Minggu, 22 Mei 2022
30 C
Surabaya
More
    Pojok TransparansiValentine's Day, Kebudayaan dan Syariat Islam

    Valentine’s Day, Kebudayaan dan Syariat Islam

    Oleh : Nuriya Maslahah M.Pd. (pendidik di Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo)

    Sebagai umat Islam hidup di bumi nusantara dengan falsafah Pancasila, maka berbagai kebudayaan telah tumbuh berkembang menjadi tradisi bahkan sudah menjadi budaya. Tetapi banyak budaya salah kaprah. Tidak mengerti bahkan tidak paham ikut-ikutan menjadi
    makmum atau suporter.

    Salah satu tradisi umat Kristiani melakukan pertukaran simbol kasih sayang atau biasa disebut Valentine’s Day (hari kasih sayang) setiap pada tanggal 14 Februari, bagi remaja dan pemuda Islam dengan pengetahuan terbatas, kemudian ikut-ikutan melakukan tradisi ini, justru salah kaprah.

    Padahal, hidup di negara dengan dasar negara Pancasila sudah jelas bahwa saling menghargai dan menghormati sesama antarumat beragama atau beda agama, sudah diatur sedemikian rupa tanpa mengganggu peribadatan atau pelaksanaan tradisi masing-masing.

    Memaknai tradisi dari luar negeri dan tradisi umat Kristani menggelar hari kasih sayang, maka umat Islam di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tetap menghormati dan menghargai. Tetapi tidak terseret ikut-ikut tradisi yang dipahami. Bahkan tidak dimengerti sama sekali.

    Oleh karena itu, menyikapi peringatan hari kasih sayang, remaja dan pemuda Islam sebaiknya kembali kepada tradisi ajaran Islam. Bahwa ajaran yang menyejukkan tanpa kekerasan dan tanpa melanggar etika juga kebudayaan serta adat ketimuran yang begitu tinggi menjaga harkat dam derajat kaum hawa.

    Menjaga harkat dan martabat wanita muslim atau muslimah, maka ajaran Islam memberikan syariat bahwa proses menuju perjodohan melalui peminangan.
    Dimana diketahui, hubungan perjodohan antara seorang pria dengan seorang wanita.

    Dalam kitab Hasyiyah Rad al-Mukhtar (3/8), Imam Ibnu Abidin, ulama Hanafiyah, menyebutkan bahwa khitbah adalah sebuah permintaan untuk menikah. Sedangkan menurut Imam Asy-Syaribini (1958), ulama Syafi’iyah, khitbah adalah permintaan seorang laki-laki untuk menikahi perempuan yang akan dipinang.

    Khitbah dalam
    definisi Kompilasi Hukum Islam lebih umum mencakup pihak pria dan wanita. Artinya, yang mengajukan peminangan tidak melulu dari pihak pria, tapi pihak wanita pun berhak mengajukan peminangan terlebih dahulu–seperti tradisi di Minangkabau. Berbeda dengan definisi para fuqaha yang berindikasi hanya pihak pria yang berhak melakukan peminangan terlebih dahulu.

    Tanpa mengganggu dan tetap menghargai serta menghormati tradisi hari kasih sayang, maka remaja dan pemuda Islam sebaiknya menjaga ajaran agama Islam, dan menjalankan sesuai ketentuan sekaligus menjunjung tinggi Pancasila dan Hak Asasi Manusia.

    Kebudayaan dalam bahasa Pancasila berarti berbeda-beda, tetapi tetap saja menjaga masing-masing ajaran dengan santun dan bersahaja. “Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku” (Surat Al-Kafirun, ayat 6).

    Sebagaimana dikutip dari Wikipedia bahwa Hari Valentine (bahasa Inggris: Valentine’s Day) atau disebut juga Hari Kasih Sayang, pada tanggal 14 Februari adalah sebuah hari saat para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya di Dunia Barat.

    Hari raya ini sekarang terutama diasosiasikan dengan para pencinta yang saling bertukaran notisi-notisi dalam bentuk “valentines”. Simbol modern Valentine antara lain termasuk sebuah kartu berbentuk hati dan gambar sebuah Kupido bersayap. Mulai abad ke-19, tradisi penulisan notisi pernyataan cinta mengawali produksi kartu ucapan secara massal. The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan AS) memperkirakan bahwa di seluruh dunia sekitar satu miliar kartu valentine dikirimkan per tahun.

    Hal ini membuat hari raya ini merupakan hari raya terbesar kedua setelah Natal ketika kartu-kartu ucapan dikirimkan. Asosiasi tersebut juga memperkirakan bahwa para wanitalah yang membeli kurang lebih 85% dari semua kartu valentine.

    Di Amerika Serikat mulai pada paruh kedua abad ke-20, tradisi bertukaran kartu diperluas dan termasuk pula pemberian segala macam hadiah, biasanya oleh pria kepada wanita.

    Hadiah-hadiahnya biasa berupa bunga mawar dan cokelat. Mulai tahun 1980-an, industri berlian mulai mempromosikan hari Valentine sebagai sebuah kesempatan untuk memberikan perhiasan. Bahkan tumbuh berkembang menjadi sebuah kencan.

    Pertengahan bulan Februari dengan cinta dan kesuburan sudah ada sejak dahulu kala. Menurut tarikh kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari adalah bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera.

    Di Roma kuno, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus, dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai bagian dari ritual penyucian, para pendeta Lupercus meyembahkan korban kambing kepada sang dewa dan kemudian setelah minum anggur, mereka akan lari-lari di jejalanan kota Roma sembari membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Terutama wanita-wanita muda akan maju secara sukarela karena percaya bahwa dengan itu mereka akan dikarunia kesuburan dan bisa melahirkan dengan mudah.

    Pernikahan

    Dalam Islam, pernikahan merupakan suatu ikatan yang amat sakral (mitsaqan ghalidha). Tentu saja didahului melalui proses khitbah.
    (peminangan) sebelum akad nikah dilaksanakan.

    Dalam al-Qur’an, Allah SWT menegaskan; “Dan tidak ada dosa bagimu meminang perempuan-perempuan itu dengan sindiran atau kamu sembunyikan (keinginanmu) dalam hati.” (Surat Al-Baqarah, ayat 235)

    Sedangkan Rasulullah bersabda:
    “Jika kalian meminang seorang perempuan, jika mampu melihat sesuatu yang dapat membuat termotivasi menikahinya maka lakukanlah.” (HR Abu Dawud).

    Menjaga kehormanisa berbangsa dan bernegara dengan tetap mengedepankan Pancasila, maka Vakentine’s Day biarlah yang meyakini sebagai tradisi dan ajaran menjalankan.

    Bagi remaja dan pemuda Islam, maka memilih ajaran sesuai dengan syariat sekaligus menjaga harkat dan martabat wanita melakukan proses khitbah (peminangan), dalam proses penjodohan adalah penyelamatkan kekerasan seksual terhadap wanita yang akhir-akhir ini semakin merajalela.

    Mari menjaga Kebudayaan Pancasila dengan memaknai semua tradisi dan budaya sesuai dengan keyakinan karena memahami dan mengerti. Bukan hanya ikut-ikutan apalagi mengancam keberlangsungan kehidupan yang menyejukkan dan lebih kasih sayang karena menjaga ajaran. (dari berbagai sumber)

    Reporter :
    Penulis :
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber : WartaTransparansi.com

    KOMENTAR

    Berita Menarik Lainya

    Jangan Lewatkan