Jumat, 12 Agustus 2022
25.7 C
Surabaya
More
    Jawa TimurSurabayaKader PDIP Sambangi Warga Ketandan, Kampung Tertua Di Surabaya

    Kader PDIP Sambangi Warga Ketandan, Kampung Tertua Di Surabaya

    SURABAYA (Wartatransparansi.com) – Politisi PDI Perjuangan Anas Karno menghadiri halal bihalal dengan warga kampung Ketandan, yang merupakan salah satu kampung tua di Surabaya.
    Didalam acara halal bihalal terjadi diskusi yang menyebut nama Mbah Buyut Tondo, konon pelaku babat alas Ketandan dan sekitarnya.

    Makam yang terletak di pusat Kota ini sebagai situs yang sampai sekarang masih terjaga kelestariannya. Adalah Makam Mbah Buyut Tondo, begitu masyarakat menyebut situs sejarah itu.

    “Mbah Buyut Tondo dipercaya warga sebagai tokoh yang mbabat alas disini. Dari cerita turun temurun, beliau masih ada keturunan Majapahit,” ujar Indra Bagus Sasmito Ketua RW 04 Ketandan Kelurahan Genteng, Rabu ( 25-05-2022) malam.

    Baca juga :  Gubernur Khofifah: Antusiasme Masyarakat Hadiri Upacara HUT Kemerdekaan di Grahadi Cukup Tinggi

    Indra menuturkan, tidak tahu persis usia makam tersebut, karena tidak ada artefak dan literatur resmi tentang keberadaan makam. Namun ia mengaku tidak pernah merubah makam Mbah Buyut Tondo itu.

    “Tapi bentuk makam tidak ada perubahan sampai sekarang. Nisannya putih tidak ada tulisan dan batanya pecah-pecah,” katanya.

    Indra mengatakan, warga pernah mengajukan usulan ke pemerintah kota supaya memugar makam, agar dibangun menyerupai makam sunan- sunan agar terlihat lebih indah.

    “Namun akhirnya warga bersepakat, supaya bangunan makam tetap dipertahankan sesuai aslinya. Wis jarno bentuke ngono ( biarkan sesuai aslinya), tegasnya.

    Indra mengatakan, warga telah merawat keaslian makam dan memasang saluran air PDAM.

    “Dan sekarang sudah ada, atas bantuan Pak Anas.” unkapnya.

    Baca juga :  Ciptakan Ekosistem Literasi, Guru di Surabaya Didorong Menulis Buku

    Anas Karno menyatakan, dirinya sepakat dengan warga Kampung Ketandan. Keputusan warga yang ingin mempertahankan bentuk asli makam, sebagai upaya menjaga kelestarian Makam Mbah Buyut Tondo. Namun begitu ia berharap budaya gotong royong , hidup rukun dan saling toleransi juga terus terjaga dalam kehidupan bermasyarakat di Kampung Ketandan.

    “Memayu hayuning bawana. Supaya generasi selanjutnya tahu dan tidak kabur sejarah. Serta turut menjaga kearifan budaya lokal,” terangnya.

    Wakil Ketua Komisi B DPRD Surabaya ini menuturkan, warga Ketandan berharap Makam Mbah Buyut Tondo tercatat sebagai bangunan cagar budaya di Surabaya. Sehingga makam Mbah buhut Tomdo mendapat perhatian dan pemeliharaan dari pemkot Surabaya.

    “Kalau ada perhatian, bisa lebih terawat dan terjaga. Biarlah keinginan warga ini berproses dan kita dukung penuh,” tegasnya.

    Baca juga :  Dandan Omah MBR di Surabaya Sudah Capai 300 Unit

    Anas mengatakan, hampir semua walikota Surabaya , pernah berkunjung ke Makam Mbah Buyut Tondo.

    “Pak Bambang DH dan Bu Risma pernah kesini. Juga pak wawali Armuji,” sebut Anas usai acara sambung rasa. (dji)

    Reporter : Sumardji

    Sumber : WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan