Minggu, 7 Agustus 2022
29 C
Surabaya
More
    Pojok TransparansiRefleksi Tahun Baru 1444 Hijriyah

    Refleksi Tahun Baru 1444 Hijriyah

    Catatan HS. Makin Rahmat (Penanggungjawab WartaTransparansi)

    SUNNATULLAH. Tanpa terasa sebentar lagi usia bumi bertambah tua. Sejarah pergulatan hebat penentuan tahun baru Islam dimulai dari hijrah Rasulullah SAW dari Mekah ke Madinah, merupakan pertimbangan luar biasa dari Khalifah Umar bin Khattab yang memang dikenal sebagai sahabat Nabi yang revolusioner.

    Usulan dan kajian dari para sahabat, salah satunya sebagai bentuk penghormatan kepada baginda Rasulullah, dimulai awal tahun baru Islam dari kelahiran Muhammad bin Abdullah pada bulan Rabiul Awal atau awal dari masa ke-Nabian.

    Ternyata, Khalifah Umar ingin menjadi penentuan tahun baru Islam sebagai momentum sekaligus refleksi umat muslim menuju arah perubahan.

    Menjadikan hijrah mengandung tekad luar biasa, hidup terus semangat, penuh perjuangan, perencanaan, fokus terhadap program dan kerja keras menuju target, terwujudkan nilai-nilai kemanusian yang universal berlandaskan azas ketuhanan yang rahmatan lil ‘alamiin.

    Yang jelas, Nabi memutuskan hijrah setelah melalui proses panjang selama 13 tahun di Makkah dengan berbagai tantangan. Mula-mula beliau berdakwah secara tersembunyi, dimulai dari keluarga, orang-orang terdekat, dan pelan-pelan lalu kepada masyarakat luas secara tertutup dan terbuka.

    Baca juga :  Haedar: Pintar Ngaji Pintar Nyanyi, Muhadjir itu Bisa Jadi Role Model

    Fakta di lapangan ketika itu, Rasulullah mendapat rintangan dan tekanan luar biasa. Mulai dicaci-maki, dilempar kotoran unta, kekerasan fisik, hingga percobaan pembunuhan. Semua dilalui dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan.

    Saat itu, azas Tauhid (ketuhanan) melenceng jauh. Nilai-nilai kemanusian nyaris terkubur, tumbuh subur kepentingan figur dan penguasa. Fanatisme suku, maraknya riba, pelanggaran hak asasi manusia (HAM) merupakan realitas yang harus dihadapi.

    Lantas bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Alfaqir tentu masih sangat bersyukur diberikan kesempatan hidup di Negara yang masih mengedepankan gotong royong, persaudaraan dan kondisi masyarakat cinta damai.

    Sayangnya, kemajuan teknologi dan peradaban era milineal dan gen-Z, mulai mengikis nilai-nilai kesatunan, tepo sliro dan akhlak. Perlahan tapi pasti, kita kembali kepada era perbudakan modern.

    Kalau pun unggul dalam mengaplikasi peradaban dengan dalil-dalil dan argumentasi yang formal, namun mulai hilang akal sehat dan budi pekerti.
    Berbagai-bagai peristiwa yang terjadi belakangan ini, seperti kemerosotan moral, baku tembak polisi dengan tentara, suami tega membunuh istri dan beragam kejahatan yang tidak kalah keji dengan masa jehiliyah.

    Baca juga :  Haedar: Pintar Ngaji Pintar Nyanyi, Muhadjir itu Bisa Jadi Role Model

    Dulu, masyarakat karena gengsi rela mengubur anak bayi perempuan hidup-hidup karena demi martabat dan harga diri. Sekarang malah lebih dahsyat, penguasa tega memperbudak rakyatnya sendiri dengan berbagai kepentingan kelanggengan kekuasaan. Saling menyebar berita bohong.Informasi berbau hoks dianggap persaingan intelejin atau siber.

    Mengapa para pemimpin kita tidak meniru manusia Agung yang memang dilahirkan untuk memperbaiki akhlak manusia dan meninggalkan wasiat peradaban hukum yang sangat universal, yaitu Al-Quran dan Hadits yang penuh dengan landasan hukum formil dan mengatur peradaban umat lebih mengedepankan akhlakul karimah atau budi pekerti mulia.

    Perjuangan panjang baginda Rasulullah di kota Madinah, bukan sekedar berbuah manis hingga menjadikan Madinah kota sehat menurut WHO. Tentu prakarsa dari Nabi Muhammad SAW dalam menerbitkan Piagam Madinah pada 622 Masehi, merupakan produk hukum yang perlu dicontoh bersama.

    Semestinya semua stokeholder bangsa berikhtiar demi kebaikan rakyat ke depan, bukan mengamankan posisi atau merebut kekuasaan dengan berlindung di balik produk undang-undang dan aturan hukum yang bisa dipelintir sesuai pesanan dan kebutuhan penguasa atau pemodal.

    Baca juga :  Haedar: Pintar Ngaji Pintar Nyanyi, Muhadjir itu Bisa Jadi Role Model

    Bagaimana dokumen hukum diterbitkan untuk melindungi dan mengayomi hajat seluruh masyarakat serta mempersatukan semua komponen bangsa. Isi Piagam Madinah, antara lain menetapkan adanya kebebasan beragama, kebebasan menyatakan pendapat, perlindungan terhadap harta dan asset rakyat serta larangan melakukan kejahatan merupakan bukti riil yang harus menjadi pijakan dan tauladan dalam bersikap.

    Kita memiliki Undang-Undang Dasar 1945 dengan dasar hukum Pancasila dan kekuatan keberagaman Bhinneka Tunggal Ika. Jika saat ini, masih ditemukan persoalan danoligarki keperpihakan terhadap kepentingan asing, tentu dasar berpikir bukan logika sebagai anak bangsa, namun berpotensi menjadi antek penjajah.

    Sekali lagi, siapa pun yang terlihat dalam berbagai kebijakan di negeri ini harus punya niat suci, bukan sekedar ingin mengolkan tujuan partai, golongnan apalagi mempertebal kekayaan pribadi untuk melanggengkan kekuasaan. Jadikan momentum hijriyah sebagai kesempatan mengabdi dan berbagi bahwa negeri ini merupakan warisan dari pendahulu yang harus diberikan kepada generasi mendatang dengan penuh tanggung jawab. Semoga hidayah Allah selalu menyertai kita bersama, khususnya para pemimpin bangsa. (*)

    Penulis : Makin Rahmat

    Sumber : WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan