Senin, 24 Januari 2022
31 C
Surabaya
More
    EkbisPenjual Tahu Tek asal Surabaya di Mataram Protolan SMK
    Oleh : Djoko Tetuko, Pemimpin Redaksi Wartatransparansi

    Penjual Tahu Tek asal Surabaya di Mataram Protolan SMK

    Kisah Pemuda Pelaku Usaha Mikro Nekad Merantau

    MATARAM, Wartatransparansi.com – Mazda nama keren penjual Tahu Tek (Tahu Telor Tek) dan Gado Gado asal Surabaya, di kawasan Pancausaha Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), mengaku nekad merantau mengadu nasib berjualan ke luar pulau setelah gagal menyelesaikan sekolah di SMK.

    Mazda Bagus Rudy Setiawan (22 tahun), sambil menghaluskan bumbu Tahu Tek mengisahkan bahwa sudah 3 tahun ini berjualan Tahu Telor Tek ikut pak De Eko, yang tinggal di kawasan Monjok Kecamatan Selaparan, Mataram.

    “Saya sudah 3 tahun jualan Tahu Tek,, sejak sebelum ada Covid-19, mangkal di depan Lombok Raya ini dan persis di toko oleh-oleh khas Lombok,” kata Mazda panggilan akrabnya, Selasa malam (14/12/2021).

    Baca juga :  Khofifah Minta Pemda dan APRINDO Awasi Pasokan Minyak Goreng

    Mazda menceritakan, kehidupannya semasa kecil tinggal di Simo Mulyo Surabaya, tetapi setelah orangtua berpisah, maka ia ikut sang ibu di kawasan Cikini Jakarta.

    “Saya sekolah SD di SD Gondangdia Cikini, dan SMP di Yapermas belakang gedung proklamasi,” ujar pemuda asal Surabaya ini.

    Kemudian setelah lulus SMP, lanjut dia, kembali ke Surabaya ikut sang Kakek Sujadi (biasa dipanggil Pak To) dan almarhumah nenek Sumarsih. Tetapi pada saat magang di salah satu show mobil kemudian pindah ke percetakan, mrotol (berhenti, red) sebelum lulus dari SMK Pawiyatan Simo Surabaya.

    “Waktu itu, seperti ada yang tidak cocok, jadi tidak melanjutkan. Tetapi sekarang juga sudah tidak ingin sekolah lagi, jualan saja,” tuturnya sembari senyum.

    Baca juga :  Pemprov Jatim MoU Dengan IPB Tingkatkan SDM Pertanian

    Mengadu nasib ke Mataram NTB mengikuti jejak keluarga, termasuk ayahnya yang sudah lebih dahulu jualan nasi goreng di Bima NTB. “Bapak namanya Ngatiman asli Mojokerto dan ibu Sri Hidayati, saya anak pertama,” ujar pria lajang yakin dengan memilih mencari nafkah dengan jualan Tahu Tek.

    Mazda mengaku, jualan Tahu Tek sebagai pelaku usaha mikro dengan sistem setoran dengan prosentase lumayan cukup untuk kebutuhan hidup. Sehingga menekuni jualan ini dengan suka cita.

    “Ya Alhamdulillah sejak masa pandemi dan Lombok Raya tutup memang agak kurang pembelinya, dibanding saat sebelum Covid. Tetapi masih mampu menghabiskan 9 lontong dengan ukuran bisa untuk 5-6 piring atau porsi,” tutur Mazda mengakhiri cerita. (Djoko Tetuko)

     

    Reporter :
    Penulis :
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber :

    KOMENTAR

    Berita Menarik Lainya

    Jangan Lewatkan