Rabu, 22 September 2021
33 C
Surabaya
More
    Pojok TransparansiGrand Design Olahraga Nasional Harapan, Impian atau Kenyataan
    Oleh : Djoko Tetuko, Pemimpin Redaksi Wartatransparansi

    Grand Design Olahraga Nasional Harapan, Impian atau Kenyataan

     

    Haornas 2021, Jadikan Gerakan Pembinaan Olahraga Prestasi Tertinggi dengan Hati

    Hari Olahraga Nasional (Haornas) 9 September 202, kembali menjadi tetenger bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia masih serius membina olahraga. Hal itu dengan deklarasi “Grand Design Olahraga Nasional”.

    Grand Design Olahraga Nasional lebih muda ikut istilah Orde Baru ialah Garis-Garis Besar Olahraga Nasional (GBON). Dimana perencanaan olahraga selama 4-5 tahun ke depan sudah dirancang dengan cermat. Melalui analisa, monitoring, dan evaluasi (Amonev) pada puncak penilaian prestasi olahraga nasional di perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON).

    Tentu saja selain PON sebagai titik kulminasi pembinaan olahraga nasional, maka melakukan catatan atas prestasi pada kejuaraan nasional (kejurnas) atau event nasional, lokal (provinsi dan kabupaten/kota) sepanjang ada prestasi luar biasa juga patut diperhatikan. Sehingga rencana pembinaan olahraga lima tahun terpantau dengan baik.

    Tidak kalah penting pembinaan olahraga jangka panjang, jangka sedang, jangka pendek, dan pemusatan latihan khusus peningkatan prestasi serta pembinaan usia dini. Dengan memperhatikan masalah kebutuhan pokok atlet, minimal (kehidupan layak, pendidikan khusus, dan masa depan terjamin) dengan hati nurani bukan mengumbar janji.

    Mengapa kebutuhan pokok atlet menjadi masalah utama? Sudah terlalu banyak pengalaman ketika pengurus olahraga atau pembina olahraga sudah tidak mengetahui, memahami, menjiwai, dan mengerti kebutuhan pokok atlet, maka rencana pembinaan sehebat apapun hanya sekedar konsep besar hebat, “catatan hebat”, perencanaan hebat, mungkin melalui SWOT Analisis sangat hebat pula. Akan sia-sia dan hanya menjadi rencana saja. (Maaf) tanpa kenyataan.

    Baca juga :  FlyDoc, Ambulance Terbang Indonesia

    Demikian juga Grand Design Olahraga Nasional (GDON), jika hanya memfokuskan pemusatan latihan saja, maka akan mengulang kegagalan demi kegagalan sebelumnya.

    Menpora Zainuddin Amali mengatakan, di dalam Grand Design Olahraga Nasional sasaran utama Indonesia adalah olimpiade. Di grand design tersebut, para atlet dari cabang olahraga unggulan akan ditempatkan di satu training camp di Cibubur.

    Sebagaimana penjelasan Menpora Zainuddin Amali, di Ruang VIP Lt.10 Kemenpora, Rabu (11 Agustus 2021).
    Di training camp tersebut tempatnya lengkap, ada tempat penginapan atlet, sport science dan berbagai hal kebutuhan atlet dari mulai latihan fisik, mental, gizi, termasuk sekolahnya akan mendapat perhatikan bagi atlet yang masih sekolah, sehingga para atlet hanya fokus latihan.

    Sekali lagi sekedar mengingatkan bahwa konsep seperti GDON atau lainnya, Indonesia paling jago membuat dengan memaparkan secara teoritis, bahkan target maupun pencapaian menjadi juara SEA Games, Asian Games, dan Olimpiade.

    Sekali lagi sekedar mengingatkan bahwa sudah banyak konsep besar itu menjadi harapan belaka, tidak mampu mewujudkan karena permasalahan hilir olahraga dibiarkan. Terkaget-kaget ketika juara, dan kembali membiarkan setelah atlet purna.

    Sekali lagi sekedar mengingatkan konsep besar itu, hanya menjadi impian. Dan terus menjadi impian bertahun tahun karena persoalan pokok kehidupan atlet tidak terjaga.

