Selasa, 16 Agustus 2022
27 C
Surabaya
More
    Jawa TimurSurabayaWali Kota Eri Bolehkan "Tunjungan Fashion Week", Tetapi dengan Catatan

    Wali Kota Eri Bolehkan “Tunjungan Fashion Week”, Tetapi dengan Catatan

    SURABAYA (WartaTransapransi.com) – Aksi nyentrik para remaja SCDB (Sudirman Citayam Bojonggede Depok) yang menjadikan zebra cross sebagai catwalk peragaan busana Citayam Fashion Week (CFW) di kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat, menjadi fenomena luar biasa. Menyita perhatian publik. Disoroti dan menjadi perbincangan hangat. Banyak pengunjung berdatangan. Dari berbagai daerah. Mereka, bukan cuma dari kelas bawah atau anak-anak pinggiran. Ada juga selebriti, anak muda kelas atas, dan atau pelaku konten kreator.

    Hebohnya sejumlah tokoh, politisi, juga pernah singgah, meramaikan, dan menjajal lintasan zebra cross CDW. Mereka tampil keren. Antaranya, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, dan bahkan pemilik wilayah DKI Jakarta, Gubernur Anies Baswedan Luar biasanya, Anies mengajak Wakil Presiden Bank Investasi Eropa Kris Peeters dan rombongan menjajal catwalk di zebra cross Citayam Fashion Week. Juga hadir dikesempatan itu, Duta Besar Uni Eropa Vincent Piket. Head of VP Kris Peeters’ Office Sunita Lukhoo, dan Head of EIB Group for Southeast Asia & The Pacific Lucas Lenchant.

    Memang luar biasa. Kemunculan CFW yang tetiba dan tanpa program itu, begitu viral. Langsung menular. Sebab, beberapa kota di tanah air juga mengikuti hal serupa. Sebut saja, Kota Makassar, Kota Surabaya, Kota Pagiaman, dan bahkan Madura yang pengemasan busana diperagakan bernuansa Islami. Sebagian orang menyebut, latah. Tapi, apa pun sebutannya, sebenarnya kelatahan itu positif karena bagian dari antusiasme kreasi anak-anak muda. Dan, bisa jadi, bahwa antusiasme itu juga melawan kejenuhan terhadap kemewahan, gemerlap dan gegap gempitanya dunia catwalk yang komersil.

    Baca juga :  Dinas Sosial Terima Bantuan Tongkat untuk Warga Surabaya

    Di Kota Pahlawan, “Tunjungan Fashion Week” sempat digelar di kawasan Jalan Tunjungan pada Minggu malam kemarin. Sayang, kegiatan itu langsung mendapat protes para pengguna jalan. Dianggap mengganggu kenyamanan dalam berlalu lintas. Sedihnya, Satpol PP langsung bersikap tegas dan membubarkan kegiatan itu. Terkesan, Pemkot Surabaya tidak memberikan ruang untuk anak muda dalam berkiprah, berkreasi.

    Memang, ada rasa kecewa dengan sikap tegas pemkot tersebut. Namun, keesokannya Wali Kota Eri Cahyadi langsung buka suara. Ia beralasan, pembubaran itu bukan berarti tidak mendukung. Tetapi lebih kepada soal kenyamanan bersama. Yakni, kenyamanan pengguna jalan, dan aktivitas yang tidak menimbulkan kemacetan. “Jadi, ini bukan masalah tidak pro atau pro terhadap kreasi seni di Surabaya,” tandasnya.

    Ia beralasan, sebenarnya kegiatan itu bisa dilakukan di saat Car Free Day atau di ruang terbuka hijau lainnya yang ada di Kota Pahlawan. Atau, di ruang-ruang publik non jalan raya.

    Baca juga :  Dandan Omah MBR di Surabaya Sudah Capai 300 Unit

    “Bisa digelar di Balai Pemuda dan berbagai ruang terbuka hijau, dengan tetap menjaga kebersihan dan tidak merusak taman. Atau di pejalan kaki dengan konsep terjadwal dan tidak merusak, agar dapat diatur, tidak mengurangi kenyamanan masyarakat luas,” tandasnya.

    Dengan demikian, Eri meyakini, bahwa kreasi semacam ini tidak akan menimbulkan kemacetan.

    “Soal konsep outfitnya, silakan berkreasi. Namun, harus tetap menginspirasi, ojok pating pecotot (tidak rapi) dan sing gak karu-karuan (tidak pantas), juga harus mencerminkan karakter khas arek Suroboyo,” tegasnya.

    Sebenarnya, pada November tahun 2021, Pemkot Surabaya telah meluncurkan konsep di Jalan Tunjungan berupa ‘Tunjungan Romansa’. Konsep tersebut disediakan sebagai ruang kreasi seni, budaya, dan ekonomi kreatif di Kota Surabaya.

    “Musik, fashion, kuliner, dan beragam kreasi melebur di Tunjungan Romansa. Sebagian dikonsep di area pejalan kaki, namun secara teratur dan tidak mengganggu pengguna jalan,” ujar Eri.

    Sedangkan terkait fashion, kata dia, Pemkot Surabaya juga telah memfasilitasi dalam berbagai pergelaran. Termasuk menampilkan brand-brand lokal dan Usaha Mikro Kecil secara rutin, lewat Surabaya Fashion Week dan banyak lagi. Pelatihan fashion juga dilakukan untuk tumbuh kembang desainer-desainer fashion andal dari Surabaya.

    Baca juga :  Semarak Agustusan di THP Kenjeran Surabaya

    “Bahkan, kita sedang mempersiapkan workshop penulisan fashion agar geliat fashion di Surabaya bisa tersebar luas dan menginspirasi model komunikasi yang baik,” ujarnya.

    Namun, kemarin, Kamis (28/7/2022), sikap Eri Cahyadi melunak. Ia akhirnya membolehkan kegiatan “Tunjungan Fashion Week” di kawasan Jalan Tunjungan. Tetapi, dengan catatan.

    Menurutnya, jika tetap ingin di Jalan Tunjungan, boleh saja. Pemkot akan memfasilitasinya. “Tetapi, ada catatannya. Kalau mau fashion di Jalan Tunjungan, tempatnya di pedestriannya. Jangan menyebabkan kemacetan dan tetap memperhatikan kenyamanan para pengguna jalan. Sekarang jalan Tunjungan masih kita tata. Insya Allah fashionnya nanti buka lagi hari Minggu besok,” katanya.

    Selain di pedestrian Jalan Tunjungan, Eri juga menyatakan tengah menyiapkan Balai Pemuda Surabaya sebagai lokasi alternatif lain.

    Tak kalah penting, Eri mewanti-wanti agar kegiatan fashion week dapat memakai pakaian yang lebih sopan. “Saya minta tolong pakaiane yo sing sopan (pakaiannya yang sopan). Sehingga apa? akan menjadi tempat yang indah. Kalau itu keliru, tambah gak karu-karuan (tambah tidak benar) nanti,” tegasnya. (*)

    Reporter : wetly

    Penulis :

    Editor :

    Redaktur :

    Sumber : WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan