Kamis, 2 Desember 2021
25 C
Surabaya
More
    Pojok TransparansiBahasa Indonesia di Media Pers, Perjuangan Jurnalis Tabrani

    Bahasa Indonesia di Media Pers, Perjuangan Jurnalis Tabrani

    Oleh : Djoko Tetuko, Pemimpin Redaksi WartaTransparansi

    Penguatan Bulan Bahasa Oktober 2021, Jelang Satu Abad Bahasa Persatuan

    Bulan Bahasa pada Oktober 2021, tidak berlebihan mengenang kembali perjuangan jurnalis Mohammad Tabrani Soerjowitjirto (10/10/1904) menjelang “Satu Abad” menjadi perintis penggunaan bahasa Indonesia pada media pers.

    Jika Kongres Pemuda I (30 April – 2 Mei 1926) di Loge Ster in Het Oosten (Loji Bintang Timur) Batavia, menjadi titik awal bahasa Indonesia menjadi bahasa pers (media pers) sebagai bahasa persatuan dan bahasa kebangsaan, ketika 95 tahun lalu masih membutuhkan perintis dan pendobrak untuk merekatkan bangsa Indonesia yang begitu majemuk dengan ribuan suku dan bahasa daerah, dengan kekuatan kebudayaan daerah serta fanatisme adat istiadat.

    Jurnalis Tabrani dari Pamekasan Madura, Jawa Timur, sebagai salah satu tokoh Jong Java ketika Kongres Pemuda I itu, mampu meyakinkan bahwa bahasa Indonesia akan menjadi kekuatan pemersatu bangsa Indonesia.

    Tabrani berani
    berbeda pendapat dengan Mohammad Yamin yang memperjuangkan bahasa persatuan ketika itu dengan bahasa Melayu. Tetapi sang jurnalis dari Pamekasan Madura itu dengan penuh keyakinan memperjuangkan bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan dan bahasa pada media pers.

    Perjuangan Jurnalis Tabrani patut mendapat penghargaan tertinggi sebagai Pahlawan Nasional, karena mengusulkan bahasa persatuan ialah bahasa Indonesia, juga penguatan pada media pers.

    Tentu saja hal itu didasari pendidikan jurnalis Tabrani yang cukup mumpuni pada masa itu, yaitu di MULO dan OSVIA Bandung. Bahkan sejak lulus pada tahun1925 mulai minat menjadi jurnalis dan sudah mendapat kepercayaan memimpin harian Hindia Baroe, kemudian ketika melanjutkan kuliah di Univeritas Koln (universitas zu Koln) membantu beberapa surat kabar Indonesia pada periode 1926-1930.

    Kelebihan jurnalis Tabrani sebagai pemuda pada masa sulit dan suasana penjajahan, dengan
    segelintir pemuda Indonesia tertarik menekuni dunia jurnalistik. Yaitu tercatat ada Dajmaluddin Adinegoro, Jusuf Jahja dan Tabrani.

    Sebagai jurnalis Tabrani berhasil meyakinkan bahwa bahasa pergaulan sekaligus bahasa persatuan ialah bahasa Indonesia. Juga menjadi bahasa media pers atau bahasa karya jurnalistik hingga sekarang sudah membumi menjadi kekuatan bangsa Indonesia dan rumpun Melayu.

    Konsep bahasa kebangsaan sebagai pemersatu nusantara, sebagai bahasa pergaulan di masyarakat Indonesia pada masa perjuangan menuju kemerdekaan terutama melalui karya jurnalistik, mampu mematahkan pendapatan M. Yamin yang ingin menjadikan bahasa. Melayu sebagai bahasa pergaulan.

    Jurnalis Tabrani anak ketiga dari sembilan bersaudara dari pasangan R.Panji Soeradi Soerowitjitro dan R.Ayu Siti Aminah.

    Bapak Bahasa Jurnalis Indonesia

    Perjalanan
    Tabrani dalam menekuni dunia jurnalis tercatat menjadi pemimpin majalah Reveu Politik di Jakarta dari tahun 1930 hingga 1932, pemimpin surat kabar Sekolah Kita di Pamekasan dari tahun 1932-1936, dan menjadi direktur sekaligus pemimpin Harian Pemandangan dan Mingguan Pembangoenan.

    Ketika memimpin Reveu Politik, Tabrani membawakan kepentingan PRI atau Partai Rakyat Indonesia yang didirikan sendiri. PRI mendapat tentangan keras dari golongan pemuda mahasiswa yang menganggap PRI kurang revolusioner.

    Selain itu, kehidupan Tabrani tidak bisa dilepaskan dari Surat kabar Pemandangan.
    Dimana pada periode, Juli 1936 hingga Oktober 1940 dan Juli 1951 hingga April 1952. menjabat sebagai pemimpin redaksi.

    Melalui surat kabar Pemandangan, Tabrani memperjuangakan Petisi Sutardjo yang berisi tuntutan kepada Pemerintah Hindia Belanda agar Indonesia diberi kesempatan membentuk parlemen sendiri pada tahun 1936.

    Pada tahun 1940, Tabrani bergabung dengan Dinas Penerangan Pemerintah bagian Jurnalistik dan selanjutnya pindah ke bagian kartotek dan dokumentasi.

    Pada tahun yang sama, Tabrani menjabat sebagai ketua umum PERDI atau Persatuan Djurnalis Indonesia di Jakarta periode 1939 hingga 1940.

    Ketika Indonesia Merdeka, jurnalis Tabrani sempat mengelola koran Suluh Indonesia milik Partai Nasional Indonesia. Dalam perjalanan hidupnya, Tabrani ikut mendirikan Institut Jurnalistik dan Pengetahuan Umum bersama Mr. Wilopo di Jakarta. Murid-muridnya antara lain Anwar Tjokroaminoto dan Sjamsuddin Sutan Makmur.

    Tabrani wafat di Jakarta,12 Januari 1984 pada usia 80 tahun dan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

    Jurnalis Tabrani lebih tepat sebagai bapak bahasa jurnaistik Indonesia, karena pejuangnya menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan Indonesia.

    Atas jasa kecerdasan dan kejelian, menjadi jurnalistik pada masa perjuangan, mengusulkan bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan, maka layaklah mendapat penghargaan tertinggi sebagai bapak bahasa jurnalistik Indonesia dan Pahlawan Nasional.(*)

    Reporter :
    Penulis :
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber :

    KOMENTAR

    Berita Menarik Lainya

    Jangan Lewatkan