    Sekali lagi sekedar mengingatkan bahwa medali emas ganda putri Greysia Poli’i / Apriyani Rahayu di Olimpiade Tokyo 2020, bukan harapan dan impian, tetapi kenytaaan.

    Baca juga :  FlyDoc, Ambulance Terbang Indonesia

    Sekedar mengingatkan membuat prestasi menjadi kenyataan sudah berulang kali meleset dari perkiraan, dan yang tidak diharapkan tiba-tiba Allah SWT memberikan “hadiah”. Dalam waktu sekejap mengharumkan nama bangsa dan negara.

    Sekedar mengingatkan bahwa pembinaan olahraga akan mengalami sukses gilang gemilang, jika dari hilir sampai hulu mendapat perhatian khusus dengan konsep negara hadir. Negara bukan sekedar tampil seremonial dan cenderung konvensional.

    Negara hadir atau pemerintah hadir ialah dengan melakukan gerakan massal pembinaan olahraga nasional dengan konsekuensi ditanggung negara dan pemerintah secara bersama-sama gotong royong, menjadi tanggung jawab seluruh bangsa dan negara Indonesia.

    Salah satu gerakan pembinaan olahraga nasional, maka pembinaan dan prestasi olahraga diserahkan satu kementerian, yaitu Kementerian Pemuda dan Olahraga (dengan mata anggaran olahraga tersendiri) bersama Dinas Olahraga dan KONI Pusat hingga daerah.

    Sehingga tidak ada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) mengurusi olahraga. Menganggarkan kegiatan olahraga yang pada akhirnya sering terjadi benturan dengan jadwal pembinaan olahraga atau rekrutmen atlet berprestasi.

    Pengalaman sudah membuktikan bahwa Pekan Olahraga Kabupaten/Kota, Pekan Olahraga Provinsi tanpa sentuhan pembinaan. Padahal dari sinilah pembinaan mulai mendapat perhatian dan pengkhususnan dengan penanganan khusus pula.

    Misal, atlet Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah berprestasi pada usia 10-12 tahun dengan bakat dan potensi berkembang menjadi atlet nasional dengan prestasi regional hingga dunia, maka sudah diikat dengan pemberian penghargaan.

    Baca juga :  FlyDoc, Ambulance Terbang Indonesia

    Mendapat beasiswa, mendapat jaminan kehidupan, orangtua si atlet mendapat penghargaan dan perhatian yang secara nasional nilainya sama. Juga mendapat kemudahan dalam pendidikan (mendapat pendidikan khusus) dengan maksud dan tujuan fokus pada peningkatan prestasi.

    Perlakuan yang sama juga untuk atlet prestasi tingkat SMP/Tsanawiyah, SMA/SMK/Aliyah, juga perguruan tinggi. Bahkan masa depan atlet hingga masa pensiun sudah diatur sedemikian rupa. Sehingga ketika atlet ditemukan bakat dan potensinya sejak usia dini, maka terus secara berkesinambungan mendapat pola pembinaan secara profesional dan proporsional.

    Training Centre (TC) tidak harus di Jakarta, tetapi membangun TC di daerah-daerah dengan sekolah olahraga minimal satu provinsi satu sekolah atau sementara waktu sambil menunggu perkembangan (secara bertahap) di bagi menjadi 9 lokasi TC dengan pembagian (3 di Indonesia bagian barat, tengah dan timur) dengan fasilitas sama dengan rencana rencana Menpora membuat training camp di Cibubur.

    Mari membina prestasi olahraga dengan sentuhan secara totalitas, bukan sekedar seremonial dan hura-hura. Bukan sekedar memburu medali emas di PON, tetapi menghalalkan segala cara untuk membunuh proses pembinaan prestasi menuju prestasi tertinggi dunia.

    Haornas 2021, mari menjadikan kesadaran seluruh anak bangsa membina prestasi olahraga dengan sungguh-sungguh secara totalitas. Menata pola pembinaan prestasi dari usia dini hingga prestasi puncak nasional dan internasional. Negara dan bangsa menjadikan atlet prestasi “raja” dan “ratu” dan pengurus olahraga di mana saja siap melayani menuju peningkatan prestasi.

    Reporter :
    Penulis :
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber :

    KOMENTAR

    Berita Menarik Lainya

    Jangan Lewatkan