa Saja

    SURABAYA (WartaTransparansi.com) – Walikota Eri Cahyadi bilang, Pemkot punya delapan langkah untuk menurunkan angka stunting di Kota Surabaya. Dan untuk menekan angka stunting, melibatkan pemangku kepentingan dan masyarakat.

    Hal itu disampaikan Eri saat memaparkan upaya pemkot dalam Percepatan Penurunan Stunting di Surabaya dalam Penilaian Kinerja Aksi Konvergensi Percepatan Pencegahan Stunting Tahun 2022 secara virtual di Ruang Sidang Wali Kota, Selasa (23/8/2022). Saat paparan, Eri dibantu jajaran Asisten, Kepala PD dan Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Surabaya, Rini Indriyani.

    Dikatakan, Pemkot Surabaya memiliki delapan langkah dalam Aksi Percepatan Penurunan Stunting. Pertama sebut Eri, aksi analisis situasi di Kota Surabaya. Pemkot menghitung anggaran untuk kegiatan yang akan dilaksanakan. Setelah ditentukan anggarannya, pemkot berhasil menurunkan angka stunting, yang semula di tahun 2021 ada 12.788 menjadi 6.722 di tahun 2022.

    “Datanya bisa kita lihat per kelurahan dan kecamatan, kita bisa tahu, mana saja yang perlu kita sentuh menggunakan anggaran yang ada,” ujar Eri.

    Baca juga :  Siap Jaga Wilayah LGBT, I Gusti Bagus M Ibrahiem Nahkodai Kanim Kelas I TPI Tanjung Perak

    Aksi kedua, lanjutnya, menggunakan anggaran untuk kegiatan kesehatan, salah satunya pencegahan stunting.

    Dengan terbitnya Peraturan Wali Kota (Perwali) No 79 tahun 2022 terkait percepatan stunting di Surabaya, pemkot melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) melibatkan pemangku kepentingan dan masyarakat, dalam menekan angka stunting.

    Eri menegaskan, pencegahan stunting di tahun 2022 menjadi salah satu tugas pokok DP3APPKB Surabaya dan masuk dalam kontrak kinerja kepala dinasnya. Oleh karena itu, tidak berhasil pencegahan stunting di Kota Surabaya nantinya akan dinilai dari kinerja dinas terkait.

    “Berhasil atau tidaknya penurunan stunting tergantung Kepala DP3APPKB, yang mana saat ini sudah tercantum dalam kontrak kinerja,” tegas Wali Kota Eri.

    Aksi lain dalam percepatan penurunan stunting, pemkot melakukan pembinaan kader pembangunan manusia yang kini dibentuk menjadi Kader Surabaya Hebat (KSH). Pada tahun 2021, Pemkot Surabaya berhasil membantu dan mendampingi serta memberikan pembinaan kepada 27.000 KSH.

    Baca juga :  Curanmor Makin Marak di Surabaya, Pemkot Cari Solusi

    “Tapi saat ini totalnya sudah 48.000 kader, mereka ada di setiap RT kemudian mendata kesehatan warga Surabaya. Jadi, dengan adanya KSH akan diketahui ketika ada bayi atau balita yang kurang gizi, kurang gizi, dan sebagainya,” lanjut ujarnya.

    Keberhasilan Pemkot Surabaya dalam percepatan penurunan stunting, ujar Eri, bukan hanya hasil kerja keras para KSH. Sebab, ada peran penting warga Surabaya yang peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Peran dari masyarakat yang tergabung dalam Pendekar Biru (Pendampingan Oleh Kader dalam Masa Adaptasi Kebiasaan Baru).

    “Penanganan stunting itu tidak mudah, karena mengatasinya tidak hanya diberikan bantuan begitu saja, tidak. Tapi mindset (pemikiran) kita bersama, sebelum menikah itu sudah kita sentuh untuk mencegah stunting bersama KSH dan Pendekar Biru,” paparnya.

    Baca juga :  Satpol PP Eksekusi Paksa 14 Tiang Provider di Jalan Karet  

    Selain itu, kegiatan pencegahan stunting juga melalui lomba Generasi Emas (Eliminasi Masalah Stunting), melibatkan TP PKK dan KSH untuk melakukan survei melalui aplikasi Sayang Warga, pendampingan ASI kepada ibu menyusui dan pendampingan gizi anak, pra nikah serta kerjasama perguruan tinggi pemangku kepentingan dalam penanganan masalah stunting di Surabaya.

    Dalam pemaparan, program dan hasil kerja jajaran Pemkot Surabaya mendapat apresiasi dari tim panelis Penilaian Kinerja Konvergensi Percepatan Pencegahan Stunting Pemprov Jatim Tahun 2022.

    Bappeda Provinsi Jatim, Dinkes Jatim dan Kementerian Agama Jatim menilai, percepatan pencegahan stunting di Kota Surabaya, ke pengembangan bisa menjadi pioner dalam pencegahan stunting di Jatim.

    “Matur nuwun Bapak dan Ibu, atas saran dan masukkannya, semoga ke depan Surabaya bisa terus menekan dan mencegah terjadinya stunting. Diharapkan, di tahun 2023 Surabaya bisa stunting, karena kota ini hebat bukan karena wali kotannya, tapi karena masyarakat dan kadernya,” imbuhnya. (*)

    Reporter : wetly

    Sumber : WartaTransparansi.com

    COPYRIGHT © 2022 WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan